Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
18. Dinas Luar.


__ADS_3

Gandhi tertidur di sofa rumah sakit, namun Rival masih terjaga, Ia sungguh tidak tega dengan keadaan Shila. Tengah malam Shila mengerjap dan mulai mual lagi. Hormon Hcg Shila ternyata memang tinggi, belum lagi memang masalah psikis membuat mual sangat menyiksanya. Shila mencoba bangun tapi badannya sangat berat.


"Shila pusing bang, badan Shila sakit semua"


"Muntahkan disini saja!"


"Nggak bang, Shila mau ke toilet"


Rival membantu Shila daripada istrinya ngambek lagi. Baru menginjakan kaki ke lantai, Shila sudah memuntahkan cairan yang Rival lihat sangat menyakitkan.


"Maaf bang" ucapnya pelan merasa sangat bersalah, tapi kemudian muntah lagi.


"Sudahlah jangan pikirkan hal sepele. Nanti Abang bersihkan" kata Rival sambil mengusap punggung Shila. Air mata mulai keluar dari mata Shila karena tekanan dalam perutnya tidak bisa keluar.


"Sakit sekali Abaaang" rintihan Shila membuat perasaan Rival sangat sakit.


"Sayangnya Abang laki-laki. Kalau Abang ini perempuan pasti Abang akan merasakannya juga. Sabar ya!!"


***


Pagi ini Shila sudah bisa pulang, tapi kecemasan Rival belum usai. ia mendapat tugas Dinas khusus.


flashback on


"Kapten Rival.. tugas kemarin sudah saya serahkan pada anggota lain. Sekarang ada tugas luar yang harus diselesaikan. Masuk kelompok separatis. Kamu sanggup???"


"Siap.. sanggup" tegas Rival.


Ini lebih baik daripada berhadapan dengan wanita. Bisa-bisa Shila membantingku di tempat kalau aku kerja seperti kemarin.


"Target lima bulan selesai"


"Siap!!"


---------


"Istri Abang bagaimana??" tanya Oka.


"Itulah.. bingung Abang harus meninggalkan Shila, kita tidak bisa menghubungi keluarga selama penugasan. Shila pun masih mabuk awal kehamilan begini. Belum lagi harus mengurus anak Abang yang aktif. Pusing Abang" keluh Rival.


"Saya belum menikah saja ikut bingung" kata Oka.


"Mau tidak mau Abang akan minta bantuan Papa Randy dan mama Naya" pasrah Rival.


"Itu akan lebih baik bang"


flashback off


***


"Dek.. Abang harus berangkat dinas. Kamu kuat nggak Abang tinggal dinas? Abang mohon jangan marah lagi. Jaga anak kita. Janji ya"


"Insya Allah kuat bang. Shila janji" Rival tersenyum mendengar nya.


"Abang kerja apa?"


"Yang jelas tidak berkaitan dengan wanita" kata Rival, tangannya terus menggenggam tangan Shila.


"Shila percaya Abang" senyumnya.


***

__ADS_1


Hari ini Rival, Oka dan beberapa anggota lain berangkat, hanya membawa beberapa pakaian dan ponsel untuk kerja Rival. Suami Shila itu menanggalkan seluruh identitas dan ponsel pribadi miliknya. Selama beberapa hari menunggu Shila di rumah sakit, kumisnya mulai tumbuh, ia membiarkan nya sebagai bahan penyamaran.


"Titip Shila ya ma.. pa!!" kata Rival berat meninggalkan Shila yang masih lemah.


"Iya..Shila aman sama mama dan papa" jawab Naya.


"Abang pergi ya sayang. Abang usahakan secepatnya menghubungi kamu. Jaga kesehatan. Abang akan selesaikan pekerjaan ini dengan cepat biar bisa nemenin kamu" bujuk Rival yang melihat Shila hampir menangis.


--------


Kapal berlayar.. Rival menuju suatu tempat di ibukota Kalimantan........


"Hai bro..." sapa Rival di sebuah gudang tua. di sudut kota.


"Apa kabar boss???" sapa teman lama Rival.


"Ya seperti yang elu lihat ini. Gue bawa gerombolan buat lu dandanin" perintah Rival.


"Siap.... gambar apa yang lu mau??" tanya pria yang akrab di sapa 'Bagong' itu.


"King Cobra" jawab Rival.


------


Rival menghisap rokoknya kuat, di lihat lengan yang terlukis gambar King Cobra dan dadanya tergambar mawar yang terkesan jantan. Ada inisial huruf S disana dan ada huruf Y yang hampir tak terlihat.


Istriku.. bidadariku.. tetaplah disini.. di hati Abang. Abang pergi sebentar saja dan akan kembali utuh hanya untuk kamu.


"Abang sangar betul" Oka melihat penampilan Rival yang tidak menunjukkan identitas nya sama sekali. Rival memakai kamera yang berupa anting kecil di telinganya.


"Kalau saya pakai rok nanti kamu taksir" jawab Rival.


"Kami siap Dan!"


'Hey.. jaga bicaramu!!!!!!!" tegur Rival.


"Kami siap bang!" ulang mereka.


"Ayo jalan!!!!" kata Rival mantap sambil membuang puntung rokok ke sembarang arah.


***


Rival mendekati target seakan ia seorang preman. Oka menjadi pedagang bakso. Rival bertindak sebagai orang yang hilang arah dan Oka menolongnya, anak buah Rival memanasi suasana agar perhatian target teralihkan pada sosok Rival.


"Kamu darimana?" tanya seseorang menyapa Rival.


"Dari kampung sebelah" Rival membuat pandangannya kosong.


"Ikut kami!!!" ajak pria itu.


--------


Rival mengikuti pria tersebut sampai ke sebuah padepokan. Disana melihat ada perkumpulan seperti orang sedang mengadakan rapat. Pria yang membawa Rival tadi mengajak Rival untuk berkenalan dengan sekumpulan orang itu.


"Anak muda, maukah kamu bergabung bersama kami" tanya seorang pria berperawakan tinggi kurus, berambut gimbal.


Rival hanya menganggukkan mengiyakan.


"Baiklah karena kamu sudah menjadi anggota kami. Saya ajak kamu ke kamar mu untuk beristirahat agar besok kita bisa bekerja dan berpikir jernih" ucap seorang bernama Togar.


"Oke.." jawab Rival singkat.

__ADS_1


Rival berjalan bersama Togar ke sebuah kamar. Togar menyapa Rival.


"Siapa namamu?"


"Rio.." jawab Rival.


"Punya istri??" tanya Togar.


"Ada.." jawabnya singkat.


"Hmm.. Kamu pendiam sekali, tapi tak apa. Disini ada anak 'panglima' yang belum menikah. Barangkali kamu tertarik"


"Dua istri cukup"


Jawaban Rival membuat Togar tertawa.


"Diam-diam punya dua istri. Begitu lah laki-laki"


M**amu... Kau tak tau susahnya saat istri sedang cemburu.


***


Rival mengikuti beberapa pertemuan dalam beberapa hari ini. Saat keluar dari ruangan, ada seorang gadis menabraknya.


"Maaf Kang" ucap gadis itu.


"Iya, nggak apa-apa" jawab Rival lalu pergi meninggalkan gadis itu.


Panglima melihat senyum anak gadisnya dari jauh lalu mendekati nya.


"Lyla.. kamu suka sama si Rio itu?" tanya panglima. Lyla hanya tersenyum malu. Panglima mengerti arti dari senyuman putrinya.


"Dia sudah punya istri. Nanti ayah akan bicara langsung dengannya" kata panglima.


"Iya ayah" senyumnya menunduk.


***


"Rio, terus terang putriku menyukaimu. Apa kamu bisa menerimanya??"


"Yang mana?" tanya Rival datar.


"Yang tadi siang menabrakmu"


"Saya sudah punya istri" jawab Rival.


"Saya tau istrimu dua. Tidak masalah kamu punya satu lagi, lagipula dia jauh disana" bujuk panglima.


"Maaf saya tidak bisa" tegas Rival.


"Apa putri saya tidak cukup cantik???" kesal panglima.


"Bukan masalah cantik atau tidaknya. Ini masalah hati. Maaf panglima, saya masih ada janji dengan bang Togar" pamit Rival.


"Kamu pria yang baik, istrimu pasti bahagia mendapatkan mu" gumam panglima dengan pasrah, tapi saat menoleh pada Lyla dan putrinya itu menangis. Hati seorang ayah menjadi tersentuh.


"Sabar Lyla, ayah akan membujuknya sekali lagi"


.


.

__ADS_1


__ADS_2