Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
67. Rasa terpendam.


__ADS_3

"Abang tampar kamu kalau bicara yang tidak-tidak" tegur Rival.


Semua tatapan mata tajam mengarah pada Naura.


"Apaan sih kalian. Naura hanya bercanda" katanya mulai menciut takut apalagi melihat tatapan mata Abang Rival.


"Iya..iya.. Naura salah.. Ini isi lemak, usus, dan kawan-kawan"


"Maaf mbak Shila, Naura memang adik sepupu Abang Rival" kata Naura mengaku.


Shila menoleh ke arah Rival yang masih merasa cemas melihatnya. Takut Shila akan berpikir macam-macam.


"Abang khan sudah bilang, dia sepupu Abang. Kamu nggak percaya sama Abang sih" kata Rival.


"Apa lu liat-liat. Nggak pernah lihat cewek cantik ya" kata Naura melihat Oka yang masih terus menatapnya.


Pak Suherman menoleh ke arah Oka yang tidak menjawab apa-apa, mungkin sungkan karena tau ia papanya Naura.


"Ya sudah, cepat sehat ya sayang. Om kembali dulu" pamit Pak Suherman pada Shila.


"Iya om, terima kasih banyak" jawab Shila.


"Lettu Oka, tolong nanti antar anak saya pulang ya!" perintah Pak Suherman.


"Siap laksanakan" jawab Oka.


"Nggak.. Naura mau pulang sendiri saja" teriak Naura.


Pak Suherman tidak menggubris ucapan putrinya. Ia terus berlalu.


Naura mengambil tasnya dan berniat pulang sendiri.


"Tunggu.. kamu pulang sama Abang!!" kata Oka tegas.


"Nggak mau"


"Kamu pikir Abang suka mengantar wanita bermulut beo sepertimu. Kalau bukan karena perintah papamu. Kamu sudah Abang lempar ke jalan" kesal Oka.


Rival dan Shila saling pandang, tapi kemudian mereka menahan senyum.


"Mau pulang tidak?" tanya Oka.


Naura kesal dengan Oka, tapi ia tidak menjawab Oka lagi.


"Mau pulang apa tidak?" tanya Oka sekali lagi.


"Mau bang" jawab Naura melemah.


Oka melepas jaketnya lalu melempar ke pangkuan Naura.

__ADS_1


"Pakai!!!"


Naura menghentak hentakan kakinya hingga jaket itu jatuh lalu menendangnya. Nampak jelas di pandangan Oka, sesuatu yang tersembunyi disana. Kaki yang belum juga berhenti menghentak.


Oka memalingkan wajah menahan sesuatu yang berdesir dalam dada lalu mendekat ke arah Naura, mengambil jaketnya yang di tendang Naura.


"Kamu itu perempuan. Abang berusaha jaga pandangan, apa kamu pikir tidak bahaya malam-malam ada perempuan dengan pakaian minim kelayapan seperti ini. Kalau ada laki-laki memandangmu buruk, kamu bilang kami ini b******n, tapi kamu sendiri yang mengundang celaka" kata Oka lalu menyampirkan jaketnya menutup tubuh Naura.


"Ayo Abang antar. ini sudah tengah malam" ucapnya lebih lembut.


Naura menoleh ke arah Rival. Rival pun mengangguk agar Naura pergi bersama Oka.


-_-_-_-


"Kemarin Abang kemana?" tanya Shila.


"Kerja sayang" jawab Rival. Ia tau Shila pasti curiga kenapa bisa ada dia dan Naura di rumah sakit.


"Kenapa nggak bilang Shila?" tanya Shila curiga.


"Ada beberapa pekerjaan Abang yang harus di rahasiakan sayang"


"Termasuk pada Shila?" tanya Shila lagi.


"Iya, termasuk sama kamu. Istri Abang sendiri" jawab Rival menatap mata Shila. Sungguh sebenarnya ia sangat tidak tega harus membohongi istrinya. Tapi Rival tidak ingin Shila berpikir terlalu dalam. Kasihan anak dalam kandungan Shila.


***


"Abang akan cari assisten untuk membantumu" kata Rival.


Shila menoleh seolah tidak setuju dengan keputusan Rival.


"Abang di tawari asisten dari Pak Nugi, yang sudah setengah baya. Bukan gadis, ibu rumah tangga atau janda. Kerabat pak Nugi sendiri" kata Rival memperjelas.


"Terserah Abang lah"


***


Sore hari seorang ibu setengah baya datang ke rumah Rival. Shila sedang duduk memijat keningnya saat itu.


"Assalamu'alaikum pak"


"Wa'alaikumsalam" Rival membuka pintu rumahnya. Ada ibu setengah baya di depan pintu rumahnya.


"Saya bi Iroh. saudara Bu Wisnu" kata bi Iroh.


"Masuk dulu Bi. Bukannya bibi ini saudaranya Pak Nugi ya?" tanya Rival memperjelas.


"Benar pak, Pak Nugi juga masih ada saudara dengan Pak Wisnu" jelas bi Iroh.

__ADS_1


"Mohon maaf Bi saya tidak bisa menerima bibi. Saya tidak mau terlibat hal apapun lagi dengan Istri atau Pak Wisnu sekali pun" tegas Rival.


Bi Iroh berlutut di hadapan Rival. Ia memohon agar Rival tetap bekerja disana.


"Bibi mohon pak, bibi butuh sekali pekerjaan ini untuk keluarga bibi" kata bi Iroh.


Shila menyentuh lengan Rival.


"Sudah bang, Nggak apa-apa. Yang bermasalah khan Bu Wisnu. Kasihan bibi"


"Tapi perasaan Abang nggak enak dek" kata Rival.


"Tenang lah bang"


"Ya sudah kalau itu maumu" kata Rival.


"Ini istri saya yang minta bi. Ada apa-apa bibi langsung berurusan dengan istri saya saja"


"Terima kasih pak, Bu" kata bibi.


Rival meninggalkan bibi dan Shila agar mereka leluasa berbicara sebagai sesama wanita.


***


Oka duduk di ruangan sendirian, sejak pulang mengantar Naura, pikirannya tidak fokus. Bayangan Naura seakan menari dalam kepalanya.


"Mana laporan mingguan?" tanya Rival pada Oka yang tidak mengerjakan apapun di mejanya.


"Oohh..ehm.. Ini bang, masih di proses" jawabnya gugup.


"Mana? Laptop mu saja mati" tegur Rival.


Oka menggaruk kepalanya, bingung karena memang laporannya belum selesai.


"Apa saja kerjamu sejak tadi. Kebanyakan liat bokep ya kamu, jadi terbayang yang aneh-aneh" ledek Rival.


"Nggak bang, suer ✌️" jawab Oka.


"Jangan-jangan kamu kepikiran Naura" kata Rival.


"Aahh.. Abang ada-ada saja. Saya nggak mau berurusan dengan beo betina itu" ucap Oka gengsi sambil tersenyum, namun tak bisa ia sembunyikan wajahnya yang memerah di balik kulitnya yang jauh dari warna cerah.


"Lamar lah kalau mau" tantang Rival.


"Nggak bang! Kalau saya sampai lamar Naura, saya akan makan lima belas macam sambal super pedas" ucap Oka dengan sombongnya.


"Oke.. catat itu" kata Rival menahan tawanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2