Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
98. Suasana tugas


__ADS_3

Pratugas sudah selesai, Hari ini Rival berangkat ke Kongo. Hasil pemeriksaan medis menunjukan Rival sehat tanpa hambatan. Tentu ini adalah kabar baik yang membuatnya begitu bahagia.


"Abang sudah santai?" tanya Shila karena baru mendapat kabar dari suaminya tengah malam.


"Iya, ini Abang persiapan penerbangan untuk besok pagi. Tapi Abang sempatkan hubungi kamu dulu. Ada kabar baik sayang" kata Rival membuat Shila disana tersenyum bahagia.


"Apa bang?"


"Abang sehat dan baik-baik saja. Jadi selama Abang di Kongo, kamu nggak perlu cemas berlebihan. Doakan Abang sehat sampai kembali lagi"


"Alhamdulillah bang! Shila senang dengarnya" senyum Shila mengembang mendapat kabar bahagia dari suaminya.


"Yank.. Abang pengen video call sebentar. Kangen!!" ajaknya merendahkan volume suara agar tidak terdengar anak buahnya.


"Disana khan rame bang!" tanya Shila yang tau kemana arah 'kangen' suaminya.


"Abang masuk kamar Abang lah" ajaknya sambil masuk ke dalam kamar.


Shila masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


"Bagaimana kabarmu hari ini?"


"Shila baik bang! Abang bagaimana disana?" tanya Shila menatap wajah suaminya di layar ponsel.


"Nggak baik sayang" jawab Rival sambil melepas kaos lorengnya lalu merebahkan diri di kasurnya yang hanya muat untuk satu orang saja.


"Abang sakit??" Shila mulai cemas memikirkan Rival.


"Iya, hati Abang yang sakit.. Rindu kamu" senyumnya.


"Shila juga rindu Abang" ucapnya menunduk, malu juga melihat wajahnya sendiri yang bersemu kemerahan.


"Masa??" goda Rival


"Mana buktinya??"


"Abang mau bukti apa?"


Rival tersenyum licik menaikan alisnya yang tebal.


***


Tiga bulan kemudian.


Suasana Kongo merasuk ke dalam jiwa Rival mengingatkan rasa rindunya untuk Yara dulu. Tapi kini makin hari rasa rindu itu semakin terasa untuk Shila. Dulu, ia membawa pangkat Lettu dan kini ia membawa pangkat Kapten. Suasana pun tampak berbeda. Sekarang lebih sering ada perselisihan antar penduduk, bahkan sering pula keributan di tengah pemukiman.


"Sudah makan siang bang?" sapa Gandhi melihat Rival hanya sibuk dengan urusan pekerjaan.


"Belum.."


"Makan dulu lah bang! Jaga kesehatan.. ingat anak istri menunggu" kata Gandhi mengingatkan.


"Gandhi.. Kamu tau nggak di distrik sebelah ada bom lagi?" tanya Rival.


"Saya baru dapat kabarnya bang"


"Berarti kita harus kirim orang untuk pengamanan sekitar" kata Rival.


"Siap bang"

__ADS_1


***


Sore itu Rival ikut patroli bersama anggotanya, ia ingin melihat langsung area terdampak bom.


"Distrik ini terlalu dekat dengan homebase kita. Pastikan pengamanan kita di perketat. Kenali tanda tidak stabil dari berbagai arah!" perintah Rival.


Mobil Rival kembali berjalan. Ada seorang ibu hamil berlari dari arah tikungan.


"Tolong!!!" teriaknya ( Anggap saja dalam bahasanya ya 🤭 ). Wanita itu dikejar beberapa pria bertubuh besar.


Rival keluar melompat dari mobil dan menenteng senjata di bahunya. Perusuh tersebut menembaki anggota Rival. Baku tembak pun terjadi. Tak lama para musuh mundur. Rival segera membawa wanita itu kedalam mobil.


"Bapak dari Indonesia?" tanya wanita itu.


"Iya, saya dari Indonesia. Ibu bisa bahasa Indonesia?" tanya Rival.


"Ya, suami saya dari Indonesia, tetapi suami saya sudah meninggal dua bulan yang lalu karena di bantai pemberontak" jelas wanita itu.


"Tapi wajah anda tidak asli seperti penduduk negara Kongo" tanya Gandhi.


"Iya, Bapak saya Jawa Indonesia, ibu saya Kongo"


Mereka pun mengerti. Rival tanpa sengaja melihat perut wanita itu, nampaknya ia sedang hamil.


"Anda sedang hamil?" tanya Rival.


"Iya, sudah delapan bulan" Wanita itu menunduk sendu.


"Siapa nama anda?"


"Panggil saya Nurma"


***


"Kamu juga menembak, memakai peluru sembarangan!!"


"Bang, dalam aturan memang tidak boleh. Saya juga tau aturan. Tapi tadi situasinya sangat mendesak, ada wanita hamil butuh pertolongan. Apa lantas kita diam saja dan menonton?" kata Rival.


"Tapi kalau ada baku tembak, bagaimana kalau ada serangan susulan. Saya tidak mau mati konyol"


"Lantas untuk apa kau di lantik menjadi tentara. Malah kita mati konyol kalau kita tidak membalas. Setor nyawa namanya. Kita sampai disini meninggalkan anak istri di rumah. Kita berangkat sehat wal Afiat kembali pun harus sehat selamat" kesal Rival.


"Terserah kau lah, ada apa-apa tanggung sendiri nanti'


"Siap" jawab Rival santai. Ia tak mau ambil pusing omongan Bang Malik


-_-_-_-


Rival melihat Gandhi membantu Nurma. Wajah Gandhi nampak cemas melihat Nurma disana. Rival menghubungi Shila.


"Assalamu'alaikum bang"


"Wa'alaikumsalam cantiknya Abang. Abang mau kasih tunjuk sesuatu" kata Rival diam-diam menunjukan perhatian Gandhi untuk Nurma.


Saat membalik layar kamera ternyata Gandhi sedang tidak disana.


"Abang video call Shila hanya untuk menunjukan wanita cantik itu. Begitu pekerjaan Abang disana??" kesal Shila.


"Cckk.. bukan!! Abang mau beritahu. Itu mantanmu si Gandhi, lagi dekat sama perempuan itu, namanya Nurma" jelas Rival sambil menyorot Gandhi yang sudah terlihat.

__ADS_1


"Mantan..mantan.. terus apa hubungannya sama shila.. Pak Dankiiii"


"Abang tenang sekarang, Abang nggak punya saingan lagi. Hahahaha..." tawa lepas Rival mengundang tawa anggotanya juga.


Rival melirik di sekitar nya. Dan anggota lain pun langsung mengulum tawanya.


"Jadi selama ini Abang masih punya dendam pribadi sama Bang Gandhi? Bukannya Abang yang merebut Shila ya?"


"Ya nggak lah, yang melamar kamu duluan siapa?? salah sendiri ada barang bagus nggak di sambar" ucap Rival membuat jengah.


"Oohh begitu, berarti bisa di artikan.. Abang punya perasaan ke Shila donk waktu itu??" senyum lembut Shila terasa datar.


"Iya, tanpa Abang sadari.. Abang punya perasaan sama kamu tapi dengan bodohnya Abang menolaknya"


"Sekarang bang???"


"Jangankan menolak, berpisah pun Abang tak mampu" bisiknya pelan.


-_-_-_-


"Bang, wanita hamil tuh suka apa ya?" tanya Gandhi ingin tau.


"Tanya lah maunya apa? Kenapa?? Suka sama Nurma??"


"Nggak juga bang, saya kasihan sama anaknya" ucap Gandhi menunduk.


"Embat mamanya sekalian juga boleh" kata Rival sengaja membuat Gandhi tidak jomblo lagi.


***


Satu bulan telah berlalu. Suara adzan di ponsel Rival berkumandang. Walaupun masih lelah dan mengantuk, Rival tetap melaksanakan kewajibannya.


Seusai sholat subuh terdengar langkah seseorang berlarian ke arah kamar Rival.


"Abang.. Bang Rival.." suara ketukan itu begitu kencang bahkan Rival belum sempat melepas sarungnya. Dengan langkah cepat Rival membuka pintu.


Rival melihat Gandhi dengan nafas hampir putus berseragam lengkap juga bersenjata di punggung nya.


Rival pun tanggap darurat mengambil senjata pribadi yang ia simpan di kamarnya.


"Abang mau kemana?" tanya Gandhi.


"Ada sesuatu yang genting khan sampai subuh begini kamu datang ke kamar Abang?" Rival balik bertanya.


"Iya bang!! Nurma mau melahirkan" jawab Gandhi.


plaaaaakk


Rival menepak helm Gandhi sekencangnya. Rival begitu kesal dengan Gandhi. "Lalu kenapa kamu kesini.. Bujang lapuuukk.. Harusnya kamu ke tempat Nurma dan menolongnya, bukan malah laporan sama Abang. Penting laporan atau nyawa????"


"Siap salah" Gandhi langsung berlari meninggalkan Rival. Rival pun ikut berlari mengikuti Gandhi.


Sudah beberapa langkah, ia pun berhenti. Rival menepuk dahinya.


"Astagfirullah hal adzim.. kenapa aku ikut bodoh?? Berlarian masih memakai sarung"


Rival pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dengan seragam dinasnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2