Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
20. Abang pulang dek!!


__ADS_3

Rival menata barang bawaannya yang tidak seberapa banyak itu.


"Abang yakin pulang dengan kondisi begini??" tanya Oka.


"Nanti saja dibereskan. Abang lelah ingin segera pulang" ucapnya mengikat kuat tas berisi beberapa barang yang dibeli untuk keluarga.


"Heh, Mahmud.. apa tidak ada yang mau kamu bawa untuk keluarga mu?" tanya Rival yang melihat Mahmud hanya diam saja.


"Ijin Dan.. keuangan saya sedang tidak stabil" ucapnya.


Rival mengeluarkan uang yang jumlahnya beberapa ratus ribu. Lalu menyerahkan pada Praka Mahmud.


"Jangan tersinggung ya. Kamu khan punya anak. Ada baiknya kamu belikan untuk anakmu. Setidaknya untuk 'menyogok' karena waktu papanya tidak banyak untuk anak" ucap Rival.


"Siap.. terima kasih banyak Dan"


"Masih banyak waktu, silahkan kalau mau beli oleh-oleh dulu. Siapa lagi yang kiranya masih ada keperluan seperti ini silahkan bilang ke saya" kata Rival.


"Siap tidak Dan.. terima kasih" jawab mereka kompak.


***


Rival melepas sepatunya dan berganti dengan sandal jepit setelah tiba di pelabuhan. Ada truk yang menjemput Rival dan anggota.


"Astaga bang, mantap.. gagah sekali" Zein menggeleng.


"Sekali-kali lah Zein" ucapnya sombong.


Truk pun melaju ke arah Batalyon. Rival sudah menghubungi Danyon tapi beliau sedang tidak di tempat sehingga Rival memutuskan untuk pulang saja.


***


Arben berlari ketakutan masuk ke dalam rumah Zein setelah melihat truk berhenti di depan rumahnya.


"Ada apa nak?" tanya Shila berteriak di dalam rumah.


"Hwaaaaaaaaa" Abrian menangis kencang kabur ke rumah Zein juga malah semakin menambah rasa takut di hati Shila. Shila pun berjalan ke ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi. Sampai di depan pintu.


"Ya Allah Abaaanngg" pekik Shila, Ia merosot duduk karena perutnya keram. Ia bersandar di sofa rumahnya yang juga takut melihat penampilan Rival. Suami Shila itu berkulit gelap terbakar matahari, tubuhnya lebih kurus, memakai baju tanpa lengan, celana pendek, sandal jepit dengan kulit bertato ular di lengan. Rival juga mengikat jambul rambutnya yang sembur warna pirang ke belakang lengkap dengan anting di telinga, kumisnya pun sudah terlihat tipis tajam.


"Apa yang sakit dek?" cemas Rival mencoba meraih tangan Shila, ia sudah rindu sekali pada istri nya itu.


"Jangan pegang Shila bang. Sebenarnya Abang kerja apa??? Apa Abang sudah di pecat dari kesatuan" tanya Shila takut. Oka sudah tertawa ngakak mendengar celotehan istri polos Danki.


"Abang pecatan paling ganteng tuh" celetuk Oka. Rival melempar badan Oka dengan bantal sofa hingga bantalnya terlempar ke tengah jalan.

__ADS_1


"Heh.. sembarangan aja kamu yank. Abang kerja" jawab Rival yang dengan sengaja ingin mencium Shila karena sudah terlalu rindu.


"Iihh Abang..bereskan dulu badan Abang. Abang kenapa pulang jadi begini sich bang???? Pakai tato, pakai anting. Abang nih" Shila menangis kesal tertelungkup di sofa.


"Iya..iya.. nanti Abang bereskan. Sabar!! Piye to dek, Bojo mulih kok malah Wedi" gemas Rival sambil menggoda mencari wajah Shila yang sedang disembunyikan istri nya itu.


***


Setelah makan malam dan membongkar semua buah tangan yang Rival bawa. Kedua bocah nakal itu tidur pulas. Kini giliran Rival memanjakan Shila.


"Sini anak papa cerita, selama papa tinggal nakal nggak?" tanya Rival.


"Nggak pa" jawab lembut Shila yang sudah mulai mau tiduran dalam dekapan Rival.


Rival menciumi tengkuk dan bahu Shila, tangannya mengusap perut Shila yang sudah mulai terlihat.


"Abang pengen anak cewek dek. Abang belum punya" gumam nya.


"Kalau laki lagi gimana bang?" tanya Shila ragu.


"Ya nggak apa-apa lah. Namanya juga rejeki, masa mau nolak" jawab Rival.


"Iya bang"


Rival semakin berhasrat begitu mencium wangi tubuh Shila, semakin nakal pula jemari Rival.


"Eleehh neng.. Abang pengen banget nih" pinta Rival dengan wajah menahan rasa berdesir naik dan turun dalam dada.


"Shila takut lihat penampilan Abang begini"


"Abang redupkan lampunya ya? Atau jangan liat Abang?" Rival tetap merayu memberi solusi tawar menawar.


"Tapi Shila ingin lihat wajah tampan Abang" ucap manja Shila tanpa sadar.


"Baru tau kamu kalau Abang ini tampan??" tawa Rival semakin gemas melihat pipi merah Shila. Rival mencium hangat bibir Shila.


"Shila ingin dengar Abang bilang cinta sama Shila"


Kata-kata Shila membuat Rival teringat dengan semua perkataan Yara, tapi kini hatinya tidak sesakit dulu lagi kala mengingat semua kenangan nya bersama Yara.


"Abang sayang kamu dek, dan akan selalu mencintaimu sampai Yang Maha Kuasa menghentikan nafas Abang, dan jika Abang boleh meminta..Abang ingin bersama bidadari Abang di surga nanti"


"Kamu juga bidadari kesayangan Abang. Tetaplah menemani Abang. Abang nggak bisa hidup tanpa kamu"


Rival mengecup lembut bibir Shila, tangannya menarik selimut menutupi tubuh mereka.

__ADS_1


"Biar rindu ini Abang selesaikan dulu!"


***


Rival pergi ke Batalyon bersama Shila masih dengan penampilan sangarnya. Mata para anggota dan istri tak lepas memandang Danki mereka yang berbeda dengan wajah datar dan tegas.


"Kamu mau olahraga atau ikut Abang dek?" tanya Rival.


"Abang mau kemana?"


"Hapus tato sama perbaiki penampilan Abang" jawabnya.


"Bisa ya bang??"


"Bisa lah, ini khan tidak permanen. Lagipula Abang risih dengar kamu nangis terus semalam. Abang lagi pengen-pengennya, nggak bisa di tahan.. kamu malah ngejer ketakutan liat Abang" ucapnya.


"Maaf bang ( Shila menunduk ). Nggak akan Shila ulangi. Nanti Shila ganti keselnya Abang. Jangan marah ya bang!!"


"Sudah keluar sekali, tapi masih kesel..nggak bisa nambah" bisiknya.


"Aaaahhh...Abang nih" teriak Shila gemas.


***


Praka Sony membalur cairan ke lengan dan dada Rival untuk menghilangkan tato di tubuhnya. Rival meringis menahan sakit dan panas. Sebenarnya tato itu bisa hilang sendiri, hanya saja membutuhkan waktu. Rival hanya ingin kebersamaannya dengan Shila tidak terganggu dengan rasa tidak nyaman sang istri.


Setelah selesai Rival mencukur rambutnya.


"Mau yang seperti apa dek?" tanya Rival.


"Seperti waktu kita menikah bang" ucapnya malu-malu. Rival tersenyum mendengar nya.


"0 1 kakatua dan hilangkan rambut pirang saya!!" perintahnya pada pencukur rambut Batalyon.


"Siap Danki"


***


Rival kembali memakai seragam nya dan sudah tampan bercermin di ruangan pribadi Danki.


"Ganteng nggak?" tanya Rival memainkan alis.


"Ganteng banget pa" jawab Shila yang masih memandangi wajah Rival.


Rival tersenyum salah tingkah, tapi senang sekali rasa hatinya mendengar panggilan 'papa' itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2