
"Abang ambilkan obat di ruang kesehatan dulu ya" Rival keluar dari ruang pengurus.
"Pak!!" Sapa Bu Anung.
"Iya Bu"
"Jangan kasih ibu obat yang berat, takut saja kalau ibu isi" peringatan Bu Anung.
"Oohh...iya Bu" tapi dalam hati Rival jadi cemas luar biasa, jantungnya berdetak kencang takut jika kata Bu Anung benar adanya.
---------
"Ada hubungan apa Abang sama mbak Azizah??" tanya Shila memelototi Rival yang sedang memasang sabuk di celana lorengnya.
"Panjang kalau diceritakan dek!" jawab Rival malas mengingat masa lalunya.
"Abang selingkuh dengan mbak Azizah???" tuduh Shila.
"Astagfirullah.. nggak dek. Abang nggak selera sama perempuan macam begitu" kesal Rival.
"Terus macam apa yang Abang suka? Kalau yang seperti mbak Yara nggak ada lagi" ketus Shila yang mulai menangis lalu berjalan pergi mau menemui Arben dan Abrian yang sedang bermain dengan Zein dan Oka di luar.
"Jangan mulai lagi. Kenapa kamu hanya menyakiti hatimu dengan mengingat Yara. Yara..dan Yara lagi yang akan kamu salahkan" tegur Rival.
"Karena Abang memang selalu mengingatnya"
"Nggak"
"Shila yakin bang"
"Nggak dek.. sudahlah.. Abang nggak mau berdebat" Rival keluar dari ruangan menghindari perdebatan dengan istrinya.
praanngg..
Baru beberapa langkah Rival berjalan terdengar suara vas bunga pecah dari ruangan Rival. Rival kembali lagi ke ruangan.
"Ya Allah dek.. Kenapa sih kamu ini sayang" panik Rival mengangkat Shila ke atas sofa dan menyangga kepala Shila di jaket yang ia lipat. Suara Rival membuat Oka dan Zein masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa bang??" tanya Oka.
"Shila lemas, jatuh disana tadi" paniknya sambil sembarang menunjuk. Rival menepuk pipi Shila yang kelihatan tidak bereaksi.
"Panggil orang kesehatan Zein.. cepat!!!!!!!"
"Kalem bang!" kata Oka.
"Jangan banyak bicara Oka!!!" tegas Rival.
__ADS_1
_____
"Ijin Danki. Sebaiknya ibu dibawa saja ke rumah sakit!"
"Parah kah sakitnya?" tanya Rival. Wajah cemasnya tidak bisa di kondisikan.
"Dokter lebih berkompeten Dan"
***
"Bagaimana dok?" Rival menggenggam erat tangan Shila.
"Nggak apa-apa Kapten" jawab dokter sambil tersenyum.
"Parah atau tidak dok?"
"Ya wajar lah, hamil muda sering lemas"
"Astaga Ya Allah. Kenapa kamu bisa hamil dek?" Sekarang Rival yang terduduk lemas dengan pertanyaan bodoh dan menyakitkan keluar dari bibirnya.
"Ya Abang yang buat. Gimana Abang ini??" celetuk Oka.
Shila bangun dan langsung mual dan terlihat sangat menyiksa. Rival mengusap punggung Shila, nampak raut wajahnya sangat sulit di artikan.
"Sakit sayang?" tanya Rival lembut namun suaranya terdengar berat dan sedih.
"Iya.. Abang tau. Sabar ya! Abang temani disini!!" ucap Rival menenangkan.
Dokter masuk dan menyerahkan obat untuk Shila minum agar tidak muntah semakin parah.
"Shila sakit apa bang" tanyanya pelan.
"Bu Danki sedang hamil lima minggu. Selamat ya Pak Danki, Bu Danki" kata Dokter.
Shila melihat ekspresi datar Rival, hal itu membuat Shila menjadi sangat sedih.
***
Hujan begitu deras mengguyur asrama lagi. Anak-anak tidur siang tapi tidak dengan Shila yang sedang menampung air bersama ibu-ibu yang lain. Petir terdengar keras, Shila sedikit takut dengan suara itu, tapi di banding dengan suara itu masih lebih menakutkan melihat ekspresi Rival yang seperti tidak bisa menerima kehamilan Shila.
"Apa papamu akan menerima mu sayang?" gumam Shila sambil menghapus air mata di pipinya. Shila pun tidak menyadari, selama kehamilan ini ia cenderung lebih sensitif dan mudah sekali menangis.
Rival pulang dari Batalyon menaiki motor gagah miliknya. Ia melihat Shila menampung air di sebuah ember dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Dek, biar Abang yang angkat!!" cegah Rival.
"Tak ada bedanya saat Shila hamil atau tidak bang, semua sama saja" ucap Shila. Rival tak menggubris omongan Shila. Yang ia tau, Shila sedang mengandung anaknya dan ia cemas dengan keadaan Shila.
__ADS_1
Rival mengambil gayung yang Shila pegang.
"Tidurlah.. istirahat saja di dalam" ucap Rival tanpa melihat Shila.
"Apa Abang inginkan anak ini?" tanya Shila.
"Ngomong apa sich dek" jawab Rival datar.
"Jawab Shila bang!!!!" Rival masih diam tidak bergeming, hanya tangannya saja sibuk memindahkan air ke ember.
"Abaaangg!!!" panggil Shila lagi. Rival meletakan gayungnya lalu berdiri menghadap Shila.
"Belajar darimana pertanyaan seperti itu??" Rival berjalan mendekati Shila hingga istrinya itu mundur bersandar di dinding. Wajah Rival yang tegas membuat hati Shila takut dan sedih.
"Sudah terjadi mau apalagi" jawaban Rival membuat hati Shila menjadi semakin sakit.
"Kenapa Abang lakukan kalau Abang tidak menginginkan anak ini" hati Shila sakit bagai tersayat sembilu, ia masuk ke dalam kamar.
Rival mengusap wajahnya dengan gusar, ia menyesali ucapannya yang mungkin bisa di salah artikan Shila. Rival menyusul Shila masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau kemana??" tanya Rival yang mulai panik melihat Shila memasukan pakaian ke dalam tas. Shila tidak sanggup menjawab, hanya tangisan yang menjawab semua kesedihan Shila.
"Jangan salah mengerti maksud Abang. Abang sayang anak kita kok" bujuk Rival memelas berusaha meraih tangan Shila.
"Cukup bang, Shila lelah.. Semua orang membandingkan Shila dengan mbak Yara. Bahkan Abang sendiri tidak pernah menganggap Shila ada. Kenangan Abang dengan mbak yara terlalu sulit Abang kesampingkan. Shila tidak pernah bilang pada Abang untuk melupakan mbak Yara, Shila hanya ingin Abang akui keberadaan Shila. Dalam hati.. Abang masih membandingkan Shila dengan mbak Yara.., Bahkan soal anak pun Abang masih teringat jelas tentang mbak Yara. Shila mundur saja bang.. Shila nggak kuat. Shila minta Abang ceraikan" Shila berjalan cepat hingga ke pintu.
"Shilaaaa..." Bentakan Rival begitu kuat, mungkin suara itu bisa terdengar hingga jarak lima rumah. Untung saja derasnya hujan masih bisa meredam suara itu bahkan kedua anak Rival pun tidak terganggu. Mungkin jika suara itu terdengar, tak seorang pun yang akan berani membahas rumah tangga Danki mereka.
Shila diam di tempat, meraba daun pintu sebagai pegangan. Kakinya sangat lemas.. pandangannya pun jadi berbayang.. apalagi sekarang ia tidak berani menatap mata suaminya.
"Kalau kamu sebut tentang perceraian lagi, Abang tampar kamu" tegas Rival.
"Tampar saja bang.. tak ada bedanya Abang tampar Shila atau tidak, sakit di badan akan segera hilang, tapi sakit di hati akan sulit di sembuhkan bang" lirih Shila.
"Sejak kedua kali Abang menyentuhmu, Sejak itu pula Abang mencintai kamu, karena Abang sudah sepenuhnya sadar siapa yang Abang sentuh. Abang melakukannya dengan keinginan Abang sendiri, sebagai suami kamu" Rival tak kuasa menahan beban perasaannya.. sedikit banyak memang harus ia akui kalau memang sudah ada rasa sayang dan cinta untuk Shila.
"Abang bohong.. cinta Abang hanya untuk mbak Yara"
"Jangan sebut Yara lagi, dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita, kenapa kamu harus cemburu dengan Yara, Yara sudah tidak ada dek" Rival meninggikan suaranya namun ia tetap menahan hatinya yang panas sebab ia tau rasanya jika istri sedang hamil emosinya akan naik turun.
"Bukan mbak Yara, tapi Abang!!!!! Shila benci Abang" Shila berlari cepat. Badannya ringan seakan mau tumbang.
"Dek..Jangan lari-lari. Dengar dulu kata Abang" Rival menyusul Shila, tapi Shila berlari cepat dalam derasnya hujan.
.
.
__ADS_1