Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
58. Menjaga hatimu


__ADS_3

Shila lemas di pelukan Rival. Putra putrinya ikut bingung melihat mamanya bersandar di dada papanya.


Arshen dan Zein mengambil alih keponakannya.


"Apa ini mimpi bang?" ucapnya lemah.


"Nggak sayang.. Itu benar anak-anakmu" kata Rival. Shila menyembunyikan wajahnya di dada rival, tangis Shila pecah kembali.


***


Shila menandatangani berkas di Batalyon. Rival tidak ingin namanya terhapus dari daftar riwayat hidupnya.


Shila menggendong Lilan yang menangis ingin ikut papanya, Abrian pun merengek minta di gendong mamanya juga. Papanya sedang menghadap Komandan untuk meminta tanda tangan.


"Dedek.. sabar ya. Papa masih ada perlu. Dedek sama mama dulu" bujuknya pada Lilan.


"Kak Abrian gendong di punggung mama ya. Kalau di depan semua mama nggak bisa gendongnya nak" Shila lumayan kewalahan menghadapi polah kedua anaknya tapi tak bisa di pungkiri ia sangat bahagia.


-_-_-_-_-


"Huuuhh.. benci sekali mataku membaca predikat duda ini" gerutunya melihat kembaran riwayat hidupnya.


"Bang... ada yang mau saya tanyakan?"


"Hmm.. apa?" jawabnya tapi hatinya was-was melirik reaksi Arshen.


"Benarkah Abang menemukan Shila di tempat pelacuran?" tanya Arshen yang langsung mendapat tatapan tidak bersahabat dari Rival. Perasaannya langsung tersayat perih lagi mendengar isu tak manusiawi sudah sampai di Batalyon.


"Mulut siapa yang menyebarkan isu seperti itu????" tatap tajam Rival.


"Letkol Rohmad menyampaikan berita ini pada Danyon dan sebagian sudah bocor sampai telinga anggota" kata Arshen pilu. Ia pun tidak bisa terima berita buruk yang tersebar itu.


Rival mengepalkan tangan. Pikirannya terasa buntu dan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.


"Kamu tidak segera meredamnya?? Kenapa bisa sampai ke telinga anggota? Kamu tau khan dampaknya jika mulut istri anggota yang suka berghibah itu sudah berkoar?????" teguran keras Rival pada Arshen.


"Tentu saja kuredam bang. Bagaimana pun juga Shila itu adik ku. Tidak mungkin aku akan membiarkannya mendapatkan cacian dari mulut tak bertanggung jawab itu" kesal Arshen.


"Sore ini juga kumpulkan anggota. Saya akan minta ijin Danyon untuk meminta waktu bicara pada seluruh anggota agar menelan berita ini sendiri" kata Rival.


"Nanti isu ini akan lewat bang" bujuk Zein menenangkan.


"Tidak semudah mulutmu berbunyi Zein" Rival mulai gusar, ia mengintip dari jendela.. Shila sedang tertawa bahagia bermain bersama ketiga anaknya menunggunya yang sedang rapat.


"Kau lihat tawa itu?? Tawa itu akan pudar dan menjadi mala petaka kalau Abang tidak bisa menyelesaikannya secepatnya" ucap Rival dengan wajah sendu.


Arshen dan Zein saling memandang. Sungguh ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka dengar.. Rival menemukan Shila di tempat pelacuran. Dari keterangan itu entah apa yang akan orang lain jabarkan. Entah Rival sedang bermain api disana! Atau Shila sedang 'bekerja' disana dalam keadaan buta.


-_-_-_-_-

__ADS_1


"Papa.. jalan-jalan yuk. Teman Arben suka jalan-jalan sama mama papanya" rengek Arben.


"Besok saja ya sayang. Mama papa khan baru datang. Pasti masih capek" bujuk Naya sambil menyeka air matanya. Ia terharu Shila bisa kembali lagi.


"Iya kak, besok papa libur satu minggu. Kita jalan-jalan ya! Lihat itu sudah jam 7 malam. Mau jalan kemana malam begini?" kata Rival.


"Mau ke tempat ikan bakar di pantai nggak bang?" tanya Shila yang menyimpan wajah lelahnya.


"Kamu kelihatan capek lho dek"


"Nggak apa-apa bang. Biar anak-anak senang" jawab Shila.


"Ayo lah jalan kalau begitu" ajak Rival.


Randy dan Naya pun mengikuti keinginan mereka.


-_-_-_-_-


"Kamu sakit Val?" tanya Randy.


"Nggak pa"


"Kamu banyak diam. Apa sudah banyak pekerjaan di kantor?"


"Biasa saja pa. Memang sudah tugasnya" senyum Rival nampak dipaksakan. Randy merasa ada yang aneh tapi ia tidak ingin merusak suasana dengan pertanyaannya.


"Wah.. sekarang merokoknya ngebut banget" tegur Randy.


"Mengalihkan perhatian saja pa" tawanya.


"Kamu ini kenapa? Sebagai laki-laki papa tau betul kamu menyimpan banyak beban pikiran"


"Mana kaos kaki Lilan ma. Sudah basah itu" ucap Rival meminta kaos kaki Lilan yang basah dari tangan shila sambil berpikir apa yang akan ia katakan pada papa mertuanya itu.


"Iya pa, dan itu masih terasa berat mengganjal di hati"


"Sabar le, ujian hidup itu macam-macam. Sekuat-kuatnya kita harus tahan cobaan. Kita para pria adalah nahkoda yang akan mengarahkan kemana kapal rumah tangga kita akan berlabuh. Kalau kita salah arah, anak istri kita taruhannya" nasihat Randy.


"Papa benar, saya sadar betul hal itu pa"


"Sudah mainnya ma?" tanya Rival mengulurkan tangan meraih tangan Shila.


"Sudah pa, pulang yuk.. sudah malam" ajak Shila pada Rival.


***


Malam ini anak-anak sangat ribut dan ingin tidur dengan mama papanya. Rival memutuskan untuk tidur di ruang tengah rumah mereka.


"Besok jadi jalan-jalan khan pa?" tanya Abrian menagih janji.

__ADS_1


"Jadi. Makanya cepat tidur biar tidak kesiangan perginya" kata Rival.


Rival mencuri dekat dengan Shila. Abrian yang sangat sayang pada Shila tidak ingin papanya berdekatan dengan mamanya.


plaaakk..


"Papa bobok sendiri. Ini mamanya Brian" kata Brian mendekap Shila.


"Deehh.. yang mamanya pulang" gerutu Rival merasa geli dengan tingkah putranya.


"Ini papa Lilan" teriak Lilan melompat di atas perut Rival.


"Haduuhh Gusti... papa sakit dek!!!" Rival melonjak menggelinjang karena perutnya tertindih Lilan yang melompat tanpa ancang-ancang.


"Hwaaaaaaaaa... Lilan mau sama papa" teriaknya.


"Heleehh... cintanya papa, sayangnya papa.. sini papa peluk.. tidur ya" ucap Rival merayu putri kesayangannya.


Shila tertawa geli menutup bibirnya.


"Gimana rasanya punya cewek cemburuan pa?" ledek Shila.


"Ampuuun... satu ini aja Chibi nya papa. Nggak tahan sama cemburunya" tawanya sambil memeluk Lilan hingga tidur pulas.


Bagaimana dengan Arben? Si gendut itu tidak bisa bau bantal hingga langsung molor masuk ke alam mimpi.


###


"Ma.." kecup sayang untuk Shila saat ketiga anaknya mulai tidur.


"Apa pa" ucap Shila mengikuti panggilan Rival.


"Anak-anak sudah tidur tuh" Rival mulai mengganggu shila.


"Jangan di pindah pa, kasihan!" kata Shila tidak paham karena sangat mengantuk.


"Kita saja yang pindah. Sebentar saja!" ucapnya memelas.


"Aahh.. Abang nih" Shila sedikit kesal karena memang ia sangat mengantuk.


"Kamu tidur saja!" bujuk Rival.


"Terus Abang??" Shila menoleh ke arah Rival.


Rival hanya memainkan alisnya dengan licik.


.


.

__ADS_1


__ADS_2