Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
37. Syok berat


__ADS_3

Shila merasakan ada dorongan kuat dari perutnya, tapi perasaannya saat ini sangat takut mengatakannya pada Rival, ia istri sah Rival tapi malu mengatakannya karena ia merasa mengacaukan perasaan cinta suaminya untuk Yara.


"Ranjangnya hanya cukup untuk satu orang bro, jangan naik istrimu kesempitan" tegur Farhan.


Rival mengangkat kepalanya dari sela samping leher Shila. Matanya terlihat nanar seperti habis menangis.


"Kita bicara sebentar!!" ajak Farhan.


"Apa ada masalah" tanya Rival melihat raut wajah Farhan.


"Iya.. pinggul istrimu sempit. Sebenarnya dia sangat kesakitan, tapi istrimu tidak mau menunjukan reaksi. Tekanan darahnya menunjukan kalau psikisnya sedang tidak stabil dan tidak nyaman. Bujuklah dia, kasihan anak kalian" saran Farhan.


"Baiklah, aku bujuk dia" kata Rival.


"Sekarang!!! Tidak banyak waktu lagi"


Rival mengangguk, ia menyadari pasti masalah tadi sudah membuat perasaan istrinya sangat kacau.


Mama Naya dan papa Randy yang sedang menunggu Shila, melihat sorot mata Rival, mereka membiarkan Rival untuk bicara berdua. Bidan, perawat dan juga Farhan berjaga tidak jauh dari sana.


"Apa yang menjadi bebanmu sayang? Kalau kamu kecewa dengan Abang, jangan lampiaskan pada anak kita. Dia tidak tau apa-apa. Dia ingin lahir ke dunia. Abang pasrah terima semua kekecewaan mu" Rival menelungkup di ranjang Shila.


"Biar Abang kehilangan apapun yang Abang punya, Abang rela. Asal Abang tidak kehilangan kamu dan anak-anak"


eegghh...


Wajah Shila sudah seperti mayat hidup, seakan darah tidak mengalir lagi.


"Pegang tangan Abang" Shila ragu untuk memegangnya, terlalu lama Rival merasakan balasan Shila, ia akhirnya menggenggam erat tangan Shila.


"Kamu istri Abang"


Shila menangis melihat Rival menggenggam tangannya.


"Tidak mau kah kamu lahirkan anak Abang?" tanya Rival penuh permohonan.


Wajah Shila yang sudah sangat kelelahan berusaha mengejan sekuatnya. Bidan pun berlarian membantu Shila. Farhan membantu mendorong perut Shila perlahan.


"Sempit dok" kata bidan. Rival meringis melihat bagian bawah Shila harus gunting. Ia sudah tak tega melihat Shila yang payah.


"Bang Rivaaall!!!!!" Shila menggenggam tangan Rival sampai rasanya darah Rival berhenti.


"Vacum!!!" perintah Farhan.


Di sela bayangan putih di atas mata Shila, Ia mengusahakan mendorong sekali lagi, sekuatnya. Akhirnya..putri cantik Rival itu terlahir. Tangisnya terdengar di seluruh ruangan.


"Allahu Akbar" Rival menghambur memeluk Shila, menciumi wajah istri yang sudah berjuang mati-matian melahirkan anak untuknya.


"Terima kasih sayang.. "


braaaaakk...


"Abang!!"


Oka kaget melihat Arshen pingsan di ruang tunggu dan tentu saja itu merepotkan para perawat.


Bayi tersebut segera di tangani oleh perawat. Sebagian lagi menangani Shila.


Farhan nampak sibuk memeriksa kondisi Shila. Raut datar menghiasi wajahnya.


"Kenapa??" tanya Rival mulai panik.

__ADS_1


"Pak, bayinya di adzani dulu" perhatian Rival teralihkan melihat bayi mungilnya yang cantik.. secantik mamanya. Hidung dan bibirnya mirip Rival.


Rival segera mengambil wudhu dan mengdzani bayinya. Suaranya merdu hingga selesai, tapi sesaat kemudian bayi itu menangis kencang lagi. Rival melihat Farhan memeriksa mata Shila. Farhan menyandarkan kedua tangannya di ranjang Shila.


Rival pov


Jantungku berdegup kencang tak terkira rasanya saat Farhan mensejajarkan kaki Shila. Aku melangkah mendekat pada Shila. Sesak terasa dalam dadaku ini. Kakiku terasa berat dan tenagaku seakan habis. Seorang bidan mengikutiku dari belakang.


"Bangun dek, lihat anakmu.. " tanganku gemetar menidurkan anak ku di samping Shila tapi istriku tidak memberi respon. Aku mulai ketakutan, kucoba menggoyangkan badan Shila namun Shila tetap diam tanpa reaksi. Rasa kehilangan Yara membuatku tidak bisa mengontrol emosiku sendiri.


"Abang yang salah Shila, Abang yang keterlaluan. Biarkan kali ini Abang yang berjuang mendapatkan hatimu" pintaku memohon.


Bidan mengambil bayiku agar tidak semakin kaget dengan suara teriakan papanya.


Farhan menarik lenganku, sedangkan aku masih sibuk dengan rasa cemasku.


"Sabar Val.. sabar"


Kuraba dadaku, meremasnya dengan kuat. Rasa sakitnya menyengat ujung kepala hingga ujung kakiku. Sungguh aku tidak bisa menerima kepergian Shila.


"Jangan tinggalkan Abang dek"


###


Mata Rival begitu sayu dan sendu, ia ambruk menabrak Farhan.


"Astagfirullah... sok tau benar kamu" kesal Farhan. Seisi ruangan bingung mengangkat badan Rival.


***


"Demamnya tinggi sekali" kata Farhan.


"Dalam sekali perasaan nya, kamu tau sendiri bagaimana garangnya abangmu, tapi soal wanita, dia kalah telak" kata Farhan.


Zein menoleh pada Shila, untuk pertama kalinya dia bicara sejelas ini di hadapan Shila.


"Abang juga mencintaimu. Tak mungkin Abang sampai seperti ini kalau di dalam hatinya tidak ada nama Shila" Shila hanya membalasnya dengan senyum.


Rival tersadar perlahan, ia mengusap dadanya berharap perasaan nya pulih kembali.


"Astagfirullah hal adzim... Shila" lirih nya terisak-isak.


"uugghh" rintihan Shila pelan sekali tapi masih bisa terdengar telinga Rival. Rival menguatkan badannya untuk bangkit mencari suara itu.


Rival terharu melihat Shila ada di hadapannya.


"Alhamdulillah Ya Allah.. Engkau masih berbaik hati menyelamatkan Shilaku" Rival bersimpuh memeluk Shila. Ia menyandari kesalahannya.


Shila ingin sekali menangis tapi ia tidak ingin lagi berharap lebih.


"Raka..." ucap Shila pertama kali. Zein paham yang di cari Shila adalah Arshen. Zein memanggil Arshen.


Arshen mendekat pada Shila. Shila meraih tangan Arshen.


"Raka...bawa pergi Shila dari sini!!" pintanya.


"Nggak dek.. kamu belum kuat, belum pulih" cegah Rival dengan cemas.


"Raka akan bawa kamu pergi" tatap tajam Arshen pada Rival.


"Jangan!! Saya mohon jangan" pinta Rival merangkak memohon pada Arshen yang notabene adik littingnya. Tapi dalam hal ini Rival belum paham siapa Arshen ini sebenarnya. Tapi mendengar Shila meminta 'Raka nya' untuk membawanya pergi sudah cukup membuatnya sangat gelisah.

__ADS_1


Shila meraih tangan Arshen, ia memeluk pinggang Arshen dan menangis disana, Shila merintih merasakan sakit di bagian bawahnya. Ia sudah tidak tahan hingga menggigit bibirnya.


"Mana yang sakit dek?" tanya Arshen.


"Biar saya yang urus" kata Rival.


Shila sekarang ini rasanya seperti enggan berdekatan dengan Rival. Ia menolak perhatian Rival.


"Siapa yang akan membantumu, Raka mu tidak akan bisa membantu mu kecuali Abang"


Rival melepaskan pegangan tangan Shila dari pinggang Arshen, ia mengangkat perlahan tubuh Shila ke atas ranjangnya.


"Kamu rawat istrimu dulu. Kami keluar" kata Farhan.


"Raka.." panggil Shila pelan.


"Raka nggak kemana-mana. Raka tunggu di luar" ucapnya. Seorang perawat meletakan baskom dan handuk di atas meja lalu ikut meninggalkan mereka.


Rival menutup gordennya dan membuka kain Shila. Shila menepis tangan Rival.


"Jangan sentuh Shila bang"


"Abang suami kamu" tegas Rival sambil mengambil kain untuk mengompres Shila.


"Shila nggak mau bang!" ucapnya sekali lagi, ia ingin turun dari ranjang.


"Shilaaaa...." bentak Rival.


Shila menunduk, perutnya masih sakit saat ia menangis. Rival sungguh tidak tega sudah membuat istrinya jadi seperti ini.


"Sebenci itukah kamu sama Abang. Biarkan Abang menebus semua waktu yang hilang. Biarkan Abang buktikan dulu. Abang salah..sudah tidak adil dalam mencintai kamu dan Yara. Harusnya Abang segera sadar, mengikhlaskan Yara kembali padaNya dan penolakanmu ini hukuman terberat Abang. Abang juga sakit dek, Abang merasa gagal membimbingmu sebab bukan hal mudah pertanggung jawaban Abang di akhirat kelak"


Rival meraih tangan Shila dan menarik nya kedalam pelukannya. Istrinya setengah memberontak, Rival tau ada sikap kekanakan yang dilakukan Shila, tapi ia juga memakluminya, wanita adalah makhluk lemah lembut yang butuh perhatian ekstra, apalagi Rival sudah 'menduakannya', Yara memang tidak ada, tapi sikap Rival yang sibuk membagi hati, sudah menyakiti Shila.


"Biarkan Abang bertanggung jawab atas segala apa yang Abang lakukan sama kamu. Kamu begini juga karena Abang"


-_-_-_-_-


Huuuhh.. sampai detik ini pun nyaliku sungguh ciut melihat luka dan kesakitan istriku.


Shila memercing sakit, Rival mengusap air mata yang sesekali meluncur dari tempatnya.


"Ini terakhir!! Tau tidak.. anak Abang sudah lima. Dompet Abang sanggup, jantung Abang yang nggak sanggup. Abang tobat dah" ucapnya sambil meletakan kain pada baskom. Rival meluruskan kaki Shila perlahan.


"Abang nggak geli?" pertanyaan pertama Shila setelah penolakannya tadi.


"Dari situ Abang lahir, dari situ Abang beribadah, dari situ juga hadirnya buah hati Abang. Bukan karena nafsu dan b******k Abang kadang lupa diri. Tapi fitrahnya manusia membutuhkan nya saat sudah halal. Jadi tidak ada alasan Abang geli. Yang buat Abang geli itu pertanyaan konyol mu" senyumnya.


"Bang!!"


"Apa sayang"


"Shila ingin sekali menghajar Abang"


Rival ingin tertawa mendengar nya.


"Pulihkan dulu badanmu, biar punya tenaga. Kalau sudah sembuh nanti, pukul Abang pakai tongkat taekwondo mu sampai babak belur. Kita duel"


.


.

__ADS_1


__ADS_2