
Papa dan mama mengajak seorang ibu sekitar umur 45 tahun, bahkan mungkin lebih. Ibu itu adalah orang yang di pilihkan Naya untuk membantu Shila di rumah. Awalnya Rival menolak karena takut ada kejadian seperti Fitri kemarin. Tapi akhirnya Rival menyetujui karena melihat kondisi Shila di kehamilannya yang kedua ini tidak sekuat kehamilan pertamanya.
"Baiklah ma, bibi Surti boleh disini" kata Rival.
"Terima kasih banyak ya pak. Bibi janji nggak akan aneh-aneh selama ikut bapak" janji bibi.
***
Shila menyuapi kedua anaknya dengan telaten sebab Arben sudah tidak mau di perlakukan seperti anak kecil lagi. Arben sudah ingin seperti anak lain yang mandiri.
Abrian masih sangat manja pada Shila. Tingkahnya kadang membuat Rival kesal. Seperti saat ini Abrian tiba-tiba melompat di punggung Shila, bermanja-manja minta di gendong padahal perut Shila sekarang sudah semakin besar. Sudah tujuh bulan.
"Brian!!!! Nggak boleh naik di punggung mama. Mama sakit" Rival menurunkan Abrian yang masih berada di punggung Shila. Rival memelototi Abrian agar tidak mengulangi tingkah itu lagi.
"Nggak apa-apa pa. Nggak kena perut kok" kata Shila tenang.
"Papa tau memang nggak kena perut, tapi papa juga tau rasanya sakit"
Lilan datang berlari dari arah depan. Kakinya tersandung karpet hingga ia jatuh dan kepalanya menghantam perut mamanya. Shila sangat terkejut, baru kali ini ia merasakan nyeri karena perutnya terhantam Lilan kecil.
"Astagfirullah...Lilan..!!!" pekik Rival yang tangannya sebenarnya sudah gatal ingin menjewer telinga anak-anaknya.
"Ini nih akibatnya kalau punya anak jaraknya terlalu dekat" gerutu Rival sambil mengusap perut Shila.
Shila ingin tertawa tapi ia tidak sanggup lagi karena perutnya sudah terasa sakit.
Bibi datang setelah selesai mencuci piring. Bibi mengajak Lilan kecil bermain. Lilan sudah dekat dengan bibi sehingga bisa meringankan pekerjaan Shila.
"Pindah ke kamar saja ya! Kalau duduk disini kamu bisa di tabrak anak-anak yang sibuk berlarian" ajak Rival. Shila mengangguk menurut.
Saat berdiri.. terasa sekali rasa sakitnya.
"Sini Abang bantu" Rival mengangkat Shila agar bisa cepat sampai kamar.
"Haduuuhh.. Abang nggak kuat dek!! Badanmu sudah mantap seperti truk gandeng" godanya.
Seperti biasa Shila akan memukulnya karena gemas, tapi Rival selalu saja ingin menggoda istrinya itu.
"Kalau nggak kuat jangan angkat lagi. Shila nggak mau jatuh sia-sia karena di gendong Abang" omelnya.
__ADS_1
"Deehh.. bebek kalah sama kamu kalau lagi ngomel dek"
"Eeehhh.. Abang mau jatuh dek" goda Rival lagi. Suaminya itu begitu onar seakan tidak kuat menggendongnya.
"Shila mau turun bang!!! Shila takut. Abang sengaja ya biar bisa kawin lagi" teriak kesal Shila.
"Kalau mau kawin lagi.. Abang main cantik lah.. ngapain harus jatuhin kamu dulu. Langsung saja ngelaba juga bisa. Abang khan ganteng" ucapnya dengan sombong membuat Shila menjadi murka.
"Oohh..gitu ya bang. Awas aja kalau nanti malam Abang minta jatah sama Shila. Keris kebanggaan Abang itu, Shila patahin biar nggak bisa ngelaba kemana-mana" ancam Shila.
"Nggak soal yang satu itu bisa nggak sich yank. Kasian tuh si dedek kangen sama papanya.. minta di tengokin" bujuk Rival.
"Shila kesel sama Abang"
Rival menggaruk kepalanya, ia mulai gusar juga kalau sampai nanti malam Shila nggak memberinya jatah.
"Bisa cenat cenut nih si jalu" gumamnya lirih, sedikit menyesal.
***
Rival baru saja tiba di Batalyon usai lari pagi bersama. Ia melihat Shila duduk memegangi perut bawahnya sambil sesekali membuang nafas.
"Nggak apa-apa bang, hanya sedikit nyeri"
"Apa mungkin karena posisi anak kita sungsang ya dek.. jadi kakinya nendang di pintu" kata Rival cemas.
"Iya mungkin bang"
"Hmm..bang, Shila mau buah jamblang donk" pinta Shila.
"Ya Allah dek.. Susah itu carinya. Abang kudu nyopet dimana cari buah jamblang?" keluh Rival.
"Nggak mau carikan nih bang?" tanya Shila dengan mata berkedip tanpa dosa.
"Iya.. Abang carikan" Rival bersiap mengangkat ponselnya.
##
"Ijin Danki, di bukit bawah Batalyon khan ada pohon jamblang, buahnya juga lebat" kata Arif.
__ADS_1
"Itu ada bang!! Abang sendiri yang panjat ya!" kata Shila.
"Sudah Abang kira. Pasti maunya Abang sendiri yang panjat. Ya sudah Abang ambil dulu!!" kata Rival yang beranjak dari tempatnya.
"Tunggu bang!!"
"Apalagi sayang.. keburu panas ini lho" mata Rival menyipit menghalau teriknya sinar matahari.
"Abang panjatnya pakai sarung" pinta Shila.
"Ya Allah Ya Rabb.. kenapa hamilmu ini ngerjain Abang banget sih dek. Nggak ada yang ringan dikit ya?" keluh Rival mendesah kesal.
Shila menunduk tidak menjawab. Hanya wajahnya yang terlihat sedih sekali seperti orang baru saja kena siksa. Akhirnya kalau sudah begini suami Shila ini pun luluh dan tidak tega.
"Ya sudah.. Abang ambilkan. Tapi Abang pulang dulu"
"Kenapa bang?" rengek Shila tidak sabar.
"Hari Abang nggak pakai celana double. Kalau ada yang terbang, kamu mau tangkap??"
Anggota di lapangan langsung tergelak mendengar celotehan suami istri yang selalu nampak mesra itu. Mereka baru tau sebenarnya Danki juga hanya pria biasa yang di kepalanya hanya ada dua hal.. bekerja keras untuk keluarga, dan harmonisnya hubungan suami istri.
-_-_-_-
Rival sedang menurunkan buah jamblang dari pohonnya. Ia sedikit kesulitan karena memakai sarung di atas sana.
Arshen dan para anggota lainnya yang menunggu di bawah dengan santainya melahap buah jamblang yang baru di petik adik iparnya. Kapan lagi memakan buah hasil jarahan Danki.
"Enak sekali ya, sudah susah panjat.. hasilnya kalian yang makan" gerutu Rival.
"Sudah cepat ambil bang!! Kalau tidak cepat, istrimu bisa ngambek" kata Arshen.
"Ini terakhir kalinya saya hamilin istri. Kapok kalau istri ngidam begini. Belum lagi kalau ketularan mabuk. Sudah lah.. angkat tangan saya" ucap Rival dari atas pohon.
-_-_-_-_-
Shila anteng sekali memakan buah jamblang. Arben dan Lilan juga tidak berhenti mengunyah. Hanya Abrian saja yang tidak doyan dengan buah yang manis sepat itu. Sama seperti papanya.
.
__ADS_1
.