Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
49. Menaklukan hatimu.


__ADS_3

Rival terbangun karena merasa sesak. Shila menindihnya tanpa sadar.


"Aduuuhh.. cobaan apalagi ini" gumam Rival memindahkan kaki dan tangan Shila perlahan.


eegghh..


Suara rengekan manja Shila membuat Rival berdebar lagi. Shila semakin mengeratkan pelukannya.


"Shila sayang.. Abang memang sudah janji padamu, tapi kalau Abang sampai lupa. Abang harap kamu bisa maafkan Abang ya" kata Rival sembari mencium kening istrinya.


***


Shila sudah wangi dan rapi hari ini. Kakek sudah datang dan mengobati Shila. Seperti kemarin.. Shila masih terus menjerit tapi tidak seperti kemarin.


Namun beberapa saat setelah mendapat perawatan dari kakek, pemijatan kepala dan meminum obat-obatan dari kakek.. Shila merasa pusing hebat. Rival panik di buatnya.


"Kenapa ini kek" tanya Rival cemas.


"Nggak apa-apa.. ini reaksinya. Syarafnya terbuka" kata kakek.


Akhirnya sampai sore ini pengobatan Shila sudah selesai. Nenek melihat raut wajah Shila yang sepertinya banyak menyimpan kegelisahan.


Saat kakek sedang pergi dengan Rival ke dalam hutan. Nenek bertanya pada Shila.


"Ada apa nak, kamu seperti menjaga jarak dengan suamimu"


"Eehhmm.. sebenarnya begini nek"


//////


//////


"Sudahlah.. jangan menangis! Itu bukan salahmu. Keadaanlah yang salah. Untung saja karena terhantam batu karang hanya membuatmu kehilangan penglihatan. Kalau sampai nyawamu hilang.. Nenek tak tau bagaimana nasib suamimu sekarang. Datang kesini saja matanya memerah, mungkin terlalu banyak menangis" kata nenek.


Shila menunduk mendengarkan nenek.


"Suamimu itu sangat sayang padamu. Kalau dia tidak sayang, dia sudah meninggalkanmu setelah tau kamu sudah di nodai orang" imbuh nenek.


"Shila hanya merasa kotor, tidak pantas untuk Abang. Perlakuan pria itu masih membekas di hati Shila nek, sangat kasar.. memukul Shila. Dua kali dia menyentuh Shila" kata Shila sambil menangis.


Saat itu Shila tak tau kalau Rival sudah kembali. Rival meminta nenek agar tidak memberi tahu kalau ia sudah ada disana.


"Kalau suamimu menginginkanmu lagi bagaimana?" tanya nenek.


"Shila tidak mau nek. Kasihan Abang harus ikut menanggung beban Shila juga" jawab nenek.


Sedih dan hancur teramat sangat sakit perasaan Rival saat ini. Pertama melihat istrinya tidak bisa menerima kenyataan. Kedua istrinya selalu menolaknya karena peristiwa itu membawa trauma dan kenangan buruk yang selalu membuatnya merasa hina dan rendah diri bahkan pada suaminya sendiri.

__ADS_1


Nenek melihat Rival yang sudah terduduk lesu bersandar pada bilik rumah sambil menahan tangis.


"Apa kamu masih mencintai suamimu?" tanya nenek pada Shila.


Shila terdiam sejenak, tapi ia dengan mantap menjawab.


"Iya nek, sangat.. hanya Abang yang sangat Shila cintai"


Nenek tersenyum melihat Shila. Lalu menggandeng tangannya.


"Ayo ikut nenek"


Shila pun mengikuti nenek tanpa tau apa yang akan di lakukan nenek.


***


"Percaya nenek.. sekarang saja suamimu sudah sangat sayang padamu. Apalagi setelah nenek 'merawatmu' seperti ini" kata nenek.


"Entahlah nek, apa Shila masih punya muka untuk melayani suami Shila lagi. Rasanya seperti tidak punya harga diri saja masih mencintai Abang. Apalagi mengharapkan cinta Abang.. Shila tidak berani nek. Shila seperti merasa Abang terpaksa menjaga Shila karena Abang kasihan " jawabnya.


Rival hanya bersandar, melipat tangan di depan dada. Sesekali ia mengusap wajahnya tak sanggup merasakan semua kepedihan ini.


"Ya Allah dek, sungguhkah kamu berpikir seperti itu. Demi Allah Abang tulus sayang" Rival memejamkan mata merasakan sakitnya hati yang tak kunjung usai. Ia ingin mendekati Shila tapi kakek melarangnya.


"Bairkan dia tenang dulu. Biarkan Shila melewati fase terpuruknya sampai ia benar-benar menyadari tulus ikhlasnya seorang suami"


"Setiap hari dia menolak saya kek. Sekarang dia bilang saya hanya kasihan" ucap Rival penuh rasa kecewa.


Esok hari Rival dan Shila akan kembali ke Mess. Malam ini begitu sunyi dan dingin. Shila gelisah di dalam bilik karena Rival tidak masuk ke dalam bilik. Rival memilih tidur di luar, menenangkan hatinya yang terasa sakit mendengar ucapan Shila tadi. Ia sungguh tak habis pikir mengapa Shila bisa bisa berkata seperti itu.


Shila hanya bisa diam hingga tertidur di dalam kamar sambil mendengarkan music, isi power bank miliknya pun sudah habis karena ia pakai full.


***


"Kembalilah kesini lagi kalau memang tetap belum ada perubahan. Ini adalah semua obat yang harus di minum istrimu sampai habis" kata kakek saat Rival akan pulang.


"Iya kek. Terima kasih banyak" kata Rival menerima obat itu.


Nenek memeluk Shila menguatkan Shila agar tabah menghadapi segala cobaannya.


-_-_-_-


Dalam perjalanan Shila merasa Rival hanya mendiamkannya, bahkan dari semalam ia merasakan nya.


"Abang marah ya sama Shila?"


"Nggak" jawabnya singkat.

__ADS_1


Shila memilih diam dan tidak bicara lagi. Hingga mereka sampai di Mess, Rival langsung mengerjakan semua tugasnya. Mengambil apel sore dan menyiapkan anggota untuk esok hari.


-_-_-_-


Shila duduk menyisir rambutnya. Samar terlihat ada sebuah bayangan yang membuat kepalanya terasa sakit.


Rival baru masuk dan duduk di kursi sambil membawa segelas obat-obatan rebus dari kakek, lelah badannya hari ini sedikit mengalihkan perhatiannya pada masalahnya dengan Shila.


"Abang darimana? Kenapa lama sekali baru kembali?" tanya Shila yang langsung memancing emosi Rival.


"Kencan" ucapnya datar. Seketika itu juga sakit menusuk perasaan Shila.


"Abang punya kekasih disini?" tanya Shila hati-hati.


"Iya, untuk menghibur diri karena Abang hanya kasihan sama kamu" ucapnya dengan sengaja.


Shila tersenyum, ia tidak banyak bicara tapi langsung meraba melangkah ke pintu, ia ingin sekali keluar dari kamar itu.


"Mau kemana kamu? Apa begitu caranya menyambut suami yang baru pulang kerja?" tanya Rival tegas.


"Minta saja teman kencan Abang untuk melayani Abang" jawab Shila ringan tapi hal itu membuat darah Rival semakin mendidih.


Rival berdiri berhadapan dengan Shila.


"Kamu sendiri yang bilang Abang hanya kasihan sama kamu. Abang mati-matian memperjuangkan kamu, tapi kamu anggap itu semua hanya rasa kasihan???? Kamu hanya memikirkan semua rasa takutmu tanpa ingin melawannya. Abang mencemaskanmu, memikirkanmu. Harus bagaimana lagi cara Abang mempertahankan kamu. Kamu pikir Abang sekuat apa Shila???" bentak Rival pada Shila membuat para anggota yang sedang bercanda dan bermain karambol di ruang pesiar jadi ikut terdiam.


"Bukan itu maksud Shila bang" kata Shila yang sekarang sudah gemetar ketakutan.


"Sekarang apa maumu? Abang turuti keinginanmu" tanya Rival mengurangi nada suaranya.


"Shila ingin kita pisah saja bang"


"Astagfirullah.. dek" Nyeri terasa menusuk jantung. Rival meremas dadanya yang begitu sesak, ia memang tidak kuat mendengar semua ini, tapi ia sudah berniat akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga.


Shila menjawab tegas namun jelas sekali ia pun tidak sanggup jika harus berpisah dari Rival.


"Kemarin kamu bilang sama Abang kalau kamu juga cinta sama Abang"


"Shila memang cinta sama Abang tapi Shila nggak bisa hidup sama Abang lagi" Shila berjalan mencari daun pintu. Rival menghalangi berdiri menutup pintunya.


Rival memeluk istrinya, menurunkan bahkan membuang segala ego yang ada. Rival menuntun tangan istrinya untuk memeluknya juga. Lembut tapi pasti, Rival mengecup bibir Shila.


"Katakan sekali lagi kalau kamu sanggup hidup tanpa Abang" tantang Rival.


Rival membawa Shila pada ranjangnya.


"Lebih baik Abang tandai kamu biar kamu tidak bisa kemana-mana lagi" tatap nanar Rival tak bisa di artikan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2