Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
73. Peringatan keras.


__ADS_3

"Kamu yang menghinanya..Abang yang kesakitan. Apa ini hasil pendidikan mu selama di Amerika???" bentakan Rival membuat Naura ketakutan. Kakak sepupunya itu dulu bahkan berbicara keras padanya pun tak pernah.


"Abang bentak Naura?" protes Naura.


"Abang harus mengingatmu, tapi Abang berkewajiban melindungi istri Abang" tegas Rival.


"Ijin Danki, kami akan kembali nanti" kata Oka menarik tangan Naura saat situasi semakin memanas.


"Nggak bang, Naura mau dengar sendiri.. bukan dari orang lain" kata Naura.


"Kamu nggak boleh begitu dek. Itu ranah pribadi Abang" cegah Oka melihat tingkah calon istrinya.


"Duduklah Lettu Oka. Saya akan ceritakan. Tapi ini untuk terakhir kalinya dan setelah itu, siapapun yang bertanya lagi.. akan saya mutasi ke daerah pelosok. Tanpa syarat apapun!!!!!!" tegas Rival.


Shila menggeleng mencegah Rival membuka luka lamanya. Wajahnya pias dan begitu sedih.


"Kamu harus kuat dek. Apapun yang akan terjadi, Abang akan selalu melindungi mu" ucap Rival.


Shila memeluk punggung Rival dan menyandarkan keningnya disana, berharap ia pun bisa kuat mengingat cerita kelam yang pernah mereka alami.


"Shila.. secara total menerima akibat dari tugas yang Abang selesaikan. Itu semua di luar perhitungan Abang. Shila di culik..lalu di lempar ke laut. Kepalanya terhantam batu karang hingga tidak bisa melihat" ucapnya sendu.


"Sudah bang! Biar saya bawa Naura keluar dulu. Abang dengan istri bisa menenangkan diri disini!" saran Oka.


"Nggak apa-apa Oka. Biar saja. Biar semua clear dan tidak ada berita miring lagi. Hati Abang sudah lelah, tak tega melihat Shila terus menjadi bahan hinaan orang" tegas Rival.


Oka merasa was-was melihat Rival sesekali mengusap dadanya, khawatir darah Rival akan naik dan bisa saja membuatnya kumat.


"Shila nggak mau dengar bang!!" ucap Shila masih terus melingkarkan tangannya di pinggang Rival.


"Kamu harus kuat dan harus dengar sayang" bujuk Rival mengusap tangan Shila.


"Apalagi bang??" tanya Naura.


"Seperti apa yang Abang bilang tadi. Shila....sudah di nodai orang" suara Rival tercekat berat. Rasanya tak sampai hati ia mengenang saat pertama kali menemukan Shila dalam keadaan berantakan dan koyak apalagi saat memandikan istrinya. Tak satupun celah ia lewatkan melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya telah di hancurkan orang.

__ADS_1


"Kalau Abang tau mbak Shila sudah rusak, kenapa Abang masih mau menerimanya????" kesal Naura.


"Apakah Abang ini pria terhormat yang harus menilai istri Abang seburuk itu. Kalau itu terjadi padamu dan Oka membuangmu.. apa perasaan mu?????"


Naura bersandar lemas. Ia menatap mata Oka seakan meminta jawaban apakah Oka akan membuangnya atau tidak setelah tau ia sudah ternoda.


"Sama seperti Abangmu. Abang tidak akan meninggalkanmu. Bukan kamu yang salah. Tapi keadaanlah yang salah sayang" ucap Oka mengucapkan kata sayang pertama kali untuk Naura dan itu berhasil membuka pintu hatinya yang tertutup rapat.


"Itu bukan kalimat yang tepat untuk di tanyakan Naura... Abang tidak munafik kalau memang Abang sempat down dan syok juga. Abang pun hampir tidak sanggup merasakannya. Istri yang Abang jaga seperti nyawa Abang sendiri harus mengalami hal sepahit ini. Dan ini pukulan terberat dalam diri Abang" bentak Rival tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi.


Shila tak berani menampakan wajahnya lagi. Ia cukup malu merasakan semua ini. Terlebih ada Oka disana. Shila mencengkeram kuat pakaian Rival.


"Seperti apapun keadaan Shila sekarang, dia tetaplah istri Abang. Sekalipun kamu adik Abang. Abang tidak akan membiarkanmu menyakiti Shila" tegas Rival.


"Kamu kenapa dek?" Rival merasakan tubuh Shila melemah disana.


Naura dengan sigap langsung berdiri dan memeriksa keadaan Shila. Rival sudah panik melihat Shila lunglai tak bertenaga.


"Mbak Shila keram bang"


Naura tak bisa bicara apapun lagi. Oka mengusap pundak Naura untuk memberinya kekuatan.


-_-_-_-_-


"Bagaimana istriku" tanya Rival pada Farhan.


"Sementara ini masih oke Val. Hanya syok saja. Kehamilannya masih rentan, jaga baik-baik kandungannya" pesan Farhan.


"Alhamdulillah"


Farhan meninggalkan Shila dan Rival berdua di ruangan itu setidaknya sampai kondisi Shila membaik.


"Biar Abang yang mikir dek, kamu jaga saja anak kita!" Rival menciumi jemari Shila lalu menempelkan di pipinya.


Tak lama Naura dan Oka masuk ke dalam ruangan Farhan.

__ADS_1


"Bang.. Naura mau bicara sama Abang berdua" kata Naura.


"Disini saja. Cepat katakan!!"


"Naura ingin meminta maaf sama Abang juga mbak Shila. Bang Oka juga sudah menceritakan semuanya sama Naura" katanya terisak.


"Hmm" jawab Rival singkat tak ingin menanggapi ucapan Naura lagi.


"Mbak Shila.. Apa mbak Shila mau memaafkan Naura" tanya Naura takut.


"Iya Naura.. Mbak pasti memaafkanmu" senyum tulus Shila mengembang membuat hati Naura semakin merasa bersalah.


"Terima kasih mbak Shila" Naura menghapus air matanya.


-_-_-_-_-


"Kenapa nih diam aja?" tegur Oka pada Naura yang duduk di ranjang kamar kost Naura yang sepi saat Oka mengantarkan Naura pulang.


"Naura masih nggak nyangka bang, hati bang Rival seluas itu. Mbak Shila pasti juga sulit bangkit dari masalah itu"


"Iya..kamu benar, makanya kamu jangan asal bicara lagi. Mbak Shila menolak Abang berkali-kali sampai Abang stress banget. Bukan hal mudah untuk Abang menaklukan hati Mbak Shila" jelas Oka.


"Iya bang, hamilnya mbak Shila juga bukti cinta mereka yang kuat" kata Naura.


"Terus bagaimana dengan kita dek?" Oka menatap mata Naura hingga gadis itu salah tingkah.


"Apanya yang bagaimana bang?" Naura menunduk malu.


"Abang juga ingin membuat cinta yang kuat sama kamu, selamanya hanya sama kamu"


"Abang yakin.. memilih Naura dalam hidup Abang?" tanya Naura masih belum yakin dengan kesungguhan hati Oka.


"Bukan masanya Abang untuk bermain-main lagi dek. Abang serius" bisik Oka pelan. Tangannya menarik tengkuk Naura hingga bibir mereka nyaris tak berbatas apapun.


.

__ADS_1


.


__ADS_2