
Beberapa tahun telah berlalu. Hari ini rumah Rival nampak sepi, persiapan mengemban tugas di tempat yang baru. Batalyon PPP.
Arben melihat sebuah peti yang tidak pernah dilihatnya selama ini. Banyak kenangan, surat cinta dari Rival untuk mamanya dan mama Shila juga ada flashdisk milik Rival. Satu persatu Arben membacanya. Ia ikut hanyut merasakan apa yang pernah di alami mamanya.
Apa papa sering menyakiti mama Yara dan mama Shila?
Untuk pemikiran anak yang akan menginjak SMP tiga bulan lagi, Arben termasuk anak yang pintar dan dewasa. Arben memang paling muda di kelas dari anak seusianya dan juga ia melewati kelas karena kepintarannya.
Tiba-tiba Abrian merebut sebuah surat dari tangan Arben.
"Apaan nih? lu nulis surat cinta bang?"
Arben merebut kembali surat itu dari tangan Abrian.
"Jangan lancang.. ini barang mama papa" kata Arben memasukan kertas itu dan menutup rapat peti itu. Abrian yang cuek segera keluar dari kamar. Tapi Arben mengambil sebuah buku tebal lalu membawanya ke dalam tas ransel pribadi miliknya.
***
Suasana Semarang. Arben senang dengan suasana disana. Diam-diam Arben membuka galeri di dalam flashdisk di laptop milik papanya. Ada banyak rahasia tentang mama papanya disana. Arben melihatnya dan memendam semua dalam hati
***
"Apa papa tau impian mama Yara?" tanya Arben di sore hari.
"Jadi anak Sholeh"
"Kalau impian mama Shila?"
"Kamu pasti tau keinginan mama Shila meskipun mama tidak bicara" kata Rival.
"Arben paham pa"
"Abaaangg.. Minta duit" Lilan menodong abangnya, tak tau Rival sedang mengobrol dengan Abangnya.
"Eehh papa. Papa nggak ke pos sama om Rama?" tanya Lilan.
"Papa lagi malas. Kamu kenapa nodong Abang Arben?" tanya Rival.
"Uang Lilan habis" jawab Lilan.
"Uang saku Abang kamu bawa, kamu habiskan untuk beli apa?" tanya Arben.
"Urusan perempuan lah bang, Abang nggak boleh tau kalau Lilan beli mini kitchen set model baru" jawab Lilan dengan polosnya.
"Oohh.. Ok.. Abang nggak tau, Abang nggak dengar" kata Arben merogoh uang sakunya lalu memberikan sebagian uang sakunya untuk adik perempuan satu-satunya dan Lilan pun pergi.
"Kamu kasih semua uang sakumu untuk Lilan?" tanya Rival yang baru berkomentar.
__ADS_1
"Nggak pa, sebagian uang.. Ben belikan alat untuk buat mainan. Mobil, motor, bikin pistol dan panah. Ben jual, jadi uang pa. Terus Ben tabung" jawab Arben.
"Good job bro"
***
"Ke sekolah sekarang ma!!" Rival geram mengajak Shila.
"Ada apa pa?"
"Brian menggunduli temannya" kata Rival kesal.
"Sabar pa, jangan marah terus" Shila mengusap dada suaminya agar menjadi lebih tenang.
"Nakal sekali Brian itu. Tiga kali lipat nakalnya Abang" gerutu Rival.
"Nggak boleh gitu bang. Tiap anak beda dan menikmati masa kecil. Brian nggak nakal hanya pintar" kata Shila.
***
Rival menduduk kan Brian di hadapannya. Tatapan mata Rival seakan menghakimi Brian tentang ulahnya tadi.
"Jelaskan sejelas jelasnya kenapa kamu gunduli temanmu"
"Brian kecewa karena mama nggak sayang Brian" kata anak Rival bersama Yara itu.
"Semua pasti ada sebabnya Brian!!"
"Karena mama Shila hanya mama tiri. Mama tiri nggak akan sayang sama Brian" teriak Brian lagi.
"Lancang kamu Brian!!" Rival berdiri sudah mengangkat tangannya bersiap menampar Brian tapi Shila mencegahnya.
"Hanya ucapan anak-anak pa. Nggak usah marah" kata Shila menenangkan Rival.
"Mama sudah janji mau belikan khan sayang, tapi di hari ulang tahunmu nanti" Shila mengusap rambut Brian tapi putranya itu menepisnya.
"Halaah.. bohong. Mama hanya sayang Lilan, Gata saja" teriak Brian meninggalkan Shila dan Rival.
"Briaaaaann!!!!!" Rival memanggil Brian tapi putranya itu tak menggubris.
aerggrrhh..
"Dada Abang sakit sekali dek" Rival memercing kesakitan.
"Shila khan sudah bilang, Abang harus tenang. Jangan banyak pikiran" kata Shila dengan cemas.
-_-_-_-
__ADS_1
Sore hari Shila merasa kepalanya sangat pusing. Shila tidak menyangka di tempat yang baru ini, ia akan hamil lagi. Bahkan berita kehamilannya sempat membuat Rival pingsan di lapangan saking kagetnya.
"Aku harus kuat. Aku nggak mau Abang punya beban pikiran" gumam Shila dalam hati.
***
"Bang Brian.. main yuk!" ajak Lilan.
"Main sendiri sana. Penakut!" kata Brian dengan cuek sambil merakit mobil mainan miliknya.
Lilan berlari dan bermain sendiri di halaman. Saat melihat pohon mangga, Lilan memanjatnya karena Lilan sempat mendengar mamanya meminta mangga kemarin malam dan papanya belum sempat mencarikan mangga.
bruuugghhh...
Terdengar suara Lilan yang jatuh dari pohon dan menangis. Brian segera berlari. Shila yang sedang mual awal kehamilan pun menyusul ke depan rumah. Di lihatnya Brian menggendong Lilan.
"Kamu perempuan panjat pohon. Kalau jatuh begini..terus merepotkan Abang!!" tegur Brian.
"Lilan mau ambil mangga untuk mama" kata Lilan.
"Abang ambil tapi jangan panjat lagi ya!"
Tak lama Brian turun dari pohon dan berhasil memetik lima buah mangga.
"Cepat kasih ke mama. Nggak usah lari" pesan Brian dengan wajah tanpa ekspresi.
#
"Bilang sama Abang Brian. Mama bilang terima kasih" jawab Shila sambil menerima mangga dari tangan Lilan.
#
"Bang, kata mama terima kasih" kata Lilan polos.
"Hmm.." jawab Brian sambil mengupas mangga yang masak di pohon yang sempat ia petik juga.
"Lilan mau bang!" rengek Lilan meminta mangga yang sudah di kupas Brian.
"Cuci tangan!!" perintah Brian. Brian menyodorkan mangga miliknya.
"Di suapin Abang" ucap manja Lilan.
"Manja.." gerutu Brian tapi ia tetap menyuapi Lilan mangga itu hingga Lilan merasa bosan.
.
.
__ADS_1
.