Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
57. Kubawa kau kembali.


__ADS_3

Rival membelai lembut punggung Shila.


"Apa mau latihan taekwondo di halaman? Biar puas marahnya? Abang ladeni dah" kata Rival.


"Mau hajar Abang disini"


"Idiiihh.. maunya yang enak" ledek Rival.


"Abaaangg...." teriak Shila karena malu.


"Ya sudah ayo adu ilmu. Abang mau tau ilmu bini Abang sudah sampai tingkat berapa" ajak Rival.


-_-_-_-_-


Sejak ia bisa mendapatkan Shila, hampir setiap hari ia menginginkan Shila entah sedang lelah atau tidak. Berhadapan dengan Shila membuatnya seakan kecanduan.


Rival memakai celana lorengnya dengan cepat karena sebenarnya ini masih jam kerja.


"Abang keluar dulu ya dek. Jangan keluar kamar kalau tidak ada perlunya. Kamu tau khan ini sarang apa!" kata Rival memberi peringatan.


"Iya bang, Shila ngerti"


"Kalau pulang beli tissue bang! Sudah habis tuh" ucap Shila menunjuk dengan bibir bungkus tissue yang sudah habis.


"Iya.. nanti Abang beli" ucapnya lalu mengecup bibir Shila dan keluar kamar.


***


"Ada yang luka?" tanya Rival pada Gandhi saat melihat gadis itu masih berada di area barak.


"Ada nih bang. Kakinya tertimpa motor" jawab Oka.


Gandhi melipat tangan dengan jengkel melihat gadis itu. Gadis itu juga menatap tajam Gandhi dengan jengkel juga.


"Kamu salah, jangan melihatku begitu" kata Gandhi.


"Abang yang salah tidak segera belok" kesal gadis itu.


"Hiiisshh.. sejak tadi mereka hanya ribut begitu saja bang" Oka mulai ikut kesal.


"Sepertinya mereka jodoh" goda Rival.


"Tidaaakk" jawab Gandhi dan gadis itu kompak.


***


Oka dan Rival tertawa melihat kelakuan Gandhi, tak pernah ia lihat Gandhi bisa kekanak-kanakan berhadapan dengan wanita.


Sejenak tawa Rival itu membuatnya lupa dengan beban hatinya.


Tiba-tiba ada suara teriakan kencang dan Rival sangat tau itu suara Shila.


"Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh... Abaaaaaaaanngg......" teriakan Shila membuat Rival sangat kaget.


"Shilaa!!!" Rival berlari hingga terpeleset di depan pintu kamar mandi.


"Dek.. buka pintunya dek!!" panik Rival menggedor pintu.


Shila terus berteriak histeris membuat Rival bertambah cemas di buatnya.


"Mundur dek!!! Abang dobrak pintunya!!" pintunya.

__ADS_1


"Nggak bang!! Jangan.. Shila takut!!" nada suara Shila begitu ketakutan.


"Kalau takut mundur dek. Abang buka pintunya!!" kesal Rival sudah panik luar biasa.


"Jangan maju!!!!!!" teriak Shila lagi dari dalam kamar mandi.


"Siapa di dalam dek???? B******n!!!" umpatnya kesal. Tanpa menunggu jawaban Shila lagi, Rival menendang pintu kamar mandi itu sekencangnya hingga Shila terdorong dan jatuh disana.


Rival memeluk Shila tapi ia bingung melihat di dalam sana tidak ada siapapun.


"Kamu kenapa?" suara Rival keras tegas melihat Shila sangat pucat, tangannya begitu dingin.


"Aa..adaa tokek bang" suaranya pelan sudah sangat ketakutan. Rival melihat ke atas menurut arah mata Shila.


"Ya ampuunn dek!!!!!" Rival menunduk menyimpan rasa geram dan kesal.


"Kamu bikin Abang ketakutan setengah mati!!!!" bentaknya tapi tetap memeluk Shila.


Oka sudah tertawa ngakak di luar sana mendapatkan pemandangan tegang seolah Rival sudah menjadi Kapten America dan akan bertarung dengan musuh namun kali ini musuhnya hanya seekor tokek.


Kaki Shila gemetar seakan tak sanggup berjalan. Rival mengalah dan membawanya keluar.


"Perkara tokek saja teriaknya seperti mau di sekap aja kamu ini. Tau nggak cemasnya Abang sampai rasanya darah Abang berhenti" Rasanya saat ini Rival tak tahan untuk tidak bernada keras.


Shila bersandar di bahunya dengan lemas sampai anak buah Rival membawakannya segelas air minum.


"Terima kasih" ucap Rival saat menerimanya. lalu meminumkannya pada Shila.


"Ini salah satu sebab kenapa tidak bawa wanita di medan perang. Wanita ini bikin buyar pikiran para pria" ucapnya lagi dengan kesal.


***


"Abang panik dek. Maaf lah Abang tadi marah-marah. Bojo marai panik.. piye Abang ora ambyar to dek" sesalnya.


"Memang sebegitu nya ya wanita membuat pikiran para pria buyar???" kesal Shila.


"Ya memang kenyataannya wanita itu tonggak awal yang buat pria lemah dek. Tanpa dukungan wanita, pria jadi lemah. Tingkah wanita pun juga membuat pria lemah. Wanita itu obat, tapi juga racun" kata Rival.


Shila menoleh melihat ke arah Rival yang duduk disampingnya.


"Maaf.. kadang Abang suka lepas kontrol. Jangan terlalu di ambil hati ya sayang" bujuknya.


***


"Lusa papa pulang sayang!" kata Rival pada Arben. Sedangkan Abrian cuek saja saat papanya bilang akan segera pulang, begitu pun dengan Lilan.


Masa tugas Rival sudah sampai pada purna tugasnya, enam bulan telah berlalu.


Shila hanya duduk di sebelah Rival, sedikit mengintip ke arah ponsel Rival. Ia bahagia bisa melihat anak-anaknya tapi juga sedih mengingat keadaannya.


"Semua akan baik-baik saja" kata Rival sesaat setelah mematikan sambungan telepon nya.


"Shila takut bang" Shila mulai merasa rendah diri lagi.


"Apa yang kamu takutkan? Ada Abang"


"Shila rindu dengan anak-anak tapi Shila juga cemas bang. Apa Shila tidak perlu tinggal di asrama?" tanya Shila.


"Terus kamu mau kemana? Dengar dek! Dimana Abang mengabdi pada negara, disitu lah kamu mendampingi Abang. Abang bukannya tidak mampu memberikanmu tempat tinggal yang layak. Tapi kamu harus mampu melawan segala rasa takut dalam hatimu juga. Sampai kapan bayang buruk itu menghantuimu?" jelas Rival.


"Ikut Abang ya! Abang akan selalu menjagamu"

__ADS_1


Shila mengangguk memeluk rival.


***


Shila berada dalam truk, duduk di depan menatap jalanan yang sulit dan berliku. Perjalanan melelahkan ia lewati seharian ini.


Truk memasuki gerbang Batalyon. Dari sana ia mendengar suara ibu-ibu yang menyambut suaminya pulang bertugas.


Arben, Abrian dan Lilan ikut berbaris di antara mereka, menunggu papanya.. tak tau mamanya akan ikut kembali.


"Abang turun dulu. setelah semua tenang.. Kita keluar menyapa mereka" kata Rival.


"Iya bang"


Rival turun dan memberi penghormatan pada Komandan lalu apel kedatangan.


Sorakan bahagia para istri mengalungkan bunga pada suami mereka masing-masing. Kecuali Rival. Namun kali ini dia tidak sedih walaupun tidak ada bunga penyambutan melingkar di lehernya.


"Assalamu'alaikum pa, selamat datang" sapa Arben. Kata Arben memeluk paha papanya dengan haru. Ia mengalungkan bunga selamat datang.


"Papa.. Abrian kangen" Abrian ikut memeluk paha papanya.


Rival berjongkok, mencium kedua putranya dengan sayang lalu memeluknya.


"Wa'alaikumsalam jagoan. Papa juga kangen sekali sama kalian"


"Hwaaaaaaa, dedek mau peluk papa juga" Lilan berlari, menangis menyerobot masuk ke dalam pelukan papanya.


"Uuhh.. gadisnya papa. Papa rindu anak papa ini. Gadisnya papa sudah minum susu?" tanya Rival.


"Sudah pa" jawabnya manja. Rival pun mengangkat Abrian dan Lilan dalam gendongannya.


"Papa punya kejutan untuk kalian bertiga" Kata Rival.


Tak lama mereka berempat melihat Arshen memeluk seseorang. Nampak Arshen menghapus air matanya.


Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Arshen. Lalu melihat ke arah Rival dan ketiga anaknya.


"Mama????" pekik Arben dengan bahagia. Dia langsung berlari kencang memeluk Shila. Rival berjongkok menurunkan Abrian dan Lilan dari gendongan nya.


"Mamaaaa... Arben kangen mama. Kenapa mama lama pulang?" tangisnya membuat haru para istri dan anggota disana.


Sedangkan Abrian nampak ragu untuk memeluk. Apalagi Lilan yang hanya menatap bingung. Shila menekuk lutut dan membuka kedua tangannya.


"Ini mama sayang.. mama sudah pulang" kata Shila menangis menahan rindu.


"Ayo sana. Itu mama kalian" kata Rival. Abrian dan Lilan pun menyusul mendekati Shila. Abrian menangis meraung di pelukan mamanya sedangkan Lilan masih diam berdiri disana.


Rival berjalan mendekati mereka lalu menekuk lututnya, Rival memeluk istrinya, Arben dan Abrian, Lilan yang merasa tertinggal akhirnya mendesak ikut masuk, ia menangis kencang. Pada akhirnya...


"Mamaaa...." Lilan memanggil Shila.


Tak terbayangkan perasaan Shila saat ini. Haru, rindu, sedih.. semua bercampur menjadi satu. Rival tak luput dari perasaan itu.


"Maaf..maaf.. mama salah sayang.. mama yang meninggalkan kalian begitu lama" tangisnya pecah disana. Rival mencium kening Shila lalu mengeratkan pelukannya lagi.


"Kalian harta Abang. Jangan berpisah lagi. Hati Abang nggak kuat kalau harus kehilangan lagi. Cukup ini saja" isakan seorang suami terdengar begitu pilu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2