
Rival baru saja mencukur rambutnya. Sesaat tadi ia begitu bahagia, namun kebahagiaan nya itu berubah menjadi kecemasan.
"Assalamu'alaikum.." sapanya sesampainya di rumah.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Shila, langkahnya tertatih pelan keluar dari dalam kamar bahkan Shila masih mengenakan kain sehabis melahirkan.
"Kenapa Abang cukur rambut model seperti itu?" tanya Shila yang melihat suaminya mencukur rambutnya hampir botak.
"Nanti juga tumbuh lagi. Abang bahagia saja mendapatkan anak gadis dari kamu. Abang sangat bersyukur kamu dan anak kita sehat"
"Kalau Abang bersyukur, kenapa Abang sedih begitu?" Shila heran.
"Abang besok berangkat satgas BKO menggantikan Nathan. Orang tuanya meninggal tadi pagi. Ini juga mendadak"
"Innalilahi.."
"Berapa lama Abang disana" tanya Shila.
"Enam bulan dek. Itu juga kalau nggak molor" ucapnya sedih.
"Ya sudah bang, hati-hati. Ayo Shila bantu packing barang bawaan Abang" ajak Shila yang langsung pergi dari hadapan Rival padahal dalam hatinya sangat sedih sekali. Shila berjalan pelan. Rival memperhatikan Shila saja begitu tidak tega.
"uugghh..." Shila memegangi perut bawahnya.
"Bagaimana Abang bisa tenang meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Jahitanmu saja belum kering, kamu masih kesakitan dek" cemasnya.
"Shila nggak apa-apa bang, Nanti hilang sendiri sakitnya" kata Shila.
"Jangan bohong. Abang nggak suka di bohongi" tegas Rival.
"Shila nggak bohong bang"
Shila berjalan ke kamar mandi. Tadinya ia ingin jujur kalau ia sangat kesakitan. Tapi karena Rival akan berangkat satgas, ia tidak ingin membuat suaminya khawatir dengan keadaannya.
Shila bersandar di dinding kamar mandi. Pandangan nya masih berputar-putar. Kakinya gemetar. Ingin menunduk.. punggungnya sakit, ingin berjongkok pun tak bisa. Lama-lama ia tidak kuat menopang tubuhnya.
Rival menunggu Shila di dalam kamar cukup lama, tidak biasanya Shila se lama itu berada di dalam kamar mandi.
Rival yang sedang menimang bayinya kembali menidurkan nya di ranjang bayi saat mulai cemas menunggu Shila yang terlalu lama di dalam kamar mandi tak kunjung selesai. Ia segera kesana.
"Dek.. buka pintunya!!! tidak ada jawaban dari dalam sana.
__ADS_1
"Dek!!!" Rival mengetuk pintunya sekali lagi.
"Buka sayang!!!"
Rival menendang paksa pintu kamar mandi.
"Astagfirullah hal adzim..." Rival melihat Shila duduk menekuk lututnya menggigit handuk di bibirnya. Rival gelagapan melihat banyaknya darah di kamar mandi, mau pingsan rasanya ia saat itu.
"Apa yang kamu rasakan!!!!!! Bilang sama Abang dek!!!!!!!!"
Rival mengambil handuk itu dan menutup tubuh Shila. Ia mengangkat nya dan membaringkannya di ranjang.
"Sejak kapan seperti ini?? Kamu selalu Abang temani mandi"
"Dari tadi pagi bang" jawabnya takut karena terlanjur ketahuan.
"Itu parah dek, bisa-bisanya kamu sembunyikan hal itu dari Abang" Rival mengambil ponselnya, tangannya masih gemetar, ia menghubungi Farhan.
-_-_-_-_-
"Maaf saya yang datang memeriksa istri bapak. Dokter Farhan sedang keluar kota" kata dokter Yanti.
"Nggak apa-apa dok, tolong periksa istri saya!"
"Masih tahap wajar, lagipula ini baru hari ketiga persalinan. Membersihkan sisa-sisa persalinan" jelas dokter Yanti.
"Tapi gumpalan darahnya cukup banyak dok" Rival sangat cemas dengan keadaan Shila.
"Jangan cemas pak, akan saya berikan resep obat" kata dokter Yanti.
"Periksa yang benar dok" Rival cemas ada jahitan yang sobek, sebab shila memang tidak bisa diam dan cekatan mengerjakan tugas rumah diam-diam.
***
"Kalian duduk disana sama om Arshen ya! Papa mau bicara sama mama sebentar" Rival memijat pelan kening Arben dan memukul pelan pantat Abrian.
"Kalau seperti ini, Abang tidak akan berangkat" Rival menunggu Shila di rumah sakit karena istrinya harus mengalami jahitan ulang. Rival bersandar di ranjang Shila sambil menggendong si kecil Lila.
"Ini sudah tugas Abang. Berangkatlah.. Shila nggak apa-apa bang"
"Abang bisa saja berangkat, tapi Abang nggak akan fokus disana. baru hari ketiga persalinan sudah ada kejadian jahitanmu lepas. Mau pingsan Abang liat banyak darah. Astagfirullah.." Rival mengusap wajahnya menghapus ingatanya sore tadi.
__ADS_1
"Kalau Abang tidak berangkat, siapa yang akan menggantikan Abang? Ini tugas Abang"
"Ini Abang tinggalkan kamu bukan satu atau dua hari sayang. Ini enam bulan bahkan bisa lebih"
"Insya Allah Shila siap bang. Shila kuat" kata Shila padahal hatinya bertolak belakang.
***
Deru suara truk sudah bersiap berangkat. Rival melihat Shila masih tertatih berjalan pelan sekali sambil menggendong Ariela kecil. Suami mana yang tidak perih hati harus meninggalkan istri yang baru empat hari melahirkan sang buah hati setelah berjuang hidup dan mati.
"Jalan saja belum kuat, kenapa ikut antar Abang?" kata Rival melihat Shila datang bersama Arshen.
"Shila hanya antar Abang sampai kesini. Ini Shila bawakan makanan untuk Abang" kata Shila menyerahkan kotak makan pada Rival. Shila menggendong Lila. Arben dan Abrian berjalan di kiri kanan Shila sambil sesekali terlibat tawuran dengan anak tetangga membuat Arshen sibuk memisahkannya.
"Apa ini dek? Sempat juga kamu buatnya?" Rival terharu melihat pengorbanan Shila.
Belum juga berangkat, rasa rindu Rival mulai terasa. Perhatian kecil dari sang istri telah mengetuk pintu hatinya. Ingin ia menangis mengingat perlakuannya yang tidak adil.
"Ini abon tuna buat Abang"
Rival terkejut tapi ia menyimpan rasa itu. Tidak ingin mengingat Yara lebih dalam.
"Apa Abang suka? Shila lihat Abang suka makan ikan tuna. Jadi Shila buatkan abon tuna untuk Abang" kata Shila
"Iya sayang. Abang suka. Terima kasih" senyumnya.
Rival mengambil Lila dan menggendong nya.
"Sini ikut papa dulu!"
Rival menciumi Lila yang menggeliat dalam gendongan nya. Bayi tertutup bedong Teddy bear berwarna pink.
"Maafkan papa ya sayang. Kamu harus besar tanpa belaian papa, tanpa pelukan papa. Jangan marah sama papa! Papa kerja untuk beli susu kakak dan adik Lila. Baik-baik sama kakak dan mama di rumah ya" Rival mencium lagi pipi putrinya. Ia menghapus air mata yang sempat menetes di pipi putrinya.
"Abang titip anak-anak ya dek. Jaga kesehatan mu. Maaf Abang tidak menemanimu" sesal Rival.
"Iya bang. Abang juga jaga kesehatan.. hati-hati disana bang"
Bunyi klakson truk sudah terdengar. Tanda sesaat lagi perpisahan mereka semakin dekat.
Rival mencium bayinya sekali lagi, berat sekali perasaannya saat mengembalikan putri cantik itu pada gendongan mamanya.
__ADS_1
.
.