Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
94. Yara dan Shila


__ADS_3


Waktu berjalan sangat cepat. Si kecil Agata sudah berusia tiga bulan. Tak ada sedikitpun waktu yang terlewat melihat perkembangan keempat buah hatinya.


"Kamu sekarang sudah lebih kuat khan dek? Abang mau ajukan cuti. Kamu mau kita kemana?" Rival menanyai Shila sekali lagi soal kesiapan hati Shila.


"Jogja bang. Tempat pertama kali kita bertemu. Juga mengenalkan anak-anak sama mamanya"


"Kamu yakin?"


"Insya Allah Shila yakin bang" jawab Shila mantap.


"Baiklah.. Abang akan ajukan cuti kesana. Janji sama Abang..Tidak akan terjadi apa-apa kalau kita kesana"


"Shila janji"


***


Keluarga kecil itu pergi berlibur dengan sangat bahagia. Mereka menempati rumah Randy dan Naya karena mereka sedang berada di luar negeri. Shila sepanjang perjalanan juga mabuk seperti biasanya, hanya bibi yang bisa di andalkan untuk membantu Rival menjaga buah hatinya.


"Sabar!! sebentar lagi sampai" kata Rival.


Arben melihat jalanan disekitarnya.. ingatannya tentang Yara samar muncul begitu saja. Hanya tidak begitu jelas.


"Pa.. di sini ya mama Yara meninggal?" tanya Arben saat melihat kesatrian tempat papanya dulu mengabdi.


"Iya kak" jawab Rival singkat. Padahal Rival pun berusaha menghilangkan memory pahit dalam ingatannya.


Abrian menempel memeluk Shila yang sedang menggendong Agata. Abrian memang tak mengenal sosok ibu kandungnya. Lilan tidur di pelukan Rival.


Rival memejamkan mata berpura-pura ngantuk padahal ia menyimpan rasa takut, cemas, rindu.. juga masih ada sedikit rasa sakit disana. Hanya saja.. ia sudah mampu mengontrol semua rasa itu. Tanpa sadar tangannya menggenggam tangan Shila dengan erat.


***


Rumah berpagar tinggi melayangkan kembali ingatannya saat ia menatap jenazah almarhumah Yara terakhir kalinya. Jantungnya berdegup kencang dan terasa sakit.


"Abang nggak apa-apa" tanya Shila saat mereka turun dari mobil. Shila sedari tadi memperhatikan gerak gerik suaminya.


"Nggak apa-apa sayang" senyumnya alami.

__ADS_1


-_-_-_-


Shila di bantu bibi mengatur agar anak-anak makan siang lalu beristri karena sore mereka akan mengunjungi makam Yara.


"Abang nggak makan?" tanya Shila menghampiri Rival yang menyandarkan diri di sofa, matanya menatap langit-langit ruang tamu.


"Sebentar lagi. Abang belum lapar"


Shila duduk di sebelah Rival, ikut menyandarkan diri di sofa.


"Ingat mbak Yara ya?"


Rival menoleh pada Shila lalu menarik Shila agar bersandar di dadanya.


"Nggak.." jawabnya singkat.


"Rindu juga nggak apa-apa bang. Mbak Yara juga istri Abang"


"Jangan sok kuat!" jemari Rival menyentil hidung Shila.


"Shila harus kuat bang, memang ini kenyataannya"


"Terserah kamu mau bicara apa? Yang perlu kamu tau kamu luar dalam dan apapun itu.. Abang nggak akan ulangi kesalahan yang sama. Semoga kamu bisa merasakan isi hati Abang" belaian lembut Rival sangat menenangkan hati Shila.


"Istri tetaplah wanita, dan Abang paham itu. Silahkan kamu cemburu, karena itu perasaan hati asalkan.. tidak lari dari Abang dan melakukan hal nekat" kecupan hangat mendarat di pelupuk mata Shila.


***


Langkah pasti namun terasa berat Rival paksakan menuju peristirahatan terakhir Yara. Arben menggandeng adiknya di sisi kiri dan kanan.


Rival membuang nafas lembut namun sesak di dada. Ia berjongkok, menarik jemari Shila agar menemaninya. Ia tetap tampan tanpa melepas kacamata hitam yang masih terpasang elegan menutup mata elangnya.


"Assalamu'alaikum sayang.." Rival mengusap batu nisan Yara dengan sebelah tangannya.


"Maaf mas baru bisa mengunjungimu. Apa kata rindu mas sampai padamu? senyum Rival terlihat pahit mewakili perasaannya.


Arben dan kedua adiknya ikut berjongkok seperti papanya. Hanya Arben yang menitikan air mata dan berlinang air mata tanpa suara.


Ada rasa rindu yang Rival tahan, namun memang sudah tak sehebat seperti saat Yara baru meninggalkannya. Mungkin ikatan batinnya dan Shila sudah sangat kuat hingga perasaan Rival pun sekarang bisa ia akui bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Shila.

__ADS_1


"Cantik.. sekarang jagoanmu sudah besar. Istri mas merawatnya dengan baik ( suara Rival sudah terdengar tercekat ). Jodoh kita di dunia sudah usai tapi di duniaNya yang kekal kita akan selalu bersama.. bersabarlah menunggu mas disana" gumamnya amat sangat pelan agar Shila tidak mendengar tapi istri Rival itu mendengarnya dengan sangat jelas.


Mendengar kata itu Shila mengeratkan jemarinya dalam genggaman Rival, ia begitu lemas.. ada rasa takut, tidak rela, yang pasti wajar ada sedikit cemburu. Perlahan Shila berdiri tapi Rival mencegahnya. Rival mengarahkan mereka untuk mendoakan Yara. ##


##


Anak-anak sudah kembali ke mobil karena papanya meminta mereka kembali lebih dulu.


"Maaf, Abang bukannya nggak paham perasaanmu. Sini biar satu sama" ajak Rival pada Shila untuk berjongkok lagi.


Rival mencium batu Nisan Yara.. kemudian beralih mencium kening Shila.


"Bagian mana yang menyakiti hatimu sayang? Abang minta maaf!! Apa Abang mau mati sekarang sampai kamu nggak ikhlas Abang bilang begitu. Abang meminta Yara menunggu Abang disana, bukan berarti Abang mau mati sekarang. Tapi.. jika Abang harus menghadapNya lebih dulu, sampai kapanpun Abang akan menunggumu.. cantik"


Shila begitu lemas hingga ambruk di pelukan Rival, kakinya tak sanggup berdiri..kakinya gemetar.


"Nggak bang!! Jangan pergi.. Shila mohon Abang jangan bilang begitu" isaknya sulit membuang semua perasaanya.


"Ya Allah.. istri Abang melow banget sih.. Makanya Abang khan sudah larang kita liburan kesini.. ujung-ujungnya jadi begini. Abang juga nggak mungkin nggak menyapa Yara" jelas Rival. Tangis Shila malah semakin kencang.


"Abang minta maaf!!! Abang sayang sama kamu dek"


"Shila tau bang, tapi tetap sakit.. sedih hati Shila" ucapnya manja.


Tiba-tiba Arben datang dengan keadaan marah berhadapan dengan papanya.


"Papa kenapa buat mama nangis. Dosa pa!!! Papa harus minta maaf. Ini mamanya Arben. Kalau papa jahat sama mama biar Arben yang jaga mama!!" teriaknya penuh emosi.


Dalam hati Rival tersenyum tapi juga menangis. Putranya itu sudah semakin besar. Sifatnya pun sama seperti Rival.


"Papa minta maaf ya ma! Papa salah.. papa nggak akan ulangi lagi" ucap Rival tulus.


"Nah begitu khan enak.. Damai.. masa cuma bisa bikin perempuan nangis. Laki itu harus gentle.." ucap Arben mengutip mirip omongan Rival tanpa ada yang salah.


Rival menepuk dahinya "Dasar bocah"


.


.

__ADS_1


__ADS_2