
Penugasan selesai tinggal menghitung hari. Sejak kelahiran anak Nurma, camp penugasan tidak pernah sepi. Termasuk Rival yang sedikit terobati dengan hadirnya Nuga disana. Usianya kini sudah delapan bulan dan sangat dekat dengan Gandhi.
"Kita mau kembali pulang. Bagaimana dengan Nuga?" tanya Rival pada Gandhi yang sedang mengasuh Nuga.
"Saya bawa pulang bang! Kasihan Nuga juga" jawab Gandhi.
"Kasihan Nuga atau takut Rindu sama mamanya Nuga?" ledek Rival.
"Jiiaaahh..."
"Iya bang, takut mamanya Nuga di ambil orang" ucap Gandhi.
"Gasak!!! Jangan sampai Abang mau gandeng cucu, kamu masih gandeng anak" kata Rival.
"Ini mau beraksi bang!" senyum Gandhi malu-malu.
"Ya sudah sana!! Abang mau sholat dulu" Rival berjalan masuk ke dalam kamarnya.
#
Rival membuka lemarinya. Ada foto anak dan istrinya.
Yara sayang, kamu tetap dalam setiap doa Abang. Tapi.. namamu hanya dalam Abang sebut dalam hati Abang. Begitulah cara Abang mencintaimu.
Air mata Rival menetes, adas rasa rindu pada almarhumah Yara, tapi saat ini jujur yang teramat ia rindukan adalah Shila istrinya.
Rival menggelar sajadah dan melakukan sholat.
Tiba-tiba ada suara dentuman yang sangat keras. Begitu kerasnya hingga terasa menusuk jantung. Atap kamar Rival berjatuhan bahkan sampai menimpa kepalanya.
Sampai do'a terakhirnya, Rival masih duduk di atas sajadahnya. Sebuah besi baja ringan menghantam belakang tubuhnya. Rival mengerang dalam kesakitannya. Tubuhnya ambruk di sana.
"Tuhan, aku sangat merindukan anak ku. Merindukan putriku, merindukan istriku Yara" matanya hanya melihat puing di sekitarnya.
"Shilaaaa istriku..."
***
Rival membuka matanya, ia tidur di paha Yara.
"Sayang!! mas rindu" kata Rival langsung memeluk Yara.
"Yara juga mas" senyum Yara.
"Pulang ya sayang. Mas nggak sanggup jauh dari kamu" ucapnya memohon.
Tak lama pandangan mata Rival mengarah pada sosok wanita yang sedang duduk di tepi jurang yang hampir runtuh, menangis bersama anaknya. Tangis nya sangat menyakitkan hati Rival.
"Jodoh kita di dunia hanya sampai disini mas. Kelak kita pasti berkumpul lagi. Sekarang kembali lah mas pada Shila. Mas juga sangat mencintainya khan?" tanya Yara.
"Mas mencintai kalian berdua"
"Tapi kami bukan pilihan mas, mas harus ikhlas. Di dunia ada Shila yang menunggu mas, di surga.. Yara pasti akan menunggu mas"
__ADS_1
Perlahan bayangan Yara menghilang, Rival ingin menggapainya tapi Shila pun hampir terjatuh ke dasar jurang.
#
***
Shila menggendong Agata di Batalyon. Belum ada kabar apapun dari satgas Kongo. Shila menenangkan Agata yang menunjuk foto papanya.
"Jangan sayang, papa masih ada. Jangan minta foto itu" kata Shila berurai air mata.
Sesaat kemudian beberapa anggota menyalakan speaker di aula. Wajah mereka menampakkan ketegangan membuat Shila syok tak sanggup berdiri di tempatnya.
"Ijin ibu.. ada kabar terbaru dari satgas Kongo" kata Serka Agus.
"Bagaimana Pak?" tanya Shila dengan suara tercekat, ia bersandar di perut Rakanya.
"Raka.. Shila nggak kuat. Shila mau Abang pulang" pinta Shila meraung.
"Dengarkan dulu!!" kata Arshen mengusap bahu Shila.
Arshen memerintahkan agar kabar itu segera di umumkan.
Serka Agus mengangkat ponselnya lalu membesarkan volume suara speaker Batalyon melalui bluetooth dan meninggalkan ponselnya di tangan Shila.
"Selamat siang. Saya Kapten Rivaldi Alfario mengabarkan, seluruh anggota satgas Kongo dari Batalyon P dalam keadaan aman terkendali. Situasi kondusif dan dalam beberapa hari, satgas akan kembali ke tanah air"
Para istri anggota saling berpelukan merasa lega. Shila lemas dalam dekapan Arshen.
Serka Agus berbincang dengan anggota yang lain.
"Yank.. ayank.. mama Lilan sayang!! Tunggu papa pulang beberapa hari lagi ya!! Papa sudah kangen mama......."
Shila gelagapan mendengar ucapan Rival. Pasalnya suaminya akan punya kelanjutan kalimat kalau tidak segera ia selesaikan sekarang juga. Apalagi satu Batalyon bisa mendengarnya sekarang.
"Om Agus tolong matikan speaker nya!!" pinta Shila dengan gelisah.
Serka Agus terkejut dan segera mematikan speaker tersebut.
Shila menghela napas panjang lalu mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Rival.
"Mama minggir dulu pa, nggak enak kedengaran yang lain" kata Shila membawa ponsel Serka Agus menjauh dari aula.
"Sudah dek??" tanya Rival.
"Sudah bang, bagaimana keadaan Abang sekarang?" Shila mencemaskan keadaan Rival.
"Abang sehat, ini bisa hubungi kamu" jawab Rival padahal disana ia sedang luar biasa kesakitan karena sempat tertimpa bangunan roboh.
"Sudah.. jangan kepikiran Abang!! Pulang dan tidur tenang. Nggak sampai seminggu Abang sudah sampai rumah"
#
Rival berteriak karena pergelangan kakinya sempat bergeser dan para team medis sedang membantu nya.
__ADS_1
"Yang kuat bang, istri dan anak Abang menunggu di rumah!!" kata Gandhi menyemangati.
"Gandhi..yang Abang pikirkan sekarang.. bagaimana dulu semua istri Abang melahirkan anak-anak Abang. Begini saja rasany Abang sudah kapok. Sungguh luar biasa wanita yang mau melahirkan anak demi memberikan keturunan untuk suaminya"
"Iya Abang.. sekembalinya dari sini. Saya mau langsung menikahi Nurma" jawab Gandhi tersipu.
"Widiiihh.. udah berani?" ledek Rival.
"Insya Allah Bang" jawab Gandhi.
***
Shila menunggu di Batalyon dengan gelisah. Tak lama ada mobil datang di iringi yel kebanggaan Batalyon.
Seorang pria nampak turun dengan gagah memberi penghormatan pada Danyon.
Shila mendekati lapangan membawa seuntai bunga juga menggendong Agata.
"Assalamu'alaikum ma, apa kabar?" sapa Rival lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam papa. Mama sehat" Shila menunduk haru, sudah lewat dari satu tahun mereka berpisah. Tepatnya 15 bulan. Shila tak kuasa menahan haru melihat banyak luka di wajah dan terlihat jelas di tangan. Sudah tentu sekujur tubuh sang Danki penuh dengan luka.
"Apa bunga itu untuk pajangan saja?" tanya Rival dengan senyum indah menampakan deretan gigi putih terawat.
"Untuk Abang" kata Shila buru-buru memakaikan rangkaian bunga di tangannya.
"Masa begitu caranya nyambut suami yang baru datang?" goda Rival.
"Terus bagaimana bang?" tanya Shila yang begitu menggemaskan seperti orang baru berkenalan.
Agata menangis melihat papanya, ia merasa asing dengan sosok di hadapannya.
"Sini jagoan papa" ajak Rival yang perhatiannya teralihkan oleh Agata yang semakin besar dan menatapnya dengan heran.
"Om..!!" sapa Agata pertama kali.
Rival membalik senjata di belakang punggungnya.
"Ini papa sayang" kata Rival mengambil Agata dari gendongan Shila.
Agata menciumi pipi papanya dan mendekap wajah papanya. Tak ada kata terucap, namun rindu sangat jelas terlihat dari wajah putra bungsu Rival.
Shila hendak pergi dari sana membiarkan keakraban bapak dan anak tersebut, tapi sembari bercanda dengan Agata tangan Rival meraih jemari Shila lalu tangannya beralih menarik pinggang mama Agata.
"Abang sudah merindukan wangi ini. Papa rindu sekali sama mamanya Gata" bisiknya sambil melirik para anggota di sekitar lalu sekilas mengecup bibir cantik Shila yang sudah ia rindukan.
"Nanti lanjut di rumah" bisiknya lagi.
.
.
.
__ADS_1