
Shila menangis sesenggukan di dada Rival yang tidak pernah ingin melepaskan nya.
"Dia sudah melihat tubuh Shila bang......Abang pantas mendapatkan wanita yang baik. Shila rusak total bang"
Mata Rival terpejam, sungguh kesakitannya kini berkali lipat dengan gemuruh emosi dalam hati. Berat beban yang istrinya pikul mungkin tak sebanding dengan sakit hatinya saat ini. Suami mana yang kuat menerima cobaan seperti ini, tapi bagaimana pun keadaannya ia harus tetap bisa berpikir jernih walau hatinya tidak bertoleransi.
"Abang ikhlaskan" jawabnya mantap meskipun hati jelas tidak kuat.
"Shila nggak mau bang, Abang jangan merepotkan diri Abang untuk mengurusi wanita hina seperti Shila" teriaknya kembali meronta mengibaskan tangan Rival agar tidak selalu menyentuhnya.
"Apa Abang sesuci itu??? Apa kamu pikir Abang ini pria baik?? Dengar Shila, Abang sudah bosan merasakan hitam, gelap dan pahitnya hidup. Jangan memukul rata setiap persoalan. Kamu tidak kotor, kamu tetap istri Abang yang bersih tanpa noda" tak hentinya Rival membujuk Shila.
"Apa Abang tau apa yang Shila rasakan. Kenapa Abang tidak marah dan maki Shila, Shila tidak bisa menjaganya untuk Abang. Shila ingin mati saja bang!!!!!! Shila ini bekas orang, tidak suci lagi"
"Abang memang marah, tapi Abang marah dengan keadaan ini, bukan sama kamu. Abang paham ketidak berdayaanmu Shila. Jangan katakan itu lagi!! Abang tau kamu sudah menjaganya sampai batas kemampuanmu. Suci itu ada dalam hatimu, bukan tubuhmu. Abang sudah mengikhlaskan semua kejadian ini. Abang anggap ini teguran Allah untuk Abang yang sudah lalai menjagamu. Apa yang sudah dia rusak darimu, biar Abang yang merajutnya kembali. Jangan di ingat, buang bebanmu. Biar Abang yang menanggung beban ini. Kamu cukup cintai Abang"
Perkara ini juga terdengar hingga barak anggota.
Tak ada satu orang pun dari mereka yang tidak mendengar musibah Kapten mereka. Tidak ada niat menguping, tapi lebih bagaimana mereka bisa tegar dan bijak sebagai seorang pria menghadapi segala ujian hidup.
-_-_-_-_-
Rival membelai lembut dan mendekap erat tubuh Shila. Istrinya tidur tenang dalam pelukannya karena sudah terlalu lelah menangis.
"Abang tak akan membiarkan kamu hilang dalam genggaman Abang" gumam Rival.
-_-_-_-
Saat Shila sudah tertidur pulas, Rival masuk pada sebuah gudang tempat pria yang membuat Shila hancur saat ini.
"Bangun!!!! Tua bangka b******n" perintah Rival, sorot mata tajam itu sudah terasa menakutkan.
"Ampun pak!!" ucap pria itu memohon.
"Wanita yang kau hancurkan itu adalah istri saya. Harusnya kamu itu di kebiri" ucap Rival geram mengeratkan gerahamnya dengan kuat. Tangan kiri Rival mencekik pria tersebut, sedangkan tangan satu lagi mengepal meninju pria itu.
Rival mengambil cambuknya lalu menghajar pria itu habis-habisan tepatnya hampir mati di tangan Rival.
"Sudah bang!!!!" cegah Gandhi merangkul lengan Rival.
"Kurang ajar sekali. Kau itu pria macam apa berani merusak wanita tanpa daya?????" ucap Rival sangat marah.
"Ampun pak!!! saya salah" ucap pria itu menangis ketakutan.
"Berapa kali kamu menyentuh istri saya???"
"Tidak pernah pak" jawabnya ketakutan seperti tikus tertangkap basah.
"Jawab yang benar. Jangan bohong kamu!!!!!"
__ADS_1
"Satu kali pak" Rival mengayunkan cambuknya. Pria itu langsung berlutut memegangi kaki Rival.
"Dua pak..dua. Sumpah dua kali. Berani mati saya pak!!!" katanya.
"Astagfirullah hal adzim.. Shila" Rival memejamkan mata, menggigit bibirnya. Tak terkira ngilu dan nyeri perasaannya saat ini.
"Sabar bang!! saya tau perasaan Abang. Kita serahkan pada yang berwajib"
Rival melepaskan tangan Gandhi dan membalas pria itu sekali lagi.
"Katakan semuanya atau kau ingin saya antar nyawamu sekarang!!!!!!"
####
Setelah Rival lelah, ia menyerahkan pria itu pada Gandhi.
"Bawa dia pergi sejauh mungkin. Saya tidak mau melihatnya berkeliaran di sekitar sini" tegasnya.
"Laksanakan bang"
"Tunggu!!! Tolong redam masalah ini. Hanya kita saja yang tau"
"Siap!! Aman bang"
-_-_-_-_-
"Ya Allah.. tolong kuatkan aku. Jika aku seperti ini.. bagaimana caraku menguatkan Shila?" gumamnya duduk bersandar di bawah pohon samping barak yang sepi. Matanya nanar. Ingin teriak sekuatnya dan menangis disana.
-_-_-_-_-
"Astagfirullah hal adzim.. Tuhan sakit sekali hatiku ini. Bisakah Engkau kurangi sedikit saja rasa sakitnya" Rival menepuk dadanya yang sesak. Sejadi jadinya ia menangis disana.
"Sabar Abang.. " kata Oka yang tidak tau harus berkata apa. Gandhi pun turut menenangkannya. Rival mengusap wajahnya. Dan masuk ke dalam kamar Shila diam-diam setelah tenang.
***
"Kita keluar kamar ya dek!" ajak Rival yang melihat Shila hanya murung.
Gandhi melihat kedua pasangan suami istri itu begitu menyentuh hatinya.
Jika Abang yang berada di posisi itu, Abang tidak akan sekuat Danki menerima setiap cobaan dengan sabar. Kalau saja kamu liat dek.. di balik suara Danki yang tegar.. tersimpan luka yang sangat dalam, dia menangisimu setiap hari menghiburmu dalam tangisnya.
Shila menggeleng tanda penolakan.
"Apapun itu, Shila akan tetap menyusahkan Abang karena Shila tidak bisa melihat. Apa Abang tidak muak dengan Shila?" ketus Shila.
Rival menghapus air matanya, tidak menggubris ocehan yang tidak ada artinya. Ia menggendong Shila untuk duduk di taman belakang mess.
"Sayang.. bayangkan apa yang ingin kamu lihat saat ini! Mata hati tidak akan pernah tertutup" kata Rival membenahi rok istrinya yang tersingkap.
__ADS_1
"Anak-anak bang, Shila rindu anak-anak" jawabnya jujur dan seketika langsung tertunduk sendu meskipun ada yang lain dalam benaknya.
Tangan Shila tak sengaja memegang dada Rival. Tanpa sadar tangan itu perlahan meraba dada hingga ke wajah Rival. Ada rindu pula dalam hatinya, tapi ia tidak sanggup mengungkapkan..ia merasa kecil berhadapan dengan Rival suaminya. Shila menurunkan jemari nya.
Rival tau Shila pun sama merindunya seperti dirinya, tapi Shila tidak ingin mengakuinya. Rival menarik tangan Shila lagi dan membiarkannya menempel di pipi.
"Kamu tidak merindukan Abang??" tanya Rival.
"Nggak bang" jawab Shila, tapi sorot matanya jelas ia sangat merindukan dan membutuhkan suaminya itu.
"Abang akan membuatmu merindukan Abang" kata Rival.
-_-_-_-_-
Angin sepoi mengayun rerumputan. Rival menatap Shila yang hanya bisa memainkan jemarinya tanpa bisa berbuat apapun. Ingin sekali ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga Shila tidak bisa melihat lagi, tapi ia menahan dulu rasa ingin tau itu sampai saat yang tepat.
"Tunggu Abang disini!" kata Rival. Shila meraba pelan di sekitar nya, sebenarnya ia sangat takut kehilangan suaminya lagi.
Setelah beberapa lama Rival kembali. Ia mengambil sebuah jepit rambut yang menempel di rambut Shila yang tertutup hijab.
"Ini sayap bidadari untuk istri Abang" Rival menjepit sayap bidadari itu. Shila tersentuh dengan perlakuan Rival, tapi ia cukup tau diri untuk meminta cinta dan kasih sayang pria yang masih sah menjadi suaminya itu.
"Biarpun sayap ini patah. Bidadari tetaplah bidadari. Biar semua orang memandangmu buruk. Kamu paling indah di hati Abang"
Para anggota disana menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana usaha dan pengorbanan Kapten mereka untuk mendapatkan kembali hati sang istri.
***
Musim hujan begitu buruk. Ini malam kedua bersama Shila..
"Abang jangan tidur disini!" pinta Shila datar. Padahal ia membuang harga diri. Rival telah membawa dia bersamanya, tapi ia malah sengaja mengusirnya
"Terus Abang tidur dimana?" tanya Rival lembut menyentuh bahu Shila.
"Tidurlah bersama teman Abang. Shila ingin sendiri" katanya sembari menurunkan tangan Rival.
Seperti inikah berjuang mendapatkan cintamu? Abang tidak sanggup membayangkan bagaimana dulu kamu berusaha mencari cinta Abang.
"Baiklah kalau itu mau mu. Selamat tidur" kata Rival berjalan melangkah ke arah pintu. Ia hanya membuka pintu itu, lalu menutup nya kembali tanpa keluar dari kamar. Rival masih berdiri di depan pintu menunggui istrinya yang entah akan berbuat apa.
Shila duduk meringkuk meraba, mencari selimut di sekitar nya. Angin kencang membawa petir menyambar, suaranya begitu memekakan telinga.
"Abaaangg... Shila takut bang" gumamnya lirih dalam ketakutannya. Ia gemetar memeluk selimut di tangannya dalam isakan tangisnya.
Rival merosot di dinding samping pintu itu. Saat ini ia pun berusaha menata hati yang juga remuk dan hancur.
"Bisakah kamu tidak terus seperti ini sayang. Bukan hanya kamu saja yang ingin mati Shila, Abang pun juga begitu. Apa kamu pikir Abang masih baik-baik saja saat ini? Tak terkira sakitnya hati Abang" ucapnya ikut menangis.
.
__ADS_1
.