
Rival berangkat tugas hanya berpamitan dengan putra putrinya, tak ada istri yang mengantarnya berangkat tugas seperti prajurit lain. Hampa..kosong dalam hati.
***
Medan sulit selama dalam perjalanan yang menemaninya. Semua seakan bagai hidupnya yang terjal, tajam dan berliku. Namun kali ini beda, jalur laut adalah sarana terbaik untuk sampai lokasi. Pagi buta mereka tiba di perbatasan.
***
Rival turun dari pohon karena hari ini jangkauan sinyal cukup sulit untuknya mengubungi putra putrinya. Rival merasa lega sudah bisa melihat anaknya walau hanya dari layar ponsel.
Satu bulan sudah ia lewati disana. Sore ini Rival patroli dengan anak buahnya di dekat desa sebelah. Rival mendengar ada kegiatan mengarak kerbau.
"Ijin Kapten. Apa harus di amankan?" tanya Rafael.
"Kalau pakai uang ya harus di amankan" jawab Rival.
"Saya paling senang kalau patroli begini" Celetuk Oka.
"Kenapa?" tanya Rival.
"Cuci mata lah bang, Cari perempuan"
"Cari jodoh atau cari perempuan Dan" goda Rafael.
"Sembarangan kamu. Guling botol kalau sudah sampai camp" kesal Oka.
"Siap" kata Rafael tegas.
"Abang nggak mau cari...." Oka memutus pertanyaannya dan Rival sangat paham maksud Oka.
"Nggak. Shila saja cukup" jawabnya santai tapi dalam hatinya tetap terasa sakit.
-_-_-_-_-
Rival berjalan berpatroli bersama anak buahnya. Gandhi mencari info kemungkinan ada acara arak kerbau atau sabung ayam.
"Bagaimana??" tanya Rival setelah Gandhi kembali.
"Ada.. tapi tidak pakai uang" jawab Rival.
"Cabut.. sambil intai lokasi ini, jangan sampai kita kecolongan" perintah Rival.
Tak lama berselang, Rival dan yang lain melihat seorang wanita di tampar oleh pria pemilik warung makan di perbatasan itu, bahkan pemilik warung itu menendang hingga wanita itu tersungkur di tanah, bajunya koyak. Rival nyeri melihat pemandangan seperti itu. Ia turun dari dalam mobil, diikuti oleh anggota nya.
"Tidak baik memperlakukan manusia lain dengan cara yang buruk" tegur Rival. Gandhi dan Rafael mengamankan pemilik warung makan.
__ADS_1
Wanita itu menangis memegang kaki Rival dengan sangat ketakutan.
"Terima kasih" ucap wanita itu dalam ketakutannya.
Rival seperti tak asing mendengar suara itu. Tapi ia ingin memastikan dengan matanya sendiri. Rival perlahan berjongkok di samping wanita itu. Ia sedikit menyibak kerudung wanita itu lalu mengangkat dagunya.
"Astagfirullah hal adzim.. Shila" gumamnya pelan. Anggota Rival yang lain pun begitu takjub melihat berkah hari ini.
"Aa..Abang Rival" tanya Shila terbata mendengar suara itu.
"Iya sayang.. Ini suamimu!" jawab Rival.
Shila terkejut dan berdiri sekuat tenaga, Shila berjalan cepat berniat menjauhi Rival, ia meraba apa yang ada di sekitarnya hingga akhirnya ia jatuh berguling. Shila menangis disana.
Rival berlari mendekati istrinya, ia merasa ada yang aneh. Rival melambaikan tangan perlahan di depan Shila yang sedang menangis.
"Sayang.. kenapa tidak mau memandang Abang?" tanya Rival ragu.
"Tinggalkan Shila bang" pinta Shila meraba segala yang ada. Rival meraih tangan istrinya dan di genggamnya kuat.
"Kenapa sayang? Sudah sejauh ini Abang baru bisa menemukanmu kembali"
"Shila buta bang"
Pukulan berat bagi Rival melihat istrinya dalam keadaan fatal.
Apa yang terjadi sama kamu sayang? Abang minta maaf.
Rival tidak bisa menerka ucapan Shila, yang jelas saat ini ia sudah menemukan istrinya dan ia tidak ingin melepaskan ataupun kehilangan istrinya apapun yang terjadi. Tapi karena perasaannya sudah terlanjur geram dan sakit, ia tidak tinggal diam dalam hal ini.
"Bawa b******n satu itu ke tempat kita, saya yang akan tangani, saya sendiri yang akan tanggung akibatnya" perintah Rival tanpa bantahan anak buahnya.
***
Rival menggendong Shila ke sebuah kamar di Mess BKO yang kesemuanya adalah pria.
"Mohon pengertian kalian. Bukan niat saya sengaja membawa istri" kata Rival.
"Silahkan Kapten. Kami mengerti kondisi nya. Apapun yang terjadi kami pasang badan" ucap salah seorang anggota dan di setujui anggota lain.
"Terima kasih banyak rekan semua"
-_-_-_-_-
Shila duduk meringkuk memeluk lututnya. Rival menyentuh perlahan tangan istrinya, tapi Shila menolaknya. Pahit, perih dan terluka melihat istrinya ini.
__ADS_1
"Dek.." sapa Rival.
"Jangan mendekat bang, jauhi Shila!!! Shila bukanlah istri Abang yang dulu, istri Abang sudah mati. Ini hanyalah Shila yang buruk, buta dan kotor. Tak pantas untuk Abang"
Rival menarik tangan Shila dan memeluk menyandarkan Shila pada dadanya. Sesak ini pun menyiksa batinnya, rasa benci dan kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa melindungi istri tercintanya.
"Shila tetaplah Shila yang dulu. Istri kesayangan Abang. Abang tetap ikhlas dan ridho menyayangimu, mencintaimu bagaimanapun keadaanmu"
"Nggak bang.. Nggak" Shila berontak dan ingin kabur lagi dari pelukan Rival.
"Abang nggak peduli" katanya sambil mengangkat Shila ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi Shila berteriak histeris saat Rival melepas pakaiannya. Hati Rival kembali teriris perih hingga air matanya tumpah ruah juga disana. Tubuh istrinya lebam disana sini, banyak tanda kemerahan yang membuat darahnya naik hingga jantungnya nyaris meledak karena terlalu sakit. Namun ia menahan dulu semua amarahnya dan tetap sabar.
Rival mencuci rambut shila, memakaikan sabun kesetiap sela tubuh istrinya meskipun berkali-kali istrinya itu menolaknya.
"Jangan menangis bidadarinya Abang, Abang akan tetap mencintaimu seperti ini, tak akan pernah berkurang rasa cinta Abang untuk kamu sayang. Biarkan Abang menjadi mata untukmu dan mengiringi setiap langkah kakimu" Rival menautkan keningnya di kening Shila, menyalurkan segala kerinduan yang ada.
-_-_-_-_-
Rival sudah menggantikan pakaian Shila. Ia meminta ibu bagian dapur yang biasa memasak makanan catering untuk para anggota untuk membelikan beberapa banyak baju dan kebutuhan istrinya.
"Makan dulu ya sayang!" Rival ingin menyuapi Shila, badan istrinya itu semakin kurus. Andaikan Shila bisa melihat, setiap apapun yang dilakukan suaminya itu, tak pernah terlewat dari tetesan air matanya.
"Jangan urus Shila lagi bang"
"Abang masih punya hak untuk mencintaimu, dan masih kewajibanmu menuruti perkataan Abang" bujuk Rival. Setelah begitu lama akhirnya Shila mau makan walaupun tidak banyak. Selera makan Rival juga hilang seketika merasakan keterpurukan Shila.
-_-_-_-_-
Malam ini angin dan hujan lebat di perbatasan begitu dingin. Dinginnya melebihi asrama mereka di kala angin kencang.
Shila duduk di tepi ranjang sambil menggosok pelan kedua lengannya, ia nampak kedinginan. Rival langsung mengambil duduk di belakang Shila dan memeluknya erat. Shila terperanjat kaget mencari pegangan agar bisa beralih dari Rival.
"Mau kemana?" tanya Rival.
"Mau minum bang" jawabnya gugup.
Rival tau Shila menghindarinya dan mengambilkan minum untuk Shila. Istri Rival itu meminumnya.
"Jangan menghindar dari Abang!!" ucapnya lembut mencium bibir Shila.
"Nggak bang, jangan sentuh Shila" Shila berjalan menghindar menabrak ke segala arah. Rival tak tahan melihat Shila yang terus menghindarinya. Ia memeluk Shila kembali.
"Apa yang dia lakukan padamu sampai kamu menolak Abang??" nada Rival sedikit meninggi.
__ADS_1
.
.