
"Abang tinggal ya!" pamit Rival.
Shila menyandarkan keningnya di bahu Rival.
"Cepat pulang ya bang!"
"Pasti sayang. Tahan rindu sebentar saja" Rival mengusap punggung Shila.
"Abang jangan nakal disana" nada suara manja Shila membuat detak jantung Rival semakin kencang. Sisi manja yang sangat ia rindukan.
"Istri satu saja sudah buat Abang kocar-kacir. Mana sempat Abang cari hal di luar sana" Rival semakin mengeratkan pelukannya, tidak ingin berpisah namun keadaan lah yang memisahkan.
"Kita tidur berpayung teduh di langit yang sama, kita berpijak bertanya kabar di bumi yang sama juga, hanya tidak bersanding raga saja. Abang tidak akan macam-macam" bisik Rival.
"Kakak sini!!! peluk papa. Papa mau berangkat kerja dulu" Rival melepas pelukan nya lalu berjongkok mencium kedua jagoannya.
"Jangan nakal ya, nurut apa kata mama. Kakak sekolah yang pintar! Kalian jangan suka berkelahi. Kalian saudara harus saling sayang. Sekarang khan sudah ada adik Lila juga" nasehat Rival untuk kedua anaknya.
"Iya papa" jawab Arben dan Abrian kompak sambil mencium punggung tangan Rival. Mereka langsung berlari bermain bersama temannya.
Rival tersenyum lalu kembali berdiri berhadapan dengan Shila. Istrinya itu sudah menunduk menyembunyikan wajah yang menyimpan air mata. Rival mengangkat dagu istrinya sedikit lebih tinggi agar menatap matanya juga.
"Jangan nangis. Abang juga sama beratnya seperti kamu"
"Iya bang" Shila meraih tangan Rival lalu menunduk mencium punggung tangan suaminya juga.
Wadan menarik lengan Rival memberi peringatan bahwa jam mereka telah usai dan harus segera berangkat. Rival melepas tangannya berbalik badan perlahan berjalan menjauh dari Shila.
Shila menunduk mulai merasa sakit karena terlalu lama berdiri. Arshen berlari menopang tubuh adiknya.
"Ayo pulang, kamu sudah nggak kuat" ajak Arshen.
Langkah Rival terhenti, hatinya tidak karuan. Ia berbalik badan dan berlari ke tempat Shila.
"Ada apa bang? Apa ada yang tertinggal?" tanya Shila menguatkan diri melihat Rival yang kembali.
"Ada...bekal Abang tertinggal" Rival menciumi pipi Shila.
"Abang ingin mencium bibirmu, buat bekal Abang jalan, tapi nggak mungkin Abang mengambilnya sekarang"
"Abang menunduk!!" pinta Shila. Rival pun menuruti istrinya.
Shila sedikit berjinjit dan kini ia yang mencium kening di antara kedua alis suaminya itu.
__ADS_1
"Ini dulu ya bang" kata Shila
"Iya sayang" senyumnya lalu berbalik dan berlari lagi ke arah truk. Wadanyon hanya menggeleng tanpa teguran sedikitpun untuk Danki A. Ia juga paham dengan situasi ini.
Rival naik ke atas truk. Ia masih melihat Shila yang berdiri saja masih di bantu Arshen. Truk sudah berjalan menjauh. Shila lunglai di bahu Arshen.
"Aduh.. " pekik Shila mulai jujur kalau ia kesakitan.
Dari dalam truk Rival mulai cemas melihat Shila yang jelas sekali kesakitan. Ia mencari ponsel nya dan menelepon Arshen.
Arshen mengambil ponsel di sakunya, matanya melotot melihat Rival meneleponnya padahal Danki A itu masih sampai tikungan.
"Kenapa istriku?????" tanya Rival panik
Arshen belum sempat menjawab, Rival sudah bertanya lagi.
"Istriku kenapa?????"
"Nyeri lagi bang" jawab Arshen.
"Bawa pulang cepat, istriku pasti kesakitan. Panggil dokter Yanti!! Saya titipkan istri dan anak-anak saya sama kamu. Tolong jaga mereka" ucapnya mulai dari kepanikan tegang hingga melunak penuh permohonan.
Arshen mematikan ponselnya.
"Raka bisa mati di tebas Abangmu itu kalau kamu kambuh lagi"
Shila tersenyum penuh arti.
"Ayo pulang.. Shila sudah nggak kuat berdiri" ajaknya pulang.
***
Rival bersandar lemas di bawah sebatang pohon tua sehabis lapor kedatangan, tangannya hanya bisa memutar ponsel tanpa paham apa gunanya. Hatinya tak tenang, tak tega.
Apa kamu akan baik-baik saja dek? Semoga kamu bisa memaafkan dan memahami Abang. Cinta Abang untuk negara, ada di pundak Abang, tapi cinta Abang untuk kamu ada dalam dada Abang.
Sepanjang hari ini Rival larut dalam kecemasan tak ada suara terdengar dari bibirnya bahkan perintah pun tak ada. Baru datang saja Rival sudah mendapat teguran karena terbalik memasang atribut di dada.
Serma Hasim mencoba menenangkan hati Rival.
"Kapten.. boleh kita gundah, tapi kita ada dalam tugas. Bisa bahaya untuk diri Kapten sendiri kalau tidak fokus"
"Dalam diri kita banyak ketegaran yang di buat-buat seolah kita kuat. Kalau tidak karena tugas, Saya juga pasti memilih berlari pulang" ucapnya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah pesawat mendarat, Arshen memberi kabar, Shila harus kembali lagi ke rumah sakit karena ada masalah pasca persalinan.
Jika bukan karena ia sedang menjalankan tugas sebagai prajurit, ia akan benar berlari pulang. Rival merutuki dirinya tanpa henti. Bagaimana bisa ia meninggalkan istrinya melewati kesulitan ini sendirian.
"Saya mengerti Kapten. Apa ada arahan selanjutnya untuk anggota?" tanya Serma Hasim.
"Tidak ada, silahkan hubungi keluarga kalian masing-masing. Besok pagi saja kita mulai kegiatan. Hari ini konsentrasi saya benar-benar terpecah... Maaf!!"
"Siap Kapten"
-_-_-_-_-
Rival mencoba menghubungi Shila, ia ingin tau, apakah Shila akan mengadu tentang keadaannya hari ini.
"Assalamu'alaikum sayang.. lagi apa? kenapa tidak bisa di hubungi?"
"Wa'alaikumsalam..Tiduran saja bang. Abang sudah makan?" tanya Shila walaupun suaranya terdengar lemah.
"Sudah.. kamu sudah makan apa belum? Anak-anak bagaimana?" tanya Rival basa basi seolah tidak tau.
"Sudah juga bang. Anak-anak sudah tidur, Abang terlalu malam telepon nya" jawab Shila.
"VC yuk sayang" ajak Rival.
"Eehhmm.. Shila agak ngantuk bang. Takut si dedek bangun juga" kata Shila membual.
"Ya sudah, cepat istirahat"
"Iya bang. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam.." Rival mengurut keningnya. Istrinya sungguh tidak ingin membuatnya cemas, tapi saat ini ia sudah sangat cemas luar biasa.
-_-_-_-_-
"Raka nggak bilang bang Rival khan kalau Shila disini?" tanya Shila pada Arshen.
"Nggak" jawab Arshen membual mantap. Padahal ia selalu mengabari Rival setiap apapun yang terjadi dengan Shila dan anaknya.
"Terima kasih Raka" Shila tersenyum lebih tenang.
Coba saja Raka bohong sama Abangmu itu. Bisa di beset nggak karuan Raka dek.
.
__ADS_1
.