
"Karena seharusnya anak keduamu tidak bisa di pertahankan, terlalu beresiko.. dan lagi plasenta previa tidak boleh berhubungan badan"
"Kenapa kamu nggak bilang Farhan????" bentak Rival.
"Karena Yara ingin kamu menikmati kebersamaan dengan nya. Dia memberiku surat bermaterai ini, berjaga jika suatu saat kamu akan menanyakan nya" Rival membaca surat pernyataan bermaterai itu, memang ada tanda tangan Yara disana.
"Astagfirullah dek. Apa yang kamu rasakan saat itu? Kamu menyimpannya sendirian tanpa mas dek.. Ya Allah Yara!!!" Kaki Rival lemas tak bertenaga. Ia syok mendengar semua kenyataan ini. Rival meremas surat di tangannya itu. Setetes air mata ia hapus berharap Shila tidak melihatnya.
"Dokter.. bisakah saya pinjam ruangan ini sebentar saja. Suami saya butuh menenangkan diri" ijin Shila.
"Silahkan!!" Farhan keluar dari ruangan. Shila pun berdiri. Rival dengan cepat meraih tangan Shila.
"Jangan tinggalkan Abang" tatapan mata Rival sangat sendu penuh permohonan.
Shila memeluk Rival, kepala Rival tepat berada di perut Shila. Istri Rival itu merangkul bahu Rival. Shila mengusap dada suaminya.
"Kalau Abang ingin menangis.. menangis lah bang!! Shila tak apa. Shila janji nggak akan sedih lagi Shila janji nggak akan cemburu lagi kalau memang Abang belum bisa sepenuhnya sayang sama Shila" Shila mendekap pasrah pada Rival.
Rival menarik Shila untuk duduk di pangkuannya.
"Jangan menangis sayang. Abang tau Shila masih mengira Abang belum sepenuhnya mencintai dan menyayangi Shila. Maafkan Abang yang selalu membuatmu salah paham. Shila yang sudah buat abang mengerti arti dari sebuah kesabaran, Shila yang sudah menyadarkan Abang bahwa kita ini saling membutuhkan, dan Shila yang sudah membuat Abang memahami bahwa hati Abang ini memang mencintai Shila"
Rival menyebut nama istrinya berkali kali agar Shila paham kalau memang Shila yang saat ini sungguh ia cintai.
"Abang ingin menangis?" tanya Shila mengusap air mata Rival padahal air matanya sendiri berlinang deras.
"Iya, tapi Abang menangisi mu, bukan Yara"
"Shila bang?" tanya Shila heran.
"Iya..kamu sayang"
"Ada apa dengan Shila bang?"
"Abang akan menjawab dengan sejujurnya. Abang sangat takut kamu akan bernasib sama seperti Yara, akan menanggung segala kesakitan sama seperti Yara. Abang tidak tega. Abang tidak sanggup harus melihatmu seperti Yara karena Abang. Abang takut kamu akan tinggalkan Abang"
"Ya Allah bang, jangan berpikiran buruk terus. Shila ikhlas dan ridho hamil anak Abang. Shila tidak akan pernah tinggalkan Abang" Shila mendekap erat Rival di dadanya. Detak jantung Shila menenangkan hati Rival.
"Dengar Shila bang. Melahirkan adalah sebuah kodrat. Biarkan Shila hamil tanpa bayangan ketakutan Abang. Do'akan Shila seperti yang selalu Abang lakukan agar kehamilan Shila ini lancar dan tidak ada halangan apapun sampai shila melahirkannya"
"Iya sayang. Abang pasti mendoakan dan meminta yang terbaik pada Tuhan"
__ADS_1
"Ya sudah bang, kita minta Om Farhan untuk USG yuk!" Rival tersenyum mengiyakan. Hatinya kini sudah lebih kuat
***
"USG apa?" tanya Farhan.
"Biasa saja" jawab Rival.
"Nggak mau coba 4D?" Farhan menawari.
"Tidak boleh ada barang lain yang menjelajahi tubuh istriku" gerutu Rival.
"Elu nggak berubah ye Val kalau masalah cemburuan. Ini alat..hanya alat" Farhan menegaskan sambil menunjukan alat 4D TransV.
"Sakit nggak dok?" tanya Shila polos.
"Nggak..masih lebih menyiksa punya dia" jawab Farhan memonyongkan bibirnya menunjuk bagian bawah Rival.
"Sudah yang biasa saja. Bagian selanjutnya biar Abang yang cek sendiri!" ucap Rival tegas.
"Oke" Farhan angkat tangan menyerah.
***
"Sesenang itu bang?" tanya Shila.
"Iyalah.. Abang dapat dayang cantik" ucapnya merasa menang.
"Sesuai yang Abang mau" kata Shila. Rival tertawa bahagia.
"Kita cari makan dulu ya! Kamu mau apa sayang" tanya Rival.
"Bakso boleh mas?"
"Jalaann!"
***
Shila dan Rival masuk ke kedai bakso yang ramai disana.
"Kamu duduk disana dek, biar Abang yang pesankan kesukaan mu"
__ADS_1
"Nggak mau, Shila pengen lihat sendiri" kata Shila.
"Ya sudah sini, jangan jauh dari Abang..nanti tertabrak orang" Rival menarik tangan Shila mengarahkan nya agar berjalan di belakang punggungnya agar tidak tertabrak orang lain.
Tak jauh dari tempat Rival ada sepasang kekasih yang nampaknya sedang bertengkar. Rival menggeser Shila agar lebih berlindung di balik badannya. Sepasang kekasih itu adu mulut. Seorang pelayan meletakkan bakso dengan kuah panas yang masih mengepul. Si wanita mengangkat mangkok tersebut tapi si pria menghempaskan mangkok itu hingga kuah panasnya mendarat di perut Shila.
praaakk..pyaaarrrrr....
"Aaawwhh.. Abaaang..panas..sakit" Shila berteriak mengibaskan pakaiannya yang terkena kuah panas.
"Ya Allah dek, sakit ya!!!" panik Rival langsung menyambar serbet di atas meja saji dan sedikit membersihkan kuah panas itu dari perut Shila. Rival sangat geram tapi ia mengutamakan istrinya dulu daripada emosinya.
Saat Rival masih fokus dengan Shila, Pria itu melempar uang untuk membayar keributan yang ia buat ke meja kasir. Si wanita terus merajuk membuat si pria semakin kesal dan mendorongnya dengan kasar hingga menabrak Shila.
Aarrgghh
Shila terdorong hingga mundur menabrak meja.
"Astagfirullah...!!!!!!!!" Untung saja tangan Rival masih sempat menangkap Shila. Shila tidak jadi jatuh terduduk.
Rival menarik kain lengan baju pria itu dengan paksa dan menyeretnya keluar kedai. Bapak dua anak itu memiting tangan pria itu dan menendang tengkuk kakinya agar berlutut.
"Sedari tadi saya menahan kesal melihat kelakuanmu. Kamu hampir mencelakai istri saya!!!" mata Rival merah padam dengan amarah yang memuncak.
"Istri??? Yang mana istrinya? Semua wanita yang saya temui sok cantik.. murahan" tanya pria itu masih tanpa rasa bersalah.
Rival tak terima istrinya menjadi bahan kekesalan orang. Rival memelintir dan membanting pria itu dengan kalap.
Shila yang sudah merasa lebih baik setelah di tolong orang-orang, segera menemui suaminya di luar. Betapa terkejutnya Shila melihat suaminya sudah membuat bonyok pria itu di halaman kedai dan menjadi tontonan orang. Shila menarik lengan Rival. Rival menuritinya dan mengurangi tenaga agar Shila tidak terpental saat menariknya. Shila ketakutan melihat amarah Rival segera memeluk nya.
"Abang.. sudah cukup bang, Shila nggak apa-apa. Jangan marah lagi. Shila takut"
Tiba-tiba ada dua orang berseragam loreng.
"Bisa ikut kami???"kata salah satu pria berseragam loreng.
"Siap" jawab Rival.
Ia tau sudah sudah melanggar peraturan karena berkelahi di muka umum. Rival memang sedang tidak berseragam, tapi ia melupakan kalung dan jaketnya, menunjukan sedikit identitas nya sebagai tentara.
.
__ADS_1
.