Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
63. Batin seorang suami ( 3 )


__ADS_3

Shila nampak kesakitan di sana. Arshen sedang tidak di tempat karena harus persiapan berangkat dinas.


Mau bagaimanapun juga, tetap rasa tidak tega Rival mengalahkan segalanya. Ia masuk menemani Shila.


"Sejak kapan kamu tau dia ada disini?" usapnya lembut pada perut Shila. Rival membungkuk mencium perut rata itu.


"Kemarin pagi bang" jawab Shila.


"Ada detak jantung kecil yang harus kamu jaga. Sebenarnya ini terlalu cepat. Anak kita masih kecil. Tapi Abang tidak pernah menolak apapun rejeki yang Allah beri. Semua nikmat dari Tuhan" ucapnya sendu.


"Iya bang"


"Dek.. kamu cinta Abang nggak?" tanya Rival.


Shila ragu untuk mengangguk, tapi mata Rival tau cinta itu sangat besar.


"Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Abang harap kamu bisa bantu Abang menjaga anak kita"


Rival mengusap pergelangan tangan Shila yang sakit. Rival meniupnya saat Shila merasa sakit menerima sentuhannya.


"Abang lebih baik hilang akal dan menyusulmu kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu"


"Raka kemana bang?" tanya Shila mengalihkan perhatian.


"Raka mu berangkat dinas luar. Dan sekarang hanya ada Abang disisimu. Kamu mau lari kemana?"


Air mata Shila menetes. Ia bingung harus bagaimana.


"Kamu nggak mau hidup dengan Abang? Kamu takut menyusahkan Abang?" tanya Rival.


"Kalau kamu jauh dari Abang, itulah hal yang paling menyusahkan Abang"


"Abang susah harus mencarimu. Tak tau keadaanmu, mencemaskanmu. Mengertilah juga keadaan Abang sayang"


Pintu kamar terbuka, Oka masuk kedalam kamar rawat Shila.


"Ijin bang, mengantarkan obat Abang"


Rival mengkode keras pada Oka agar diam.


"Abang sakit?" suara serak Shila merasa cemas dengan keadaan suaminya.


"Nggak sayang.. ini hanya vitamin saja. Kamu khan tau pekerjaan Abang banyak" jawab Rival.


Shila menatap Oka meminta ketegasan jawaban.


"Iya Bu, Abang sedikit lelah saja" jawab Oka.


Rival tersenyum pada Shila agar istrinya itu tenang. Rival melirik ke arah Oka.


***


"Kamu mau kita punya rumah di Jawa atau disini dek?" tanya Rival.

__ADS_1


"Di Jawa bang"


"Kalau gitu besok kita masuk rumah kontrakan di perumahan sebelah ya? Atau kamu lebih nyaman hidup di pedesaan?" tanya Rival lagi.


"Shila nyaman dan tenang di dalam asrama.. tapi..."


"Abang terserah kamu saja. Kamu nyaman di luar..ayo kita keluar, kamu mau di asrama Batalyon.. ya ayo aja. Asal satu tidak terulang hal seperti kemarin. Itu membunuh Abang perlahan" kata Rival.


"Shila sudah paham salah Shila bang. Shila minta maaf"


"Istri cantik Abang" senyum Rival mengusap pipi Shila.


-_-_-_-


"Mama...mama sudah sehat?" Arben menangis memeluk Shila.


"Iya sayang" Shila tersenyum senang memeluk putranya.


"Makanya kamu nggak boleh main benda tajam ya" kata Randy setegas mungkin.


"Iya Opa. Arben sudah buang semua yang tajam biar mama nggak kena lagi" polosnya.


Shila menutup mulutnya lalu berlari ke kamar mandi, mulai muntah lagi.


"Maaf pa sebentar" Rival mengikuti Shila.


Shila muntah hingga tidak ada yang bisa keluar lagi dari perutnya. Perutnya bergejolak sampai Rival harus memapahnya.


"Isi lagi pa" senyumnya.


"Astaga.. bukan main. Sekali senggol gol terus" Randy tertawa menggeleng kepala.


"Ya ampun.. Rival" Naya ikut tersenyum geli.


"Hmm.. Val.. papa mau bicara serius" kata papa.


"Ada apa pa?" tanya Rival.


"Papa mau keluar negeri besok lusa. Apa boleh cucu-cucu papa ini, papa bawa ke Belanda. Jujur papa dan mama tidak bisa jauh dari mereka. Terutama Lilan.. papa sudah jatuh cinta sama cucu papa itu" ijin Randy.


Rival belum bisa menjawabnya. Bahkan Shila masih menatap wajah Rival yang menimbang keputusan. Rival melirik Shila. Ia takut akan melukai perasaan Shila apalagi saat ini keadaan mereka sedang banyak masalah.


Shila paham. Anak-anak adalah hartanya dari istri pertama Rival. Shila mengangguk menguatkan suaminya. Rival mengusap pipi Shila.


"Pa.. Rival banyak kekurangan waktu dengan anak-anak. Apalagi Arben dan Abrian adalah amanah dari Yara. Rival mau saat pulang ada tawa canda riang mereka meskipun kadang tingkah mereka membuat Rival kesal juga. Hanya itu kenangan dari Yara yang Rival punya" jawab Rival.


"Maaf ya sayang.. kalau Abang menyinggung perasaanmu. Itu hanya sebatas kenangan saja" ucapnya pada Shila.


"Shila paham bang. Shila sudah tau bagaimana rasa cinta Abang untuk Shila"


"Terima kasih banyak sayang"


***

__ADS_1


"Abang mau kemana?" tanya Shila pada Rival yang rapi dengan seragamnya.


"Ke Batalyon dek"


"Ada apa bang?


"Menyelesaikan semua masalah" ucapnya datar


"Shila mulai belajar berbesar hati bang" cegah Shila yang tau Rival pasti akan marah besar disana.


"Iya kamu belajar berbesar hati. Tapi Abang tidak bisa diam begitu saja. Abang tidak terima istri Abang jadi bahan hinaan orang. Mereka harus membayar mahal atas semua tindakan tak bertanggung jawab itu" kesalnya.


-_-_-_-


"Tapi pak, saya hanya mengungkapkan faktanya" ketus Bu Salim.


"Fakta yang mana???" tegas Rival.


"Awalnya Bu Shila itu pengasuh putra bapak. Lalu bapak nikahi. Janggal sekali bapak mau menikahi pengasuh" ucapnya lantang.


"Apalagi????" tantang Rival, tapi matanya sangat jengkel melihat mata Pak Salim dan Pak Wisnu bergantian.


"Saat pak Rival dinas luar malah Bu Shila kabur meninggalkan anak-anak. Pak Rival menemukannya di perbatasan, acak-acakan, buta karena kena tulah. Yang saya dengar Bu Shila kerja disana" sahut Bu Wisnu.


"Iya pak, kami hanya prihatin saja dengan nasib bapak yang mau ditipu wanita cantik tapi tidak bermoral. Sudah di rusak masih saja mendekati bapak. Bu Yara dulu tidak akan begitu karena, Bu Yara memang berpendidikan" lantang Bu Salim.


Rival mengurut dadanya, ia mengerjap membendung air matanya. Batinnya terluka, teriris perih mendengar kedua provokator yang hampir membuat Shila dan calon bayinya meninggal.


"Asal kalian tau, istri saya itu berpendidikan. Dia bukan wanita yang mudah mengadu. Pak Salim dan Pak Wisnu. Apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi saya? Sakit atau tidak?" tegur Rival pada Pak Salim dan Pak Wisnu.


"Siap!!"


"Itulah perasaan saya saat itu"


Zein, Oka, dan para perwira mengawasi Pak Salim dan Pak Wisnu untuk 'di adili'


"Istri saya tidak bisa memandang saya, pakaiannya koyak, sekujur tubuhnya penuh luka. Istri saya sangat ketakutan, setiap saat mengingat peristiwa buruk itu. Setiap hari menangisi dirinya. Lebih dari dua bulan saya mengembalikan kondisi mentalnya. Kalian khan perempuan, apa rasanya kehilangan kehormatan yang kalian jaga untuk suami kalian? Saya tegaskan disini sekali lagi. Istri saya tidak melacur" berat hati keluar dari bibir Rival perkataan keji itu. Ia bertumpu pada sisi meja.


Tidak ada suara menggelegar dari mulut Danki, tapi aura suami Shila itu sungguh menakutkan.


"Saya mutasi kalian ke Timika" perintah Rival sesuai ijinnya pada Danyon.


"Nggak bisa gitu donk pak. Ini khan hanya salah paham saja. Kenapa harus sampai mutasi jauh?" protes Bu Salim dan disana Bu Wisnu menangis menyadari kesalahannya.


"Kesalah pahaman yang membuat nyawa istri dan calon bayi saya melayang???" Rival menggebrak meja dan membentak kuat baru membuat suasana disana menjadi dingin dan angker.


Seisi ruangan ikut kaget ternyata Shila sedang hamil.


Shila membuka pintu ruangan, ia berlari cepat dan memeluk suaminya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2