
Si Nyonya Rivaldi sudah tidur di ruangan Danki bersama Lilan setelah lelah mengerjai suaminya.. Istri Danki langsung tidur pulas tanpa syarat.
"Paling bisa ya kamu kerjain Abang" Rival mengusap pipi Shila.
Rival duduk dan membaca konsep penyambutan panglima beberapa hari lagi. Ia melirik lagi ke arah Shila, perasaannya tidak tenang mengingat pesan Farhan beberapa waktu yang lalu.
flashback on
"Sama seperti almarhumah Yara dulu. Istrimu Shila tidak mau kalau kamu cemas dengan keadaannya. Posisi bayimu sungsang, tapi tenang saja. Ini khan masih usia kehamilan tujuh bulan, masih bisa berubah sewaktu-waktu. Hanya saja pinggul istrimu sempit. Kamu tau itu khan? Juga ada komplikasi darah tinggi sama seperti pada saat Shila melahirkan Lilan dulu" kata Farhan menjelaskan.
"Astagfirullah hal adzim.. terus bagaimana?? Kenapa dia tidak bilang padaku" raut wajah Rival berubah muram dan sedih.
"Ya pahami lah bro, kurangi sedikit aktifitas ranjangmu. Juga jaga agar istrimu tidak terlalu capek dan stress"
"Apa ada masukan yang aman untuk persalinan istriku bro?" tanya Rival.
"Saran gue, operasi bro" jawab Farhan
"Tolong jadwalkan!! aku percayakan penanganan istriku sama kamu" ucap Rival penuh harap.
"Santai lah sedikit" Farhan menepuk bahu Rival yang nampak cemas.
flashback off
"Abang pasti menjagamu baik-baik sayang. Abang juga akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu dan anak kita" gumam Rival lalu menyandarkan keningnya pada jemari yang bertaut, bertumpu pada meja kerjanya.
eegghhh..hhgghh..
Ya Allah, apa aku terlalu lelah belakangan ini? Dadaku terasa sakit sekali.
Rival mengusap dadanya, memperingan rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerang. Ia menggigit bibirnya mengalihkan rasa sakitnya saat tekanan semakin kuat terasa menyerang rongga dada.
Tangan Rival meraba mencari obat di dalam tasnya. Rival meminum obat terakhirnya dan menyimpan botol obat itu dalam laci.
"Duuhh.. aku lupa order obat ini. Nanti aku akan hubungi Naura agar orderkan obat ini lagi" batinnya.
Shila terbangun dari tidurnya, rasa badannya nyaman sekali karena bisa tidur siang. Shila mencium putri kecilnya yang sudah aktif dan usil.
"Hhmm.. enaknya yang baru bangun tidur" sapa Rival tersenyum menyambut istrinya.
Shila membalas senyuman Rival.
"Abang masih kerja?" tanya Shila.
"Iya donk. Kerja keras buat anak istri Abang"
"Istirahat bang, mata Abang merah sekali. Abang kelihatan lelah sekali" kata Shila.
"Iya.. Abang memang lelah. Tapi Abang bahagia lelahnya Abang bisa menjadi senyum bahagiamu sama anak-anak"
Berisik suara HT terdengar jelas. Ada panggilan untuk Rival agar segera merapat ke lapangan tembak.
__ADS_1
"Abang tinggal sebentar" sambil mengecup kening Shila.
Rival berpapasan dengan seorang ibu pengurus organisasi. Nampaknya ibu itu mencari Shila. Rival mempersilahkan ibu itu masuk ke dalam ruangan.
"Ijin Bu Rival. Saya mau minta tanda tangan ibu"
"Oohh iya.. mari masuk Bu!!
Shila mencari pena untuk menandatangani surat. Shila membuka laci meja Rival dan mengambil pena disana.
"Oke, sudah nih" Shila menyerahkan berkas itu.
"Ijin ibu, terima kasih. Ijin saya mendahului"
"Iya Bu. Silahkan" jawab Shila.
Shila kembali terfokus pada botol obat disana.
"Apa ini vitamin Abang?" batin Shila.
"Aahh.. kubawa saja. Kalau keluar biar aku belikan di apotek" Shila memasukan botol obat itu kedalam tasnya.
***
Para anggota melaksanakan tugas sesuai porsinya masing-masing, tak terkecuali Rival yang sedang gladi tarung derajat untuk kegiatan penyambutan panglima.
Shila menghampiri Rival.
"Bang.. Shila pengen Taekwondo"
"Kamu boleh minta macam-macam sama Abang. Tapi jangan coba minta yang nggak mungkin Abang kasih" kata Rival kesal.
"Shila khan cuma bilang pengen. Nggak ajak Abang duel" kata Shila pelan.
"Sumpah ya, Abang nggak paham kenapa hamilmu ini ngerjain Abang banget"
Shila memilih pergi, padahal Rival tidak berbicara keras padanya tapi hatinya terasa sangat sakit. Rival pun tersadar pasti Shila akan terbawa perasaan.
Tubuh kekarnya itu maju, memeluk dan mendekap Shila dari belakang. Tangannya mengusap dada Shila menenangkan hati istrinya.
"Maaf kalau Abang kasar! Jangan marah ya sayang! Belakangan Abang serba salah menghadapi mu"
"Shila nggak tau bang, kenapa Shila bisa jadi begini. Yang Shila tau, Shila menginginkan yang Shila mau itu"
"Iya sayang.. maafin Abang yang nggak sabaran" Rival mengecup kening Shila.
"Telan bang.. Mangsa empuk tuh" goda Oka membuyarkan keromantisan Abangnya.
"Iisshh.. lahirmu di lepeh ya? nggak bisa liat orang lagi romantis kok selalu muncul tiba-tiba?" kesal Rival.
"Ngomong-ngomong kenapa wajahmu kusut begitu?"
__ADS_1
"Naura bang, setiap lihat saya pulang kerja selalu muntah bang. Seperti kesal lihat wajah saya bang" keluhnya.
"Hahaha... ada ya anak kesal lihat wajah bapaknya???" Rival tertawa terbahak melihat ekspresi bingung Oka.
"Apa maksudnya bang?"
"Hamil tuh si Naura" kata Rival.
"Ngawur aja Abang. Abang khan nggak ikut urunan" celetuk Oka.
Rival kesal dan meninju lengan Oka.
"Sembarangan aja moncong kau itu. Kamu tau nggak riwayat hidup saya. Sudah enam kali ngehamilin istri. Khatam lah Abang!!" ucap Rival dengan sombongnya.
"Abang iiihhhh... jangan besar kepala donk!! Shila yang malu bang" gerutu Shila.
"Abang nggak besar kepala. Cuma congkak sedikit"
"Abaaangg" Shila memukuli Rival agar mulut suaminya itu berhenti bicara.
***
Shila duduk di ruang tengah sambil meluruskan kaki. Ia merasa begah dan sulit bernafas. Bibi memijat kaki Shila yang bengkak.
"Ibu besok pagi mau ikut kegiatan? Apa ibu masih kuat?"
"Iya bi, besok saya ikut. Kalau nggak kuat saya istirahat.. khan ada Abang Rival juga disana" kata Shila.
"Bu.. bibi lihat ibu lemas sekali, seperti ada tanda mau melahirkan.. perut ibu sudah turun ke bawah"
***
Pagi ini Shila sudah masuk Batalyon. Yel-yel sudah berseru riuh. Shila memilih menyingkir dari hingar bingar disana. Perutnya terasa sangat sakit. Pagi tadi Rival menghajarnya habis-habisan.
Rival mencari keberadaan istrinya tapi tak menemukannya juga. Danki A itu meninggalkan tempat menyerahkan urusan yel itu pada Oka dan mencari istrinya.
"Dek, kenapa disini sendirian??" tanya Rival sesaat Shila bersandar di dinding luar toilet. Ia melihat wajah Shila sudah pucat.
"Bang, perut Shila sakit sekali" kata Shila yang langsung memeluk suaminya sambil menahan rasa sakit.
"Duduk dulu disini dek" ajak Rival sambil menarik sebuah bangku.
"Abang.. Panglima kapan datang??" tanya Shila.
"Itu sudah sampai depan... Kenapa??" tanya Rival.
Shila menggigit bibir bawahnya dan memegang pakaian Rival seerat-eratnya.
"Kenapa??? bilang sama Abang??" Rival mulai panik melihat Shila.
"Ada rasa keram bang. Hilang timbul"
__ADS_1
.
.