Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
36. Berat


__ADS_3

"Abang selalu membohongi mu. Tentang Yara. Abang belum bisa sepenuhnya mengesampingkan Yara dalam hati Abang" sesal Rival.


"Shila sudah tau bang"


"Apa yang kamu tau?"


"Semua bang. Abang sering mengigau tentang mbak Yara, Abang sering menangisi mbak Yara. Menyimpan foto-foto mbak Yara, ada puisi cantik untuk mbak Yara dan bukan hanya sekali Abang menyebut namanya saat kita bersama"


"Maaf Abang menyakitimu"


"Sudahlah bang, Shila sudah tidak memikirkan nya lagi. Abang pun sudah jujur sama Shila. Shila hargai itu" Rival memeluk erat wanita yang sudah ia nikahi itu.


"Abang ingin terbuka dengan Shila?"


"Iya sayang...Selalu"


"Satu tahun Shila menunggu Abang. Shila berusaha memaklumi keadaan Abang. Kenangan mbak Yara memang terlalu indah untuk di Abang tepikan. Tapi Shila pun punya hati bang"


Shila melepaskan pelukan Rival.


"Pergilah bang! ini sudah siang. Jemput Arben" kata Shila


"Tunggu Abang pulang, nanti kita bicara lagi! Beri Abang satu kesempatan untuk membuktikan cinta Abang seadil-adilnya untukmu"


"Berkali-kali Shila berikan kesempatan itu, tapi Abang tidak menyadarinya" Shila tersenyum sambil masuk ke kamarnya.


Dengan berat hati Rival mengambil kunci motor dan berangkat menjemput Arben.


Hati Rival begitu kacau pagi ini. Ia melaju kencang menuju sekolah Arben. Kata-kata Shila begitu terngiang di telinganya.


-_-_-_-_-


Shila bersandar di dinding kamarnya, ia menangis sejadi-jadinya. Sudah lama ia menahan rasa sedihnya. Suami yang sangat mencintai nya juga mencintai masa lalunya hingga membuatnya seperti ini.


"Apa salah Shila bang? Kenapa Abang tidak adil sama Shila" teriaknya. Tiba-tiba perutnya sakit tak tertahan.


Abrian mendengar mamanya berteriak segera menghampiri mamanya di kamar.


"Mama sakit perut"


Shila mengangguk pelan.


"Abrian sayang, tolong mama panggilkan Tante Mutia ya!" perintah Shila.


Abrian segera keluar dan berlari. Sampai di depan rumah Zein. Arshen yang sedang berjalan melihat Abrian yang sedang menangis.


"Ada apa sayang?" Arshen meraih Abrian dalam gendongan nya.


"Mama sakit" kata Abrian.


-_-_-_-_-


"Astagfirullah... mana suamimu???" tanya Arshen melihat Shila mencengkeram kuat sprei kamarnya.


"Jemput Arben om" jawab Shila terbata.


Shila kesakitan sekali. Tepat saat itu Rival baru pulang dari sekolah Arben. Rival masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Rival melihat punggung Arshen ada di dalam kamarnya.


"Apa-apaan kalian" Rival menarik pakaian Arshen. Posisi Arshen yang ingin menolong Shila di salah artikan oleh Rival.


"Tunggu bang. Abang salah paham" kata Arshen. Rival tidak mau mendengar nya. Rival berguling dan bergelut dengan Arshen.


Arben dan Abrian yang tidak sengaja melihat perkelahian papanya segera keluar rumah mencari pertolongan. Ia berpapasan dengan Zein dan Oka.


"Ada apa kalian di jalanan" tanya Zein.


"Papa bertengkar sama om Asen" kata Arben.


"Oohh.. itu papa latihan silat seperti di kantor. Arben sama Abrian ke rumah bunda Mutia" perintah Zein.


"Ayo masuk bang!!!" Ajak Oka.


-_-_-_-_-


Shila terbaring merintih kesakitan disana. Rival begitu marah hingga belum melihatnya sama sekali.


"Heh bang.. istighfar bang, bang Arshen bisa mati" Zein menarik lengan Rival sedangkan Oka menarik lengan Zein.


"Kubunuh kau, beraninya kau sentuh istriku" Rival masih sempat menendang Arshen.


"Abaaangg..." suara Shila lirih.


"Ya Allah dek" Rival melepas pegangan tangan Zein dan berlari ke arah Shila. Rival membantu Shila duduk perlahan.


"Aduuuhh..sakit bang!!" Shila sama sekali tidak bisa bersuara keras.


"Tak tau malu??" bentak Rival


"Biarkan aku membantunya juga bang"


Rival melayangkan bogem mentah tapi Arshen menepisnya.


"Aku kakaknya bang!!!!!"


Rival masih terpaku bingung dengan ucapan Arshen.


"Abaaaaaaaanngg" Shila menahan suaranya. Rival melihat rok Shila basah, ia pun menjadi panik luar biasa.


Rival segera membawa Shila masuk ke mobilnya. Oka mengambil alih kemudi.


-_-_-_-_-_-


Shila memeluk erat melingkarkan lengan pada tengkuk Rival.


"Tarik nafas dulu, lalu buang pelan. Jangan teriak sayang.. nanti tenagamu habis" ucapan Rival dengan belaian sayangnya. Rival memejamkan mata yang mulai basah, Hatinya waswas ketakutan.


"Ya Allah Abaaanngg" Shila memeluk Rival lebih kuat tapi satu tangannya saat mencubit kuat tangan Arshen bahkan mencakar nya


"Balas dek, Raka rela" ucapnya dengan tangisan yang mulai berderai.


Oka dan Zein mengintip kedua seniornya itu, mereka menjadi ikut tegang.


Shila mulai melemah, berkali kali kesadaran nya hampir hilang.

__ADS_1


"Cepat Oka!!!" perintah Rival dan Arshen bersamaan.


"Aduh bang..iya ini sudah ngebut"


-_-_-_-_-


"Pembukaan enam Val, masuk ruang bersalin sekarang!!!"


Rival melihat Shila berbaring ke kiri dan kekanan menahan sakitnya kontraksi. Rival masuk ke dalam ruang bersalin. Ia menarik nafasnya dalam menguatkan hatinya sendiri. Ingatannya kembali pada titik terlemahnya.


"Peluk Shila bang! Shila takut"


deg..


Rival mengusap perut Shila, duduk di ranjang Shila.


Sunyi sepi.. hanya ada Shila dan Rival dalam ruang rawat itu. Rival mendekap erat Shila yang akan melahirkan putrinya. Saat ini hanya perasaan takut yang teramat sangat Rival rasakan. Wajah Shila sangat pucat, tubuhnya begitu lemah bahkan mengangkat jemari pun membutuhkan ribuan tenaga.


"Kamu akan baik-baik saja. Abang akan usahakan yang terbaik" Rival menyelipkan wajahnya di sela leher Shila.


"Terima kasih bang. Abang sudah menjadi suami yang terbaik untuk Shila dan sudah menyayangi Shila dengan baik"


"Nggak dek, jutaan kelemahan masih banyak di diri Abang"


"Jangan sedih bang, apa Kapten Rivaldi selemah ini?"


"Ini bukan Medan perang dek, ini masalah hati. Medan perang bisa Abang taklukkan, hanya kamu yang sulit Abang menangkan. Sejak Abang menikahimu, Abang hanya bisa menghujanimu dengan kata cinta untukmu. Jangan membuat Abang menyesal sebelum Abang membuktikan nya. Sekarang Abang sadar arti hadirmu di hati Abang"


"Shila bahagia bisa sempat menjadi ratu di hati Abang" Shila menarik napasnya yang berat. Rival berjingkat ingin memanggil dokter.


"Peluk Shila saja. Aku takut bang" pinta Shila mencegah Rival pergi.


"Temani Shila.. Shila ingin sekali tidur dalam dekapan Abang" pinta Shila. Rival mendekap Shila seperti saat ia mendekap Yara dulu, menemani di saat Shila berjuang antara hidup dan mati.


"Jangan banyak bicara. Tidurlah.. Abang peluk kamu" sesak dada Rival menahan tangisnya.


"Bang.. Shila mau dengar kata cinta Abang"


Ya Allah..jangan biarkan kata-kata ini sebagai kata perpisahan sama seperti Yara dulu, kumohon kali ini kabulkanlah permintaan ku. Aku sangat mencintai Shila ku.


"Abang sayang kamu Shila, sangat.. sangat..dan sangaatt mencintai kamu istriku. Belahan jiwaku...Tolong jangan tinggalkan Abang" tangisnya terpuruk memecah keheningan.


Rival membacakan doa agar Shila tenang persis seperti yang ia lakukan untuk Yara dulu. Tangan Shila terasa dingin dalam genggamannya.


Bidan masuk ke dalam ruangan bersama Naya dan Randy. Naya mengecup kening Shila seperti anak kandungnya sendiri.


"Ma..Shila takut" ucapnya terbata.


"Harus kuat nak, inilah kita wanita"


Rival memalingkan wajah. Randy memeluk menantunya memberi kekuatan. Wajah Rival juga terlihat pucat. Randy tau Rival begitu ketakutan luar biasa.


Arshen menunggu di luar sesekali mengintip ke dalam ruangan bersalin.


.


.

__ADS_1


__ADS_2