
Rival membuka seragamnya lalu duduk di kursi dalam kamar. Ia melihat Shila sedang menata pakaian yang baru saja di setrika. Ia mendesah memejamkan mata.
Shila menoleh ke arah suaminya yang menyandarkan kepalanya di dinding. Wajah kusut, nampak lelah. Shila menghentikan aktifitasnya menata pakaian lalu berdiri di hadapan Rival. Ia sedikit membungkuk membantu suaminya melepas pakaian.
Rival menahan tangan Shila.
"Biar Abang sendiri" pintanya.
"Kenapa bang?" tanya Shila.
"Kalau kamu tidak mau sama Abang, jangan sentuh Abang dulu. Kalau Abang sampai kebablasan, Abang juga yang bingung menenangkan kamu" jawabnya lembut tetap memejamkan mata.
Shila tersenyum menekuk lututnya sambil tetap berusaha membuka kancing baju seragam Rival. Tangan Shila beralih ke sabuk Rival dan mencoba membukanya. Secepat kilat tangan Rival menangkap tangan Shila.
"Baju saja Abang larang.. apalagi yang ini. Abang lagi sensitif dek. Lagi di puncaknya Abang nahan. Sudah berani kamu sama Abang???" tanya Rival dengan pandangan penuh arti. Ia jujur kalau ia sedang berusaha menahan hasratnya setengah mati.
"Iya bang, kita coba saja" kata Shila. Rival tertegun melihat Shila yang menunduk di hadapannya.
"Abang nggak pernah maksa kamu dek, Abang pun memintanya baik-baik. Kalau kamu belum siap nggak apa-apa"
Shila mendekat mengecup bibir Rival. Sengatan itu mengalir begitu saja di diri Rival.
"Kamu yakin?" tanya Rival dengan suara beratnya. Tangannya refleks membuka sabuknya. Nafasnya mulai memburu. Shila mengangguk mengiyakan.
Rival mengangkat Shila hingga ke tempat tidur, Shila terus menunduk tidak berani memandang suaminya. Masih ada rasa takut disana, tapi ia sekuat hati melawannya. Pelan-pelan Rival merebahkan istrinya.
"Pandang Abang. Lihat!! yang menyentuhmu ini suamimu"
Shila melihat tatapan mata Rival. Degub jantungnya begitu kencang saat Rival membuka pakaiannya.
"Shila takut bang" ucapnya terisak, badannya gemetar.
"Percayakan sama Abang. Abang nggak akan nyakitin istri Abang sendiri" gumamnya di sela leher Shila. Rival memeluk Shila lalu mencium bibirnya.
//////
//////
"Dek..Shila...sabar sayang" bujuk Rival pada Shila meronta ketakutan. Di setengah jalan Shila belum bisa mengendalikan rasa traumanya.
"Maaf sayang.. Bukannya Abang nggak mau ngerti kamu" Rival yang juga sudah setengah jalan terpaksa membungkam rapat teriakan Shila dengan bibirnya.
##
"Ada apa dengan istri Kapten? Apa mereka bertengkar?" tanya Rafael menerka sesuatu.
__ADS_1
"Kita minggir dari sini. Kapten sedang menenangkan istrinya" jawab Oka yang tau Rival sedang 'membujuk' istrinya.
Gandhi hanya diam tak sanggup berkata apapun. Masih ada sedikit rasa cemburu di hatinya, tapi semua hanyalah masa lalu dan ia sangat tau diri dengan hal itu.
##
Rival mendesah panjang melayang-layang merasakan tubuhnya yang lemas dan letih. Enam belas bulan ia tuntaskan. Belum sanggup ia mengangkat tubuhnya.
"Maafin Abang dek" ucapnya merasa bersalah melihat istrinya.
Flashback on
Shila sempat berontak saat Rival mulai melakukan tugasnya. Semua umpatan ia dengar, istrinya menendang, menampar, mencakar hingga menggigit nya. Rival ingin melihat dengan jelas seperti apa perasaan takut yang Shila sembunyikan.
Hati Rival menangis pilu, sakit menusuk relung hati mendengar istrinya meminta tolong dan mungkin saat itu tidak ada yang menolongnya karena si tua bangka itu memang terlalu berkuasa.
Yang ia dengar saat itu, Shila hanya memanggil nama Rival meminta pertolongan, meminta maaf menyesal sudah kehilangan permata berharga miliknya.
"Abang tolong. Bang Rivaaall" teriaknya menampar wajah Rival, memanggil nama Rival dan terus meminta tolong.
"Shila minta maaf bang, Shila salah tidak bisa menjaganya untuk Abang" tangisnya begitu pilu.
Ya Tuhan ku.. seberat inikah yang Shila alami? Dia sendirian, kehilangan, kesepian, tidak bisa melihat dan sangat ketakutan..memanggil namaku dan aku terlambat datang.
Sesal Rival dalam hati. Hatinya terlalu sakit menghadapi cobaan ini.
"Abaaangg.. maaf bang" tangisnya semakin menjadi jadi. Rival mengecup kening Shila, menguatkan batin istrinya walaupun batinnya pun berusaha tegar dan kuat.
"Sudahlah sayang.. jangan di ingat. Tenang.. rileks.. rasakan sentuhan Abang! Abang tidak akan memperlakukanmu dengan kasar. Terima semua rindu Abang.. Abang akan membuatmu lupa semuanya" bujuk Rival sampai Shila merasa lebih nyaman.
"Abang juga punya rasa cemburu, Hati Abang juga sakit. Lebih baik kita lepas bersama, Abang ingin menghapusnya dan menggantinya dengan Abang"
Tak lama dengan kesendiriannya, tanpa mendengar Shila lagi.. ia menyelesaikannya malam itu.
flashback off
Shila tertidur pulas, Rival tau istrinya sangat kelelahan meladeni keinginannya. Rival menyambar rokok di meja dan keluar perlahan.
Rival duduk melantai di teras depan barak rekannya sebelum ia mandi malam.
"Sepi aja bang. Istri Abang kemana?" tanya Oka.
"Tidur" Jawab Rival setengah berbisik.
"Baru jam delapan begini bang?" Oka melihat jam tangannya.
__ADS_1
"Ehmm.. paham lah kamu" senyum Rival penuh arti.
"Alhamdulillah bang. Akhirnya panjat pinang juga Abang" kata Oka turut bahagia dalam keprihatinan 'Abangnya'.
Rival memang nampak lebih segar dan mood nya lebih membaik malam ini.
"Tadi sore saya ajak mereka kurve tanpa arahan Abang" kata Oka.
"Iya, Terima kasih banyak ya sudah mengarahkan anggota"
"Sama-sama bang. Besok rencana Abang apa? Saya mau patroli" tanya Oka.
"Saya lusa saja. Besok saya mau ke balai kesehatan" Jawab Rival.
"Istri Abang sakit?" Oka sekarang jadi ikut cemas.
"Nggak.." senyum Rival penuh tanda tanya.
***
"Ini bapak bawa saja. Bapak bisa pertimbangkan sendiri mau pakai yang mana" kata Dokter Ade.
"Baiklah dok, saya bicara dulu dengan istri saya" jawab Rival.
***
Rival memeluk Shila dari belakang. Ia masih merasakan rindu pada istrinya.
"Abang nggak kerja?" tanya Shila.
"Sudah" jawabnya sambil mencium gemas tengkuk Shila.
"Abang mau bicara dek"
"Apa bang?" tanya Shila.
Rival mengeluarkan alat kontrasepsi yang ia bawa dari balai kesehatan lalu menaruhnya di meja.
"Abang kesana hanya untuk itu?"
"Ya Abang kepikiran lah dek. Kita khan semalam sudah melakukannya dan nggak cuma satu atau dua kali. Abang cemas saja kalau kamu hamil" jujur Rival.
"Terus Shila harus apa bang?" tanya Shila.
.
__ADS_1
.