
Oka merasakan degup jantungnya tak beraturan. Ada rasa kuat yang mendorongnya untuk terus melanjutkan permainannya.
"Naura nggak mau bang" tolak Naura.
"Sebentar saja, sebatas ini saja" kata Oka dengan suara beratnya.
Naura menuruti Oka yang langsung memagut bibirnya dengan nafsu yang sulit ia kendalikan. Tanpa sadar mereka melucuti pakaian dan lupa diri.
"Astagfirullah.. Maaf dek.. Abang nggak sengaja" Oka memalingkan wajahnya dan memakaikan selimut di badan Naura. Dengan cepat ia memunguti pakaiannya dan bersiap memakainya.
Naura menarik lengan Oka.
"Abang serius sama Naura khan?" tanya Naura.
"Abang serius. Tapi Abang nggak mau merusak mu sebelum Abang menghalalkan mu sayang" jawab Oka dengan wajah menahan hasrat setengah mati.
Naura berdiri di hadapan Oka, membuat biji mata Oka hampir lompat dari tempatnya. Meskipun ia juga nakal, tapi melihat hal seperti ini di depan matanya..ini adalah pengalaman pertamanya.
"Jangan Naura... Abang ingin memperlakukanmu dengan spesial pada saatnya nanti" tolak Oka.
Naura memeluk Oka tanpa pembatas apapun.. Akal sehat Oka beradu kuat dengan batinnya. Tingkah Naura semakin menjadi.
"Kamu benar-benar menguji Abang dek" Oka menelan salivanya susah payah.
"Apa sekarang Abang masih bisa bertahan???" tanya Naura.
"Nggak.." suara Oka tercekat berat.
***
Malam hari ini.. Rival dan keluarga kecilnya sedang makan malam. Tingkah polah ketiga anak Rival membawa keceriaan tersendiri di rumah mereka.
"Abang.. boleh Shila minta sesuatu?" tanya Shila setengah merajuk.
"Minta apa sayang?"
"Shila mau belajar menyetir mobil donk bang" pinta Shila.
"Boleh.. setelah si dedek lahir ya! Nanti Abang ajari" kata Rival sambil menghabiskan ayam penyet buatan Shila.
"Nggak mau bang, besok" rengek Shila.
"No.."
"Ya bang!"
"No.."
"Abang ganteng deh" bujuk Shila.
"Kalau nggak ganteng kamu nggak mungkin mau sama Abang" ucap Rival santai.
Bibir Shila sudah manyun, tangannya terlipat di depan dada, bertumpu pada perutnya yang sebentar lagi akan terlihat.
"Sabar lah sayang, Abang belum tega membiarkanmu melakukan sesuatu yang menurut Abang bahaya" bujuk Rival.
Shila beranjak dari kursinya menuju kamar. Rival hanya menggeleng kepala melihat tingkah Shila yang belakangan ini terkadang cengeng karena hal sepele bahkan beberapa hari yang lalu Rival sempat panik melihat Shila menangis di kamar sendirian. Hatinya sudah risau bukan main tapi ternyata Shila hanya menangisi drama Korea kesukaannya.
"Sayangnya Abang!" bujuk Rival membelai lembut rambut Shila.
__ADS_1
"Abang khan tidak melarangmu belajar menyetir. Abang hanya menundanya saja sampai si dedek lahir"
Shila diam menutup telinga dengan bantal.
"Abang salah ya? Abang minta maaf" ucap Rival melembutkan nada bicaranya.
"Tapi Abang tadi marah-marah sama Shila"
"Kapan Abang marah?" protes Rival.
"Tuh khan Abang marah" Shila menangis sesenggukan, wajahnya nampak seperti seorang yang begitu sakit hati sekali membuat Rival ingin tertawa di buatnya.
"Ya sudah, Abang minta maaf ya. Abang salah. Besok sore Abang ajari menyetir. Setelah Abang lepas dinas" ucap Rival mengalah.
"Bener ya bang! Abang nggak bohong?" tanya Shila terlihat langsung bahagia.
"Siap laksanakan Ibu Rivaldi" jawab Rival serius.
Shila tersenyum memeluk Rival dengan manja.
Senyuman ini akan selalu menguatkan Abang setiap harinya dek. Terima kasih banyak kamu mau datang di hidup Abang. Mudah-mudahan umur Abang panjang, bisa melihat senyum manismu bersama anak-anak kita.
***
Rival melihat Oka beberapa hari ini tampak seperti orang linglung.
"Kenapa???" tanya Rival duduk mengambil tempat di samping Oka.
"Saya pengen kawin bang" jawabnya dengan wajah tak bisa dikondisikan.
"Wah...udah macam-macam lu ya???" Rival menepak lengan Oka.
"Nggak bang, sumpah mati bareng-bareng juga mau saya bang"
"Hehehe.. Abang" Oka mengusap kepalanya dengan gusar.
"Ada masalah apa? Abang tau kamu memikirkan sesuatu"
"Bang.. saya hampir kebablasan sama Naura" jujur Oka.
"Aahh.. serius kamu??? Jangan macam-macam kamu ya. Seburuk-buruknya Naura, dia masih adik Abang" wajah Rival seketika berubah dingin.
"Saya masih sadar bang. Saya memilih pulang daripada saya beneran lupa" ucap Oka.
"Tahan itu beberapa hari lagi. Tidak akan lama Ka. Percaya Abang, kalau kamu bisa tahan.. Surga dunia yang kamu dapatkan" tegas Rival.
"Siap bang"
drrttttt.. ddrrttt
Rival melihat nama Shila di ponselnya. Rival segera mengangkat panggilan telepon dari istrinya.
"Assalamu'alaikum bang" sapa shila
"Wa'alaikumsalam.. Kenapa sayang"
"sshh.. hhhh... Abang bisa pulang sebentar?"
Rival langsung berdiri dari duduknya mendengar Shila nampak kesakitan di seberang sana.
__ADS_1
"Ada apa? Bibi sama anak-anak kemana?" tanya Rival sambil berjalan ke parkiran motornya.
"Ke pasar bang sama. Anak-anak bermain sama Bang Zein"
"Sabar.. tunggu Abang pulang"
-_-_-_-
"Dek...!" Rival baru turun dari motornya dan langsung masuk kedalam rumah mencari Shila.
"Abang... Shila disini" ucapnya lirih.
Rival berlari ke arah sumber suara yang terdengar dari arah garasi rumahnya.
"Ada apa kamu duduk disini?" tanya Rival bingung melihat Shila duduk di dalam mobil. Tapi melihat wajah istrinya pucat membuat Rival kalang kabut juga.
"Abang jangan marah ya" kata Shila takut tapi sesekali wajah Shila memercing kesakitan.
"Nggak..Abang nggak marah.. ada apa dek?"
"Body depan mobil Abang, Shila tabrakin ke tembok garasi" Shila terisak menangis ketakutan kalau Rival bakal memarahinya.
Seketika Rival menoleh ke arah depan mobilnya dan benar saja.. Mobilnya sudah penyok menabrak dinding garasi.
"Astagfirullah hal adzim dek" Rival berjongkok mengacak rambutnya, sesaat kemudian memegang dadanya merasakan jantungnya seolah berhenti beberapa saat.
Rival tersadar lalu berdiri dan membuka pintu mobilnya, ia melihat badan Shila seperti terjepit kemudi mobil yang sedikit miring.
"Ya Allah Shilaaaa... Berhentilah membuat Abang jantungan dek" tegur keras Rival sambil mengeluarkan Shila dari dalam mobil lalu mengangkatnya dan membawanya ke kamar.
"Maaf bang" wajah Shila begitu takut melihat wajah datar suaminya.
"Apa maumu??? Hanya menunggu Abang pulang sampai sore saja sebegitu tidak sabarnya?????" bentak Rival.
"Maaf bang.. maaf" Shila menutup wajahnya dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lagi memegangi perutnya.
"Lihat saja kamu, Abang tidak main-main.. kalau anak Abang sampai ada apa-apa.. Awas saja kamu ya!!!!"
Rival masih gemetar mengambil ponselnya. Langkahnya kesana kemari menghubungi Farhan yang tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya.
"Shiiittt... kemana saja dia" umpat Rival begitu kesal sambil memijat pangkal hidungnya.
"Angkat Ting!!!!!!!" Rival mengusap wajahnya frustasi, gelisah menunggu panggilan teleponnya di tanggapi Farhan.
-_-_-_-_-
"Syukurlah tidak ada masalah serius Val" Farhan menahan tawa melihat Rival kalang kabut cemas setengah mati menghadapi istrinya yang sedang mengidam.
"Alhamdulillah Ya Allah" Rival bernafas lega tapi wajahnya masih jauh dari kata tenang.
"Jangan ngambek donk cinta. Abang marah juga nggak sengaja" ucap Rival membujuk rayu istrinya yang masih menangis dan marah karena mendapat bentakannya tadi.
"Abang jahat!!!" Shila menangis semakin kencang menutupi wajahnya dengan bantal.
"Iya sayang.. Abang salah.. Abang sudah jahat bentak-bentak kamu. Abang minta maaf ya! Nanti sore Abang belikan mie Aceh kesukaanmu.. mau nggak?" Rival menyogok Shila yang sudah mulai mau makan.
Shila mengangguk. Farhan menahan tawanya melihat istri littingnya ternyata bisa juga manja seperti ini.
"Astagfirullah.. Siapa yang salah.. siapa yang kena marah. Jooo..bojo" gumam Rival lirih mengurut dadanya lalu tertawa sendiri merasakan ulah istrinya.
__ADS_1
.
.