Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
103. Mama


__ADS_3

Arben berangkat seorang diri karena mamanya masih dalam perawatan.


Ma.. Arben ingin mama bangga melihat Arben memakai seragam yang sama seperti papa. Cepat sehat ma. Arben sayang sama mama.


Arben berangkat menjalani pendidikan dalam kondisi mamanya yang sedang sakit. Usianya paling muda saat ia menjalani pendidikan tapi tak menyurutkan mental dan niatnya untuk menjadi seorang perwira yang tangguh.


***


Alat disamping Shila berbunyi nyaring. Mata Shila terbuka lebar, ia menggigit selang yang masuk kedalam mulutnya. Brian berlari memanggil dokter.


#


"Ini sudah batas Bu Shila bisa menahan rasa sakit. Bu Shila sudah sadar pak, hanya saja.. karena dulu istri bapak pernah terbentur dan kehilangan penglihatan sementara, sekarang karena terbentur di tempat yang sama maka sebagian memory Bu Shila akan hilang. Kita pasrahkan pada Tuhan agar sakit Bu Shila segera sembuh" kata dokter.


"Shila.. sayang" Rival memeluk Shila yang duduk dengan pandangan kosong di hadapannya.


"Kamu tega sama Abang dek??" Tanya Rival tanpa tau harus bagaimana. Asalkan Shila tetap hidup, itu sudah cukup baginya.


***


Rival menyuapi Shila yang tidak bergeming bagai mayat hidup di ruang tamu.


"Apa kamu nggak ingin menemani Imung bermain?"


"Imung??" Shila hanya mengulang nama yang disebut Rival.


"Iya Imung. Anak kita" ucap Rival menahan air matanya.


"Bapak ini siapa?" tanya Shila saat memandang wajah Rival.


"Abang ini suamimu dek. Cepatlah sembuh, Abang rindu kamu yang dulu" Rival tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Masih mau makan lagi?"


Shila menggeleng. Rival pun meletakan piringnya di atas meja lalu berdiri dan menggandeng Shila, mengajak istrinya ke suatu tempat.


#


"Sayap bidadari?" Shila merasa pernah menerima sayap seperti itu.


Rival duduk memeluk Shila dari belakang.


"Apa kamu pernah punya sayap seperti ini?" tanya Rival.

__ADS_1


Shila mengangguk ragu, tak lama terbersit ingatan yang bergantian saat Rival memberinya sayap itu untuk meyakinkan dirinya kalau dia satu-satunya yang rival cintai dan bayangan tentang kerapuhan nya saat mengalami masa buruknya dan kehilangan penglihatan. Berganti kembali ingatan tentang Rival yang tidak sungguh mencintainya sampai kehilangan anaknya. Berbalik lagi menjadi teringat saat ia di lecehkan.


Shila berdiri dan melihat Rival, perasaan bersalah dan rasa takut, menghantui pikiran Shila. Hatinya kembali bergemuruh dan terguncang.


Rival tak menyangka yang akan kembali pada Shila adalah ingatan buruknya.


"Dek, sayang.. jangan panik! Tenang dulu, lihat Abang!!" Rival mengarahkan pandangan mata Shila agar menatapnya.


"Apa yang kamu ingat? Ceritakan sama Abang!"


"Shila tidak pantas untuk Abang" ucapnya lirih.


Rival pun tau pasti Shila kembali ke saat tersulit dalam hidupnya. Suami Shila itu mendekapnya agar Shila tidak lari darinya.


"Itu sudah berlalu, lama sekali. Sebelum ada Agata dan Imung dalam hidup kita" suara Rival seakan tak sampai, hanya kalut dan cemas yang ia rasakan, takut Shila tidak akan bisa berpikir jernih lagi.


"Apa Abang memaafkan Shila?" tanyanya yang perlahan sudah kembali mengingat Rival.


"Tidak ada yang perlu di maafkan karena kamu nggak salah, itu adalah sebuah teguran buat Abang karena lalai dalam menjagamu" kata Rival. Harus ia akui ada rasa sakit yang kembali terangkat ke permukaan saat mengingat hal pahit itu.


"Apa Abang masih mencintai Shila?" tanya Shila ragu.


"Abang tadi sudah bilang. Masih ada Agata dan Imung dalam hidup kita. Masih ada mereka berarti rasa sayang Abang masih sangat dalam untuk kamu" jujur Rival ingin sekali berteriak dan menangis karena harus berusaha membujuk Shila dari awal lagi.


"Dengan cara apa papa harus menyadarkan mu ma? Anak-anak butuh mamanya.. dan papa sangat membutuhkan mu"


***


Shila melihat Agata dan Imung berlarian di dalam rumah saat dirinya sedang membuatkan kopi untuk Rival.


"Arben.. Abrian.. jangan lari dalam rumah nak, nanti jatuh" kata Shila.


Saat itu Brian baru pulang dari sekolah, ia pun hampir lulus karena percepatan sekolah sama seperti Abangnya.


praaanngg...


Suara gelas jatuh dari atas meja.


"Briaaann!!" Shila meletakan kembali cangkir kopi untuk Rival dan langsung mengangkat Imung serta menggendongnya. Yang ada dalam ingatan Shila hanya kedua putranya itu. Arben dan Abrian saja.


"Mana yang sakit? Maafin mama ya dek!" Shila meniup kaki Imung lalu mendekap dan menenangkan putranya.


"Ayo di obati, jangan nangis ya" Shila menghapus air mata Imung.

__ADS_1


"Lihat, bahkan sampai ingatan mama yang sepenuhnya belum kembali, yang di ingat hanya nama Arben dan Abrian" tegur Rival begitu tajam saat melihat Brian hanya terpaku memperhatikan Shila.


Brian melangkah maju.


"Biar Brian yang obati Imung ma" Brian meraih kapas dan obat di tangan Shila.


"Ini bukan Brian??? Mana Brian? Mana Ben?? Kemana anak ku??" Shila mulai panik.


"Maaa.. dengar Brian!! Ini Brian ma. Anak mama. Abang Arben sedang pendidikan. Maafin Brian ma! Brian buat mama jadi seperti ini" Brian menunduk di pangkuan Shila.


"Arben pendidikan?? Ini benar Brian anak mama???" tanya Shila di antara semua kesadarannya.


"Iya ma, ini Brian. Anak bandelnya mama" kata Brian.


Shila memeluk Brian dan dari sana ingatan Shila perlahan kembali. "Sayang.. maafkan mama yang tidak bisa memahami keinginan mu, tapi percayalah nak, mama sayang sekali sama kamu"


"Brian percaya ma, kasih sayang mama nggak akan pernah terganti" kata Brian.


***


"Abrian Chandra Barra" panggil panitia disana.


"Siap!!" Abrian maju akan memasuki truk yang ada di hadapannya.


"Briaan!!" Shila memeluk dan mengusap punggung putranya.


"Brian pasti pulang membawa kebanggaan untuk mama. Setelah bang Arben, mama akan melihat Brian memakai pangkat yang sama seperti papa" ucap Brian dengan yakin.


Rival melipat kedua tangan di depan dada menatap putranya.


"Lakukan dengan benar! Jangan permalukan papa" ancam Rival.


"Paaaa.." tegur Shila memisahkan ucapan bapak dan anak itu.


"Brian pasti buktikan pada mama kalau Brian bisa di banggakan!" tegas Brian.


"Berangkatlah nak. Mama menunggumu!!"


Abrian pun melangkah dengan pasti menaiki truk tersebut. Demi mama, Brian ingin menebus segala kesalahannya. Mama yang sempat ia sia-siakan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2