Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
43. Kesakitan lagi.


__ADS_3

Maaf kekurangan Nara yang tidak pintar membuat situasi ya 😭🙏🙏


🌹🌹


Anak buah Rival menyergap dan menangkap Lyla beserta seluruh anak buahnya. Lyla begitu marah hingga kakinya menendang Rival dengan brutal.


"Akang keterlaluan!!!" ucapnya marah.


"Kamu yang terlalu amatir. Jangan harap kamu bisa hancurkan keluargaku"


"Hahahaha... Kau tidak tau kang! istrimu yang cantik itu sudah mati, ku perintahkan pada anak buahku untuk menenggelamkannya ke lautan"


"Bawa dia!!!!!" perintah Arshen secepat mungkin dengan tegas.


Bagai terhantam batu besar Rival sangat kaget mendengar hal itu.


"Apa benar yang Lyla bilang????" tanya Rival pada Arshen.


"Maaf Val, kami sudah berusaha mencari istrimu, tapi tak ada tanda kehidupan dari pencarian itu" ucap Arshen juga sangat berat saat itu. Ia pun merasa sangat kehilangan.


***


Rival menginjakan kaki di Batalyon, melihat kepulangannya di sambut dengan lapangan dan aula berbackground hitam sebagai tanda duka cita telah hilangnya istri seorang Danki karena kelompok separatis.


Rival turun dari mobil. Menengadah memejam menghadap langit biru bersemu mendung seremuk hatinya saat ini. Air mata yang ia tahan mulai dari tempat penyergapan hingga Batalyon akhirnya tumpah. Pasukan yang pergi bersama Rival sudah di pulangkan dengan total tujuh setengah bulan penugasan.


Arben dan Abrian memeluk kaki papanya yang baru saja pulang, papanya itu masih penuh bekas Luka.


"Papa..mama nggak pulang?" ucap Arben sedih.


Lidah Rival kelu tak bisa menjawab pertanyaan putranya.


"Apa mama Shila juga tidur dalam tanah seperti mama Yara?" polos Arben.


Rival langsung berlutut lemas menerima pertanyaan putranya. Ia menarik Arben dan Abrian dalam pelukannya.


"Pa-pa-pa" celoteh bocah kecil di sampingnya dalam gendongan Naya. Tangis Rival semakin pecah melihat putri kecil yang tumbuh besar tanpa sentuhan kasih sayangnya.


Naya menunduk menurunkan bayi mungil itu di lapangan. Lila merangkak ke arah Rival. Rival mengangkat putri kecilnya, tak disangka Lila langsung mencium pipi Rival seakan tau itu adalah papanya. Rival memeluk Lila dengan erat.


"Shilaaaa....." teriaknya sekuat tenaga menangisi kepergian istrinya di lapangan. Tangis Rival tak bisa di kendalikan hingga Naya dan Randy menjauhkan anak-anak itu dari papanya untuk sementara.


"Turunkan semua kain hitam itu. Bukan kalian yang menentukan hidup dan mati" perintahnya penuh rasa marah.


Rival berdiri membuka seragamnya, ia melepasnya lalu membantingnya dengan kasar.


"Saya memang tidak sempurna dalam membela negara ini. Tapi cinta saya pada negara malah harus mengorbankan anak saya. Bahkan istri saya jadi korban. Persetan dengan semua ini, dalam seragam gagah ini, saya punya hati yang bisa merasakan sakitnya kehilangan." Rival mengumpat kasar.


"Rival, jaga sikapmu!!!!!!" tegur keras Danyon.

__ADS_1


"Apalagi bang??? Pelanggaran???? Sanksi disiplin???? Atau pecat????? Terserah.. hidup saya sudah mati bersama hilangnya raga istri saya, tidak ada artinya lagi" teriaknya kalap.


***


Zein, Arshen, Oka, Nathan, dan beberapa anak buah yang lain berpencar mencari keberadaan Rival. Setelah kejadian kemarin Rival sangat kalut, ia seperti hilang arah. Setiap hari hanya mengucapkan kata maaf untuk putra putrinya, lalu mulai meratap menangis memanggil nama Shila. Hari ini dia hilang entah kemana, dan keluar Asrama lewat jalan mana.


"Kemana kita harus cari Abang?" tanya Oka pada Zein.


"Club malam" jawab Zein


"Ayo kesana bang" ajak Arshen.


-_-_-_-_-


Rival sudah tertelungkup di atas meja memegang gelas minuman setan di tangannya.


"Shila..kamu kemana sayang" ucapnya meracau.


Arshen dan Oka membalik badan Rival yang sudah lemas tak bertenaga.


"Abang sudah pulang sayang. Kamu dimana? Abang rindu kamu sayang" ucapnya terus bicara tak jelas.


"Bang, ikhlaskan Shila" kata Zein.


"Yaraku sudah pergi, apa kau pikir aku masih sanggup hidup kalau Shilaku pun ikut pergi" jawabnya tak bisa menerima keadaan ini.


"Ayo bawa pergi saja bang. Bang Rival bisa mati kalau begini terus" Ajak Zein pada Arshen.


"Terima kasih cinta Abang untuk adik ku Shila" gumam Arshen.


-_-_-_-_-


Rival sedari tadi terus saja muntah. Arshen memijat tengkuk Rival yang sudah antara sadar dan tidak.


"Kalau Abang sayang dan cinta istri Abang, harusnya Abang sholat dan berdoa, bukannya seperti ini" tegur Arshen.


Rival bisa mendengar nya, hanya sudah tidak bisa bangun lagi, jika mungkin ada yang menusuknya saat ini, ia tidak akan merasakannya dan langsung mati.


"Ya Allah, kembalikan Shila padaku. Aku hanya mau Shilaku Tuhan. Aku mau dia kembali" gumamnya dalam tangis.


***


Hari demi hari Rival lalui di antara rasa rindunya. Sepulang kerja ia akan menyambangi bukit karang tempat hilangnya Shila berharap istrinya akan kembali. Mejelang malam ia akan pulang membagi cinta dan sayang untuk ketiga buah hatinya.


***


Rival duduk bersandar memejamkan mata di halaman belakang rumahnya. Sudah satu tahun berlalu tanpa bertemu raga dengan Shila sejak ia berangkat penugasan.


Putri kecilnya berjalan pelan ke arah nya membawa karet rambut, mungkin ia meminta papanya memasangkan pada rambutnya.

__ADS_1


"Lilan minta papa pasang ini?" kata Rival sedikit mengubah nama panggilan putrinya dulu. Lilan mengangguk.


"Papa nggak bisa pasangnya sayang" Rival nampak bingung melihat karet rambut itu. Melihat wajah Lilan yang kecewa, ia jadi tidak tega.


"Ya sudah sini papa pasang" kata Rival sambil mendudukan Lilan di pangkuannya.


Rival mengikat rambut Lilan yang kadang terbelit tidak rapi dan miring berantakan.


"Kalau saja mamamu ada sayang, mama pasti mengikat rambutmu dengan indah" ucapnya sambil mengurut kening menghapus air matanya dengan jari.


-_-_-_-_-


Rival berguling di ranjangnya, sama seperti saat kehilangan Yara dulu..kini ia sangat kehilangan Shila. Rasa rindu membelit gejolak dalam dada. Satu tahun lamanya sudah cukup menyiksa batin.


"Sayang, Abang merindukanmu. Tak akan pernah hati ini mendua, Ada atau tak ada kamu. Tetap kamu pelabuhan terakhir Abang. Abang cinta kamu. Cinta kamu selamanya" gumamnya.


***


"Kapten Rival, besok ada tugas BKO di perbatasan dan luar pulau. Apakah kamu sudah siap bertugas?" tanya Wadanyon.


"Siap bang. Saya siap" tegasnya.


"Kamu pilih mana?" tanya Wadanyon.


"Ijin.. kalau bisa saya ambil di perbatasan" tak tau mengapa ia menginginkan tugas BKO di perbatasan padahal jarak dan medannya pun sangat sulit.


"Baiklah saya akan tulis namamu di rr4surat perintah tugas" kata Wadanyon.


"Siap!!" tegas Rival.


***


"Kak, besok papa berangkat tugas ya!" pamit Rival pada kedua putranya.


"Apa papa nggak akan pulang?" tanya Arben sedih.


"Pulang sayang, papa pasti pulang. Enam bulan tugas" kata Rival menjelaskan dengan hati amat sangat berat


"Papa pulang bawa mama ya" pinta Abrian.


Dada Rival teramat sakit rasanya mendengar permintaan putranya.


Rival hanya tersenyum mengacak rambut putranya tanpa bisa menjawab apapun.


Shila sayang, terasa sekali di hati Abang. Kepergian mu meninggalkan luka teramat dalam di hati Abang. Abang baru memahami arti hadirmu. Abang percaya ikatan batin kita sangat kuat, Jika memang cinta kita tak terpisahkan, Abang pasti akan menemukanmu dan membawamu pulang meskipun nyawa Abang taruhannya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2