
"Papa sama mama lagi apa" Rival yang kaget langsung menutup dress Shila. Istrinya itu langsung berdiri dari duduknya. Rival kelabakan bingung merapikan gaya duduknya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup.
"Arben mau apa?" tanya Shila berusaha tenang.
"Mau susu ma" jawabnya masih mengantuk.
"Ayo mama buatkan susu" ajak Shila. Rival langsung menyulut rokok sambil mengusap wajahnya yang entah sekarang terlihat seberantakan apa.
"Mama temani Arben" rengek Arben.
"Ayo sayang" Shila memang sangat menyayangi anaknya itu. Anak yang tumbuh dalam asuhannya.
"Shila temani Arben bobok dulu ya bang"
"Hmm" jawab Rival singkat.
-_-_-_-_-
Rival membuka kamar tidur Arben dan Abrian. Kedua anak Rival itu memeluk Shila dengan erat. Rival meringis ngeri kaki Abrian bertengger di atas perut Shila dengan nyaman.
"Brian.. kamu pikir ini guling" gerutunya memindahkan kaki Abrian.
"Dek.. bangun!!! Pindah ke kamar yuk" Rival membangunkan Shila pelan mengajaknya pindah ke kamarnya sendiri.
Shila duduk perlahan. Ia melihat Rival di hadapannya.
"Gendong bang!" kata Shila manja.
"Halaahh dek.... kamu ini"
Meskipun begitu, ia tetap menggendong Shila sampai ke kamarnya.
***
Hari ini Rival mendampingi para peterjun. Shila ikut menunggu suaminya di hanggar bandara militer bersama Arben dan Abrian. Rival sudah bersiap gagah menuju pesawatnya. Shila berdiri dari duduknya, perutnya terasa nyeri.
"Hati-hati ya bang" pesan Shila. Agaknya istri Rival itu sangat takut. Namun ia menyimpan rasa cemasnya.
"Jangan khawatir, Abang hanya lompat satu kali"
Rival berjongkok mencium perut Shila.
"Kamu tegang banget sih nak, kasihan mama tuh. Semalaman nggak bisa tidur kepikiran papa" senyum Rival mengusap perut Shila yang terasa sangat kencang.
"Kamu nggak apa-apa dek? Perutmu kencang banget ini?" tanya Rival.
"Shila nggak apa-apa kok bang" senyum Shila mengusap punggung Rival.
"Nggak usah tegang, biar Abang aja yang tegang"
"Iihh Abang, jangan nakal! Malu bang" pipi Shila memerah.
Disana tentu saja Melisa merasa sangat jengkel.
***
__ADS_1
Pesawat melambung di udara. Rival bersiap melompat.
"Mas, sampai di bawah kita harus bicara" sapa Melisa.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan"
"Aku suka kamu mas" kata Melisa.
"Aku nggak"
"Aku nggak apa-apa jadi simpanan mu"
"Istriku cukup dua" Rival membetulkan posisi kuncian helmnya.
"Aku yang ketiga"
"Cukup Mel! Jadilah wanita yang punya harga diri!!!!!"
Melisa kesal, ia melompat menarik Rival keluar dari badan pesawat. Melisa berguling di udara memeluk tubuh Rival.
"Lepas Mel!!!!?" Rival melepaskan diri, tapi Melisa sangat erat memeluknya. Helm Rival terlepas dan jatuh.
"Nggak"
"Setan kau!!!" Rival menepak tangan Melisa lalu mencabut parasut Melisa. Rival menghindar lalu mencabut parasut nya sendiri.
braaaaakk
"Ijin lapor, helm nomer 32 jatuh di landasan" lapor seorang anak buah.
"Abaaanngg!!!!!" teriak Shila panik. Arshen menangkap Shila yang akan berlari menuju helm itu.
"Sabar dulu dek! Kita dengar info dulu. Jangan panik, kasihan bayimu" Arshen merangkul Shila dan mengusap punggungnya. Shila sedikit menghindari Arshen.
Arben dan Abrian yang tadinya bermain di lapangan bersama teman-temannya pun ikut menangis histeris melihat mamanya menangis seperti itu. Shila mendekap kedua bocah itu. Zein mengambil alih mengalihkan perhatian keponakannya.
"Jangan sampai Abang tau kelakuanmu. Kau bisa mati di tangan Abang" gumam Zein dalam hati melihat perlakuan Arshen pada istri Abang nya.
"Bang Rival" lirih Shila hampir gila memikirkan suaminya.
"Dek jangan nangis, Raka disini" ucap Arshen. Shila menatap bola mata Arshen penuh keraguan.
Tak lama para peterjun mendarat dengan sempurna. Shila melihat satu persatu peterjun itu, tak satupun ada wajah suaminya.
"Abaaangg!!!!" teriak Shila semakin histeris. Perutnya pun semakin mulas.
Nampak Melisa mendarat bersamaan dengan seseorang yang langsung menarik parasut nya. Melisa menatap tajam wajah Shila lalu pergi dari hadapannya.
Shila duduk lemas, hingga sesaat kemudian Rival muncul menggendong parasut nya.
"Ya Allah..kenapa dek?" Rival panik melihat Shila memercing sakit, ia membanting begitu saja parasut di tangannya. Matanya melirik Arshen dengan hati teramat kesal.
"Abang mendarat dimana! Shila takut bang!"
"Abang pasti baik-baik saja. Abang mendarat di sebelah kiri mu tadi"
__ADS_1
"Huuuhh.. Shila nggak kuat bang. Perut Shila sakit sekali" Shila merintih kesakitan.
"Apa yang sakit dek?" tanya Arshen membuat Rival tak tahan lagi.
"Sebenarnya apa maumu???? Abang juga punya batas kesabaran mentolerir perlakuanmu" Rival menepis kasar tangan Arshen tapi ia membuat lebih pelan suaranya agar Arben dan Abrian tidak mendengar kemarahan papanya.
"Apa sekasar ini suamimu????" tatapan Arshen seakan menyadarkan Shila tentang sosok yang kabur dalam ingatannya. Arshen mengusap tangan Shila.
"Tolong bawa anak-anak saya" Rival memerintahkan pada anak buahnya.
"Kau kira bisa menahan perasaan mu kalau ada pria yang mencoba menarik perhatian dan menyentuh istrimu sembarangan?"
"Sudah bang, jangan ribut disini.. ada anggota Abang, ada anak-anak juga" bujuk Shila yang langsung memeluk Rival.
Aaarrggghhh
Shila nampak kesakitan. Rival tak mengambil pusing soal Arshen dan langsung membawa Shila ke rumah sakit.
"Oka.. Zein .. tolong ikut saya ke rumah sakit sama anak-anak. Mereka pasti rewel kalau nggak lihat mamanya"
"Siap bang"
"Saya ikut" kata Arshen.
Rival tidak menjawab. Ia masa bodoh, yang terpenting saat ini adalah istrinya.
-_-_-_-_-
"Masih jauh bro, bukaan satu saja belum terlihat" penjelasan Farhan menurut hasil pemeriksaan bidan.
"Apaa?? Tapi kenapa sudah sesakit itu?"
"Biasa kalau syok seperti ceritamu tadi"
"Yeeaayy adik Arben mau lahir" Arben berlarian di ruangan Farhan.
"Jangan Le, nanti nabrak barangnya om Farhan" Rival menaikan Arben di atas punggung nya.
"Adik pa??" tanya Abrian yang mulai lancar bicara.
"Iya..Adeknya Brian" jawab Rival.
"Terus kalau sakit lagi, langsung kerumah sakit atau tahan dulu" tanya Rival pada Farhan.
"Di rumah saja, nanti ku resepkan vitamin. Kalau ada tanda kelahiran langsung ke rumah sakit" perintah Farhan.
braaaaakk
Gorden pembatas ranjang USG terlepas dari langit2.
"Astagfirullah... Maaf..maaf" Rival mengangkat Abrian dan menggendong nya di depan. Rival merasa tidak enak juga dengan ulah putranya.
"Inilah sebabnya papa jarang mengajakmu ke tempat kerja kecuali jalan-jalan. Papa nggak akan konsentrasi" gumam Rival.
"Sabar Val, seninya punya bocah" Rival hanya tersenyum.
__ADS_1