Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
76. Kamu milik Abang.


__ADS_3

"Shila sama anak-anak sudah selesai makan bang. Abang mau makan apa? Abang belum makan malam"


"Ikut Abang ya! Baru nanti kita pulang" ajak Rival.


"Iya bang"


-_-_-_-_-


"Sate kuda bang??" tanya Shila terbelalak kaget.


"Iya.., Kamu mau nggak?" tanya Rival.


"Nggak aahh bang.. Shila mau pesankan anak-anak sate ayam saja"


"Ya sudah.. pesankan Abang dua puluh tusuk ya. Di bungkus saja" pinta Rival sambil memberi Shila uang.


"Banyak sekali bang"


"Abang mau adu tenaga dalam" ucap Rival santai. Hanya bibi yang tersenyum geli melihat Shila malu-malu.


-_-_-_-_-


Rival duduk di belakang rumah usai menghabiskan dua puluh tusuk sate sendirian belum terhitung nasi. Asap mengepul dari bibirnya yang masih terasa pedas.


"Sudah kenyang bang?" tegur Shila.


"Alhamdulillah.., kenapa belum tidur? Anak-anak sudah tidur apa belum?"


"Sudah bang. Shila nggak bisa tidur" ucapnya mulai manja lagi berdiri di hadapan Rival.


"Jangan disini. Abang masih hisap rokok nih" alasan Rival sedikit menggeser badan Shila dari hadapannya padahal ia merasa terganggu berhadapan dengan dada Shila yang tepat di depan mata.


"Bang.."


"Hmm"


"Gendong ke dalam" ajak Shila sambil menarik sarung yang dipakai Rival.


"Sabar lah sebentar" jawab Rival yang mulai sedikit terpancing.


"Baang..!!" Shila menarik lagi sarung Rival.


"Astagfirullah dek.. Kalau sampai ini sarung lepas, kamu harus tanggung jawab ya!!" Rival gemas meladeni ulah Shila.


"Nggak mauuuu!!!" goda Shila.


"Ada sebab, ada akibatnya sayang" seringai Rival membuat Shila menjerit kecil dan itu berhasil menaikan hasrat Rival setinggi langit.


Rival mengangkat Shila sampai ke dalam kamar dan menguncinya rapat. Dengan kasih sayangnya Rival memberikan cintanya untuk Shila malam itu.


###

__ADS_1


###


"Terima kasih ya sayang.. kamu selalu bisa menyenangkan Abang" Rival mendekap Shila, di usapnya perut Shila yang mulai membesar.


"Sama-sama bang"


"Abang sayang banget sama kamu dek" ucapnya sambil mencium bahu Shila. Entah kenapa perasaanya berdesir ada rasa takut kehilangan, kerinduan, juga kepedihan.


"Kamu milik Abang sayang.. milik Abang sendiri" ucapnya semakin membenamkan wajahnya ke sela leher Shila.


"Ada apa bang? Kenapa Abang tiba-tiba posesif begini?" tanya Shila heran.


"Abang memang posesif, Abang tidak ingin kamu jauh dari Abang. Abang bisa gila menginginkanmu setiap hari seperti ini"


Shila menarik tangan Rival agar lebih erat memeluknya hingga terjadi lagi sentuhan hangat yang mengantarkan mereka menghabiskan malam bersama.


***


"Apa Abang ikut kunjungan bakti sosial juga ke LP wanita?" tanya Shila melihat Rival sudah siap dengan seragamnya.


"Iya donk. Abang khan temani istri Abang" jawab Rival memakai gel di rambutnya.


"Abang jarang berangkat dinas lagi?"


"Abang ingin temani kamu saja. Abang sudah terlalu sering dinas luar. Komandan minta Abang standby saja di Batalyon" kata Rival sesekali melirik Shila.


Maaf sayang.. Abang harus membohongi mu. Sampai Abang sembuh, Abang akan tetap disini bersamamu. Abang ingin melihat senyum bahagiamu, senyum ceria anak kita. Abang ingin menemanimu melahirkan anak kita dan bersama membesarkan mereka.


"Bang.!!" Shila membuyarkan lamunan Shila.


"Abang mikir apa?" tanya Shila.


"Nggak ada.. Ayo berangkat!!" ajak Rival menggandeng tangan Shila.


***


Rival turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Shila berjalan sedikit menjauh dan langsung memuntahkan isi perutnya karena tidak tahan bau pewangi mobil beraroma jeruk.


"Ya Allah dek... Kalau nggak tahan baunya kenapa nggak bilang sejak tadi!" Rival mengusap punggung Shila, istri Rival itu hanya bisa bersandar lemas di bahu suaminya.


"Om Gandhi.. mobil yang lain beraroma jeruk nggak?" tanya Bu Wadanyon.


"Ijin ibu.. semua sama" jawab Gandhi.


"Mau tidak mau kita harus naik truk dek" kata Rival cemas.


"Nggak apa-apa bang. Khan ada Abang" jawab Shila.


-_-_-_-_-


Bakti sosial sedang dimulai. Mata Rival melirik seorang sipir yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sipir itu mencuri pandang ke arah Shila saat istrinya itu baru keluar dari toilet.

__ADS_1


"Lihat!!! itu dia wanita yang kumaksud. Senyumnya cantik sekali, nampaknya wanita itu sedang hamil, perutnya sedikit membesar" kata sipir itu pada rekannya.


"Buat apa melihat wanita yang sudah bersuami???" tegur si rekan sipir.


"Sekarang banyak kok pria yang berkencan dengan istri orang. Wanita sekarang ini gampang di dapatkan. Apalagi dia istri tentara, sering di tinggal.. pasti kesepian" jawab sipir nakal.


"Kalau urusan dengan tentara, aku mundur lah" ucap rekan sipir.


"Cemen.. Lihat nih ya, istri tentara itu akan kudapatkan" kata sipir dengan sombong. Ia menyambar sebotol air minum lalu berjalan ke arah Shila.


Seketika rasa cemburu Rival menggelegak dalam dadanya. Rival begitu marah ada pria lain memandang istrinya seperti itu. Ia melampiaskan kemarahannya pada sebatang rokok dan menyulutnya. Ia terus memperhatikan kelakuan si sipir genit.


"Mau minum? kelihatannya mbak sedang haus" sapa sipir itu.


Memang sebenarnya Shila sedang haus, tapi ia tidak ingin menerima apapun selain pemberian suaminya.


"Terima kasih... saya tidak haus. Nanti saya bisa ambil sendiri" tolak Shila sopan. Tak lama Shila kembali mual mencium parfum yang berlebihan dari tubuh sipir itu. Shila berlari ke arah toilet dan tanpa sadar menabrak Rival disana karena terlalu terburu-buru.


Rival mengikuti Shila ke dalam toilet dan dengan sigap membantu istrinya.


"Kenapa lagi dek? Dari pagi sudah terlalu sering muntah. Badanmu lemas lagi nih" Rival cemas sekali dengan keadaan Shila. Ia meraba saku bajunya, obat pereda mual pun tertinggal di rumah.


"Bau parfum pria itu terlalu menyengat bang, Shila nggak kuat"


Di luar sana. Sipir itu merasa menang, apalagi di tempat yang sepi itu ia melihat Shila masuk dengan seorang pria ke dalam toilet.


"Tuh.. lihat!! Begitu kalau wanita sering di tinggal" ucapnya.


Oka dan Gandhi yang mendengar ucapan itu kemudian saling lirik.


"Maaf pak, maksud bapak apa ya?" tegur Gandhi tidak terima ada yang membicarakan Shila dengan buruk walaupun status Shila hanya sebatas mantan untuknya.


"Yaaa...saya tidak memandang rendah tentara, tapi memang begitu khan biasanya, saat suami bertugas.. istri mencari hiburan lain!"


Tak disangka Rival langsung mencengkeram pakaian Sipir sok tau itu. Shila sangat takut melihat suaminya sangat marah.


"Tahan Danki!!!" Oka sudah khawatir jika Danki sudah mengeluarkan jiwa naga seperti itu.


"Jangan kamu sama ratakan tingkah polah wanita di luar sana. Istri saya berbeda!!!!" teguran keras Danki.


"Maaf pak.. Bapak salah paham" Sipir itu gemetar melihat sorot mata Rival.


"Kamu pikir saya tidak dengar apa yang kamu bicarakan bersama temanmu itu!!!!! Saya mendidik istri saya sepenuh jiwa raga saya, matanya tidak akan melirik pria kacangan macam kalian. Oohh...satu lagi!!! Saya rasa.. saya cukup lihai membuat istri saya senang, jadi untuk apa melirik pria lain yang belum tentu membuatnya puas" Rival menghempas kuat si sipir.


Sipir itu merasa malu hingga tidak berani menatap mata Rival. Oka dan Gandhi tersenyum melihat ulah Dankinya kalau sudah kesal dan marah.


"Sudahlah bang, malu kalau ada yang lihat!" Shila menarik lengan suaminya agar menjauh dari sana.


"Harusnya dia yang malu. Berani-beraninya dia mengganggu istri Abang. Mau cari mati dia" Rival memelototi Shila.


"Shila sayangnya sama Abang. Khan Abang sendiri yang bilang, Shila nggak akan berpaling karena Abang sudah membuat Shila senang" manjanya Shila bergelayut di lengan Rival. Cukup dengan itu saja mood seorang Rival bisa kembali membaik.

__ADS_1


.


.


__ADS_2