Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
41. Rindu neng geulis.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Shila menggendong baby Lila di depan rumahnya. Tangannya membawa piring menyuapi Arben dan Abrian sesekali bercanda khas ibu dan anak. Zein mengintip dari halaman, memvideokan kegiatan ibu dan anak itu lalu mengirimkannya pada Rival yang sedang bertugas membangun pos.


"Tidak semua ibu tiri itu kejam"


Saat seperti ini hatinya merasa tenang karena anaknya terlihat sekali sangat bahagia dengan Shila.


Terima kasih Shila sayang..kamu menyayangi anak Abang seperti anak kandungmu sendiri.


"Ijin Kapten, apa masih masih mau di lanjut lagi?" tanya Rafael.


"Sudah cukup, besok lagi saja.. ini sudah waktunya kembali ke barak" jawab Rival.


"Siap Kapten"


***


Malam semakin larut, sore tadi ia sudah menghubungi Shila, tapi rindunya belum juga hilang. Terbayang wajahnya bertebaran di depan mata. Sudah lewat tiga bulan ia tidak bertemu dengan Shila, hanya lewat video call saja ia bisa bertemu wajah.


"Sedang apa dia ya, sudah jam 12 malam, sudah tidur atau belum" gumamnya tidak bisa tidur. Ia duduk di teras barak bersama rekannya yang lain, yang sama bercengkrama dengan istrinya atau hanya sekedar minum kopi dan ngobrol dengan rekan yang lain.


Awalnya Rival memang tidak adil membagi perasaan, namun setelah ia tau Shila seperti menjaga jarak dan seolah 'menolaknya', Rival merasa sangat kehilangan. Dari hari ke hari rasa jatuh cintanya pada Shila semakin besar dan ingin mendapatkan istrinya kembali. Lebih tepatnya Rival jatuh cinta lagi.


Rival mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.


Me : Ma..sayang!


Me : Dek


Me : Cintaku๐Ÿ˜˜


Shila baru saja akan mengganti pakaiannya yang basah terkena ASI. Ia mengambil hot pantas dan kaos tipis dari dalam lemari. Shila melihat ponselnya bergetar.


"Abang" batinnya.


Shila : Dalem pa.


Rival melihat ada balasan di ponselnya, ia menunduk tersenyum girang seperti bujangan yang sedang kasmaran.


Me : Belum tidur dek?


Shila : Belum bang.


Me : Video call sayang! Abang kangen.


Rival mengganti modenya agar bisa video call dengan Shila.


Shila tersenyum lalu mengangkat video call dari suaminya.

__ADS_1


"Dek!!" panggil Rival yang tak melihat apapun karena ponselnya hanya mengarah ke tembok kamar. Rival menyeruput kopi hitam nya.


"Iya bang, sabar.. Shila masih ganti baju" ucanya sambil menurunkan kaos,berjalan di depan layar.


Mata Rival langsung melotot sempurna, ia pun tersedak kopi yang masih tersimpan di mulutnya melihat Shila memakai hot pant dan kaos tipis memperlihatkan tubuhnya yang mulus menunjukan lekuk tubuh alami dan sexy.


"Minum dulu Kapten!!" Dio menyodorkan segelas air putih yang langsung di minum Rival sampai habis.


"Terima kasih" kata Rival menebar senyum.


"Bang..Abang" panggil Shila.


"Sebentar yank, Abang ngumpet dulu" ucap Rival sambil berjalan menjauh dari rekannya bujang lokal.


"Yank" panggil Rival, ia duduk di samping gudang senjata yang agak gelap dan sepi.


"Dalem Abang" jawab Shila lembut, ia duduk bersila melihat wajah Rival terpaku menatapnya.


"Weeehh... Ayune dek" Belahan dada Shila membuat Rival menegang campur aduk rasanya, Ia salah tingkah menggigit jari telunjuk nya.


"Abang kok lihatnya gitu sih" kata Shila merasa malu.


"Kenapa?" tanya Rival.


"Jelalatan" jawab Shila. Sontak Rival tertawa menanggapi Shila yang malu-malu.


"Abang lihat istri sendiri kok, nggak lihat istri orang" jawab Rival.


"Iihh..Abang tuh yang pengen" jawab Shila dengan wajah memerah.


"Iya.. Abang pengen banget" bisiknya.


"Tahan lho bang" kata Shila yang sekarang melotot mengancam.


"Iyalah Abang tahan. Tapi Abang nagih kalau sudah pulang"


"Iya bang" senyum Shila


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


***


Rival tersenyum melihat perkembangan putrinya yang sudah berusia enam bulan. Sudah terlalu rindu ia rasakan tapi ternyata ia belum bisa pulang juga.


Arben dan Abrian makin pintar saja. Sudah bisa banyak surat pendek, membaca, menulis pun sudah pintar. Arben mau berinteraksi dengan papanya namun tidak dengan Abrian yang belum begitu jelas arti seorang papa. Terkadang hal itu sangat menyakitkan bagi seorang ayah yang harus meninggalkan anak.


"Brian. sayang, coba bicara sama papa. Papa lagi apa??" bujuk Shila mengajari putranya.

__ADS_1


Abrian hanya menatap layar ponsel.


"Nggak mau sama om. Brian mau sama papa yang itu" tunjuknya pada foto gagah papanya yang berpose memegang senjata.


"Ini khan papa dek" kata Shila.


"Sudah biar saja ma. Ini balasan untuk ayah yang terlalu sering meninggalkan anaknya" ucapnya tersenyum getir.


"Sabar ya bang"


"Yaaa.. asalkan mamanya nggak ikutan panggil om aja" senyum Rival.


"Kalau om-om nya yang ini, Shila suka" bisiknya.


"hmm.. mancing Abang rupanya"


"Oya dek.. Abang belum jadi pulang" sesal Rival.


"jadi kapan Abang pulang" tanya Shila lumayan bersedih.


"Kalau sudah begini, fix sembilan bulan sayang" ucap Rival, matanya sudah memerah. Mengantuk dan lelah.


"Ya sudah bang, mau bagaimana lagi. Namanya juga tugas"


Di kala sepi Rival dan Shila saling menguatkan.


***


Di suatu pagi Rival ikut dalam patroli wilayah. Ia memeriksa situasi lingkar luar bersama anak buahnya.


Saat berjalan Rival melihat selongsong peluru ada di antara dataran karang di sisi bukit. Ia mengecek kondisi peluru itu masih baru.


"Siaga!!!.. baru ada permainan senjata disini. Ini pakai senjata rakitan, pelurunya bukan milik 'kita' " Para anggota menegakan badan tanda siap.


Tiba-tiba ada suara letusan dan rentetan peluru di sekitar Rival.


"Menunduk!!!" perintah Rival.


***


Sampai tengah malam, Rival belum belum menghubungi Shila sama sekali. Shila pun merasa tidak biasanya hingga tengah malam suaminya tidak ada kabar.


Shila mengambil wudhu, ia sholat berharap pikirannya tenang.


Ya Allah.. malam ini hatiku tidak tenang, tolong jaga suamiku, lindungi ayah dari anak-anakku.


Tangis Shila semakin jelas saat ia melihat wajah Lila yang semakin mirip papanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2