Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
31. Kecemburuan Shila ( 1 )


__ADS_3

Rival membaringkan Shila di halaman. Dokter sigap menangani Shila. Keadaan Shila sangat lemas karena banyak menghirup asap.


"Aarrgghh.. sakit sekali bang" Shila memercing nampak sangat kesakitan.


"Farhan.. cepat periksa!!!" perintah Rival.


Farhan dan para dokter sigap menangani Shila. Para dokter saling berpandangan.


"Sepertinya istrimu kontraksi Val" kata Farhan sambil memasang oksigen di hidung Shila.


"Apa?? Usia kandungannya masih belum delapan bulan" protes Rival, jantungnya berdegup lebih kencang.


"Bawa ke ambulans, biar aku periksa darurat disana!!!"


Rival membawa Shila ke ambulans lalu menutup ambulans itu agar Farhan bisa memeriksanya.


"Bagaimana???? Cepat!!!!!" bentak Rival dalam kepanikannya.


"Ingin istrimu di periksa atau tidak, kalau kau menggangguku lebih baik kau keluar saja!!!" tegas Farhan. Rival langsung diam karena ia memang tidak berkompeten di bidangnya.


"Sudahlah bang, Shila nggak apa-apa. Sudah nggak sesakit tadi" kata Shila menenangkan.


Farhan memeriksa denyut jantung bayi, dan meneliti kondisi Shila dengan teliti.Ia menghela nafasnya.


"Syukurlah istrimu nggak ada masalah serius. Nggak ada juga tanda lahir prematur. Hanya syok saja"


Seketika Rival seolah tak bertenaga namun hatinya sangat lega. Tangannya mengusap sayang perut Shila.


"Tolong bantu Abang menjaganya. Abang sungguh ingin anak gadis Abang ini. Abang ingin anak dari kamu dek"


"Iya Abang, Shila akan menjaganya" kata Shila.


***


"Sementara kalian tempati rumah perwira di ujung itu ya" Komandan menunjuk sebuah rumah. Rumah tempat tinggal Rival bersama Yara dulu.


"Siap.." jawabnya tegas namun berat terdengar.


"Abang sanggup? Kalau Abang tidak sanggup..kita mengontrak saja sementara" kata Shila.


"Sanggup dek, tenang saja" senyumnya.


Shila nggak yakin bang. Tapi mungkin berawal dari sini, perasaan Abang bisa pulih kembali. Shila tau bang, Abang sulit mengesampingkan mbak Yara walaupun Shila tau Abang mencintai Shila juga.


***

__ADS_1


"Papa mau tanya. Apa yang kalian mainkan sampai rumah bisa terbakar" Rival menghadapkan kedua anaknya untuk duduk di hadapan nya.


"Arben hanya main lidi" jawab Arben.


"Brian cuma ambil api di kompor pakai lidi Abang" jawab polos Abrian.


"Kalian memang keterlaluan!!!!!" bentak Rival.


"Abang.. anak-anak belum paham benar itu bahaya atau tidak. Shila yang salah bang, Shila lalai menjaga mereka" Shila menenangkan Rival yang sangat marah saat ini.


Rival sadar memang Arben sangat nakal. Saat bersama Yara dulu memang anaknya itu sering kali berulah.


"Tolong ambilkan Abang minum dek. Kepala Abang sakit sekali" Rival memijat pangkal hidung nya.


"Iya bang" Shila tersenyum lalu menuju dapur.


"Arben nggak mau sayang mama Shila lagi" celetuk Arben.


"Kenapa kamu ngomong begitu???" Rival menatap tajam mata putranya.


"Karena nanti papa dan mama akan lebih sayang adik daripada Arben" ucap Arben polos.


"Siapa yang mengajari kamu bilang begitu?" tegur tajam Rival.


"Bude Salim pa"


"Semua khan anak mama papa, tidak mungkin tidak sayang" jawab Shila lembut sambil memberikan segelas air minum untuk Rival. Rival meneguknya lalu bersandar pada sofa lagi.


Shila tau suaminya sedang banyak pikiran saat ini.


"Kalian tidur ya sayang, gosok gigi.. cuci tangan dan masuk kamar" perintah Shila dengan suara cerianya.


"Iya ma" tawa riang anak-anak yang tidak tau apapun beratnya kesulitan hidup ini.


"Sudah malam bang, mau masuk kamar???"


Rival menoleh menatap mata Shila.


"Ayo sayang" jawabnya dengan senyum manis.


***


Pagi hari Rival bangun lebih dulu. Ia melihat sekeliling rumahnya. Cat rumah yang masih sama seperti saat ia tinggalkan. Hanya lantai nya saja yang selalu bersih karena anggotanya selalu rajin membersihkan rumah.


Rival menuju ke arah gudang. Disana ia melihat sebuah kotak. Ada sekat terpisah, foto USG mantan kekasihnya dulu dan foto USG Arben. Disana ada sebuah foto kemesraan dirinya bersama Yara. Rival mengusap foto itu dan tersenyum getir, pahit sekali ia rasakan.

__ADS_1


"Mas sayang kamu" gumamnya sambil mencium wajah Yara di foto itu. Rival menengadah berharap air matanya tidak tumpah.


Shila melihatnya begitu teriris sedih, Ia tau tak seharusnya ia mencemburui Yara, tapi terkadang melihat perlakuan Rival membuatnya sangat terluka. Shila berjalan pelan menuju kamarnya.


Rival menutup kotak itu, perasaan nya sudah lebih lega.


"Jam berapa ini, tumben cintaku belum bangun" Rival kembali ke kamarnya, rasanya meninggalkan Shila sebentar saja sudah membuatnya sangat rindu.


"Yank.. kamu belum bangun?"


Saat Rival membuka pintu, Shila sudah duduk bersandar di ranjang. Air matanya mengalir deras. Suara sesenggukan membuat Rival semakin cemas.


"Astagfirullah..kamu kenapa dek? Jatuh?? apa yang sakit??" Rival menyentuh badan Shila.


"Hati Shila yang sakit bang"


"Ada apa dek. Abang salah ya?" tanya Rival hati-hati.


"Shila tau bang, Abang sangat mencintai Shila, sama seperti Abang mencintai mbak Yara. Tapi rasa tamak Shila yang ingin memiliki Abang seutuhnya sangat menyiksa hati Shila bang. Shila harus bagaimana?"


"Kamu lihat apa?" tanya Rival datar.


"Shila lihat Abang tidak bisa menyembunyikan rasa cinta Abang untuk mbak Yara. Apa Shila harus mati dulu baru Shila bisa merasakan cinta Abang" teriak Shila menepis tangan Rival.


"Shilaaa... Jaga bicaramu!!!!!" bentak Rival kuat.


"Cinta apa yang kamu maksud? Cinta Abang untuk Yara yang sudah tidak ada lagi??? Kalau kamu tidak percaya dengan hati Abang ini.. cukup Abang dan Tuhan saja yang tau rasa ini untuk siapa. Kalau dada ini bisa kamu belah.. Lihatlah dengan jelas untuk siapa hati ini Abang beri, dan untuk siapa Abang hidup"


Rival beranjak pergi dengan marah. Ia memakai seragam dan segera pergi ke Batalyon.


Shila menatap punggung Rival yang pergi tanpa pamit padanya. Shila hanya bisa menangis mengelus perutnya.


-_-_-_-_-


"Kenapa Shila.. Kenapa kamu nggak percaya Abang. Yara sudah Abang kubur dalam-dalam. Sekarang di hati Abang hanya ada kamu. Kenapa kamu menyusahkan hatimu sendiri" gumamnya dengan frustasi.


Kamu pantas tamak dan itu wajib sayang, kamu istri Abang. Itulah bukti sayangmu untuk Abang. Abang memang hanya milikmu.


tok..tok..tok..


"Ijin Danki..ada seseorang ingin menemui Danki" kata Gandhi.


"Siapa..??"


"Hai mas!!!" sapa seorang wanita.

__ADS_1


.


.


__ADS_2