
Ada pedagang cilok yang berhenti di samping parkiran Batalyon sore itu. Shila menurunkan kakinya. Nampaknya Shila ngiler dengan aroma cilok yang sampai ke hidungnya.
"Mau cilok??" tanya Rival. Shila mengangguk.
"Abang saja yang beli. Kamu tunggu disini"
"Nggak mau! Kalau Abang yang beli nanti nggak pedas"
"Mau sepedas apa sih dek. Kalau mau pedas nanti malam saja sama Abang" goda Rival.
"Shila lempar sepatu nih ya bang. Abang nih dari kemarin genit"
"Nanti kalau Abang ganggu istri orang, kamu cemburu..." tawa Rival yang mendapat lemparan sepatu dari Shila.
Dalam hati Shila merasa sangat bersyukur mendapat suami seperti Rival. Suaminya itu sangat mencintainya melebihi apapun. Dari tempat duduknya Shila melihat Rival ikut mengantri di barisan para bocah dan ibu-ibu yang sedang membelikan anaknya cilok. Tanpa rasa malu Rival sesekali bercanda dengan para bocah itu.
"Om.. Arben kemana?" tanya seorang teman Arben.
"Arben ikut Omanya liburan. Dua hari lagi baru pulang" senyum Rival sambil mengacak rambut teman Arben.
Pesanan Rival selesai, ia pun segera berjalan ke tempat Shila. Rival berhenti sejenak lalu menghampiri Gandhi dan anggotanya yang sedang duduk di bawah pohon meminum sesuatu.
"Waahh.. kalian ini. Jangan sampai mabuk ya! Masih di lingkungan dalam nih" tegur Rival.
"Siap Danki, ini masih belum 'matang' " jawab Dio ngeles
"Mana saya coba!!!"
Gandhi terpaksa menyodorkan segelas minuman itu pada Rival. Danki A menerima dan meminumnya. Rival mengecap bibirnya yang masih lekat tersisa rasa pahit.
"Minggir kalian sekarang juga, atau sikap tobat!! Ini rasanya keras sekali" tegur Rival memberi peringatan.
"Siap salah Danki!!!"
Anak buah Rival berhamburan sebelum Danki mereka berubah pikiran.
Rival menyerahkan cilok yang baru di belinya pada istrinya.
"Itu tadi minum apa bang? Shila mau!!" Shila berdiri menerima cilok dari suaminya.
"Heh.. nggak boleh!!! Bisa pingsan kamu minum itu" cegah Rival.
Shila mengendus bau yang sedikit melekat di seragam Rival membuat Rival menghindarinya.
"Baunya wangi bang! Shila mau"
"Duh dek, yang wajar aja lah ngidamnya. Abang nggak mungkin kasih kamu yang itu" Rival mengacak rambutnya, sudah pusing dengan permintaan Shila.
__ADS_1
Shila menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada orang sama sekali disana. Shila berjinjit mencium bibir Rival. Rival melepas dengan cepat ciuman Shila karena tidak ingin istrinya merasakan sisa minuman setan itu.
"Coba dulu bang!! Shila mau" Shila berjinjit lagi dan berusaha mencoba mencium bibir Danki A.
"Nggak dek. Stop!!!" Rival memakan sebiji cilok agar rasa minuman setan itu hilang.
"Nih kalau mau!!! Abang lagi makan cilok" Rival memonyongkan bibirnya menyodorkan pada Shila.
"Iihh.. Abang" Shila sangat kesal, ia menghentakan kakinya lalu berjalan pulang. Rival pun berjalan sambil tertawa mengikuti langkah Shila.
***
Shila duduk di ranjang. Badannya terasa semakin berat saja untuk di gerak kan. Rival menyisir rambut Shila setelah mereka tadi mandi bersama.
"Itu mulut nggak capek bang makan permen terus?"
"Pilih mana Abang banyak merokok atau makan permen?" tanya Rival.
"Shila mau permennya."
"Kamu nih apa-apa sekarang mau, Habis.. tinggal satu ini dek" kata Rival.
Shila mulai cemberut lagi. Rival menggeleng merasakan tingkah Shila belakangan ini.
"Sini, Abang punya yang lebih manis dari permen"
Rival memiringkan pipi Shila menghadap ke arahnya. Bibir Rival langsung mendekat ke bibir shila memindahkan permen yang ada di mulutnya. Shila merasa terkejut dan malu mendapatkan perlakuan panas dari suaminya, entah kenapa ia pun tak bisa menolak saat lidah Rival membelit lidahnya. Apalagi sentuhan Rival yang sudah menjalar kemana-mana membuatnya merasakan desiran hebat.
"Abang.. lagi" pintanya pada Rival.
Rival tersenyum melihat ekspresi Shila yang begitu menginginkannya.
"Iya sabar. Abang cuma ganti posisi"
Suami Shila itu mendaratkan lagi ciuman panasnya dan melanjutkan rasa penasaran mereka.
***
Minggu ini di adakan lomba di Batalyon untuk mempererat tali persaudaraan para anggota beserta keluarganya.
Rival kebagian sepak bola pakai baju tidur istri. Ia sudah menolak mentah-mentah tapi para anggota memaksa Danki mereka.
"Kalian jangan ngerjain saya ya!!!" kesal Rival.
"Danki harus ikut partisipasi" kata Oka menyemangati.
"Kamu lagi dek, apa nggak bisa ambilkan Abang pakaian yang bagus sedikit!!" protes
__ADS_1
Rival.
"Tapi Shila pengen lihat Abang pakai baju itu" kata Shila sambil memakan salad buah.
"Allahu Akbar.. Kamu masih butuh kejantanan Abang nggak. Kenapa kamu kasih Abang baju umpan macam begini?" tanya Rival.
"Masih lah bang. Tapi Shila mau Abang pakai baju itu dulu" kata Shila mengundang gelak tawa anggotanya.
"Hiiihh..iiiihh" walaupun kesal Rival terpaksa tetap memakainya demi sang istri.
Sampai di lapangan para anggota terbahak bahak melihat Danki A memakai baju tidur istrinya.
Setengah mati Rival menahan malu meskipun gayanya tetap macho.
"Kenapa nggak sekalian kamu ambilkan Abang baju tidurmu yang seperti jaring laba-laba sama bando kelinci imutmu itu!!" gerutu Rival.
"Sudah kamu disana!! sembunyi di belakang Arshen" perintahnya pada Shila.
"Iya bang! Abang iihh.. marah-marah terus"
Rival menggeleng kesal berjalan ke lapangan. Mulutnya hanya menggerutu saja.
"Ambil daster khan bisa malah di ambilkan yang begini. Apa dia nggak tau kalau suaminya suka on lihat ragam bajunya yang seperti ini. Dasar bini durhaka"
Di pinggir lapangan Shila memegang kaos loreng Rival. Ia tersenyum geli tapi merasa puas melihat suaminya memakai baju tidur itu.
Pertandingan sudah usai. Rival melepas bajunya sambil berjalan ke arah Shila lalu mengusap wajahnya menghilangkan keringat yang mengucur dari tubuhnya.
"Iihh..Abang.. jangan pamer perut Abang yang kotak itu" nada manja Shila.
Rival tersenyum menggoda.
"Lah.. kamu sendiri kok yang buat Abang pamer"
Shila berjalan maju ke hadapan Rival, menginjak kaki suaminya dengan segenap kekuatan yang ada, tak lupa jarinya yang lentik itu mencubit perut sixpack suaminya.
"Cepat pakai bang!!!! Itu punya Shila, kenapa Abang pamerkan??" Shila geregetan karena Rival terus menggodanya.
"Iyaaaaa.. Abang pakai nih. Ya ampun.. Cakarmu itu lho dek!! Di kikir dimana sih tajam amat"
"Ini Shila minta di kikir kan om Sony di gudang senjata" jawab Shila dengan santai.
Rival merangkul pinggang Shila lalu menautkan keningnya.
"Waahh.. nakal ya istri Abang.. jangan harap ada laki lain yang bisa kikir cakarmu yang lentik itu. Abang harus hukum kamu biar kamu kapok dan tau rasa kalau Danki A sudah menghukum mu!"
__ADS_1
.
.