
Shila mencium punggung tangan suaminya. Wangi tubuh Rival juga cukup membuatnya rindu. Rival mengecup kening istrinya.
"Abang akan usahakan yang terbaik untuk mengobati matamu"
"Tidak perlu bang" tolak Shila.
"Kalau kamu tidak ingin memandang Abang.. akan Abang usahakan kamu bisa memandang anak-anakmu lagi" bujuk Rival. Tak ayal mendengar kata anak-anak, hati Shila pun luluh.
***
"Abang titipkan anggota ini dalam arahanmu!" perintah Rival pada Oka.
"Bang.. Abang hanya dapat ijin tiga hari. Kapan Abang akan kembali. Saya siap pasang badan apapun yang terjadi.. tapi Abang akan celaka kalau atasan sampai tau Abang meninggalkan tugas" kata Oka cemas.
"Abang sudah pikirkan itu, tenang saja. Tiga hari lagi Abang pasti kembali"
"Baiklah bang, semoga istri Abang segera sembuh" kata Oka.
"Aamiin"
-_-_-_-
Rival baru saja menghubungi Naya untuk menanyakan kabar anak-anaknya. Lewat video call, Rival bisa melihat anaknya yang sudah semakin pintar, tentu rasa rindu semakin terasa.
Papa janji akan membawa mama pulang. Papa belum bisa mengatakan pada kalian kalau papa sudah menemukan mama. Papa masih harus berjuang mendapatkan mama kalian. Kalian sabar dan baik-baik tunggu papa mama ya!
***
Rival masuk ke pedalaman memakai motor. Medan disana cukup sulit. Siang hari Rival dan Shila sudah sampai di tengah pedalaman.
"Selamat siang.." kata Rival menyapa.
Seorang nenek keluar dari rumahnya melihat Shila dan Rival.
"Ada apa nak?" tanya nenek itu lembut.
"Bisa saya bertemu dengan kakek?" jawab Rival.
###
"Masih bisa, tapi akan sakit dan perih kalau mengobati mata" peringatan kakek.
"Bagaimana sayang?" tanya Rival pada Shila.
Shila masih nampak ragu memainkan jemarinya.
"Jangan takut, ada Abang" kata Rival.
__ADS_1
"Iya bang, Shila mau"
-_-_-_-_-
"aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh... Abang..perih sekali bang" Shila meronta ingin membuang ramuan yang tertempel di matanya. Rival meraih tangan Shila lalu memeluknya.
"Sabar ya sayang.. mudah-mudahan usaha kita membawa hasil"
"Jangan seperti ini terus bang. Kalau Abang selalu baik sama Shila.. Shila sulit melepaskan Abang" Shila sudah menangis disana.
"Siapa yang memintamu melepaskan Abang?"
"Tapi bang..."
"Kamu bisa diam atau tidak? Kalau kamu terus menguji Abang.. jangan salahkan Abang kalau Abang nekat untuk mendapatkan mu kembali" ancam Rival padahal ia sendiri tidak tau akan berbuat apa dengan ancamannya itu.
Shila langsung diam karena ia tau Rival tidak akan main-main dengan ucapannya.
-_-_-_-_-
"Kalian bisa tidur di bilik depan. Malam ini kakek dan nenek harus mengobati warga dusun. Besok pagi kakek akan kembali dan mengobati Shila" kata kakek.
"Iya kek" jawab Rival.
Kakek dan nenek sudah pergi, tinggal lah Rival dan Shila hanya berdua di gubug kakek. Tak ada cahaya lampu disana. Jangkauan sinyal juga hilang timbul. Lampu tempel juga hampir padam.
Jantung Rival berdenyut kencang saat melihat Shila berbaring dalam remangnya cahaya, mendengarkan musik seperti biasa ia lakukan di Mess.
"Abang.." sapa Shila.
"Iya dek.. Abang disini" jawab Rival, suara beratnya hampir tidak bisa ia sembunyikan.
"Abang kenapa? Abang sakit lagi?" tanya Shila.
"Abang kangen kamu" jawab Rival jujur.
Shila langsung duduk, ia refleks menutup tubuhnya dengan kain.
Rival mendekati Shila, sebenarnya ia juga tidak ingin memaksa istrinya.
"Abang tau kamu nggak siap dek" Rival mendekap Shila.
"Tapi bolehkan sedikit saja Abang melepas rindu?" tanya Rival.
Shila ingin menolak, tapi ucapanya kemarin bertolak belakang dengan hatinya. Ia juga sangat merindukan suaminya sampai tak sanggup menjawabnya.
Melihat Shila tidak menolaknya, Rival memagut lembut bibir Shila, cukup lama hingga hasrat keduanya pun mulai melonjak. Rival antara sadar dan tidak sudah melayang-layang menuntut hal lebih. Rival menyelipkan tangannya mencari kerinduan disana.
__ADS_1
Tiba-tiba Shila langsung mengingat semua perlakuan buruk terhadapnya. Bagaimana kasarnya pria jahat itu memperlakukannya dengan kasar.
"Jangan...!!!!" ucapnya ketakutan mendorong dada Rival.
"Ini Abang sayang.." ucapnya sedih melihat Shila begitu trauma.
"Tinggalkan Shila bang!! Shila tidak pantas untuk Abang" kata Shila menangis sesenggukan.
Rival pasrah menerima penolakan dari Shila lagi. Di saat libidonya sudah meninggi, Ia bisa saja melakukannya saat ini juga. Tapi ia memilih untuk menahan perasaannya.
Rival membuang napas berkali-kali melonggarkan debaran jantungnya yang sempat menjulang tajam. Ia memijat pelipisnya merasa kepalanya pening seketika.
"Tidurlah sayang.. Abang akan menemanimu disini" ucapnya membelai lembut rambut Shila. Ia sebisa mungkin menurunkan egonya.
-_-_-_-_-
Setelah Shila tenang, Rival mendekapnya di dalam selembar kain yang tidak menghangatkan tubuh mereka.
"Maafkan Abang yang nggak pengertian, Abang kelepasan. Maafkan keegoisan Abang ya!!"
"Shila yang minta maaf bang, Shila masih takut, masih selalu terbayang kejadian buruk itu" kata Shila mulai menangis lagi.
"Hsstt... sudah dek. Sampai kapan kamu akan hidup dalam kenangan buruk itu. Itu bukan salahmu"
"Bagaimana Shila bisa menghapus nodanya bang, kertas putih yang sudah tergores pena tidak akan bisa putih kembali" sesal Shila.
"Abang yang akan melukisnya sampai goresan itu menjadi indah. Abang akan mengikis pena itu dengan warna sampai kamu tidak bisa membedakan mana goresan dan mana lukisan" hibur Rival.
Sedari tadi Shila merasakan Rival tidak tenang saat memeluknya, ada rasa bersalah teramat dalam tapi sungguh ia belum siap memadu kasih dengan suaminya. Bayangan yang ia terima begitu buruk dan meninggalkan rasa sakit di hatinya.
"Kenapa Abang masih pertahankan Shila? Abang pun sudah tau keadaan Shila sekarang"
"Tidak ada alasan untuk mencintai. Hanya kamu yang Abang mau, hanya kamu yang Abang cinta" ucapnya sambil mengecup curuk tengkuk Shila
"Kalau Shila terus seperti ini apa Abang kuat?"
"Kita hanya manusia biasa. Ada batas kekuatan. Kamu sudah rasakan seperti apa Abang setiap harinya dan bagaimana Abang tadi yang hampir nggak bisa nahan. Nanti ada saatnya kamu sendiri yang mengalaminya. Saat suami istri berdekatan, pasti akan menimbulkan rasa" jawab Rival yang mulai terbuai lagi.
Shila berbalik badan menghadap Rival. Tanpa sengaja bibirnya beradu lagi.
"Balik badan lagi dek!!!. Jangan menghadap Abang. Abang nggak ingin melihatmu seperti tadi. Abang nggak kuat dek" kata Rival.
"Nggak kuat apa bang?" tanya Shila polos.
"Ya Allah.. kamu ini dek. Bisa-bisa kita pulang kamu sudah hamil lagi kalau gini caranya"
Shila beralih dari badan Rival dan menghadap ke bilik, dengan rasa cemas. Rival menutupi wajah dengan lengannya, sekuatnya berusaha sadar..sadar.. dan sadar agar tidak kelepasan berhadapan dengan Shila.
__ADS_1
.
.