Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
54. Istri Abang tersayang.


__ADS_3

"Kamu yang minum ya dek" kata Rival.


"Kenapa nggak Abang aja yang pakai" tanya Rival.


"Maaf sayang..bukannya Abang egois. Abang nggak nyaman pakainya"


Shila tersenyum, paling tidak saat ini ia merasakan suaminya tidak membatasi diri dengannya dalam hal apapun bahkan dalam hal sensitif sekalipun.


"Ya sudah Shila saja yang minum" Shila langsung mengambil dan meminumnya.


"Bukan maksud Abang nolak rejeki dek. Batin Abang belum siap. Banyak hal yang Abang pikirkan. Kamu bisa ngerti kondisi Abang khan?" tanya Rival.


"Iya bang, Shila ngerti kok. Shila juga belum siap" jawabnya.


"Nanti sore kita jalan-jalan yuk. Anggap aja bulan madu. Kita belum pernah jalan selama kita nikah" ajak Rival.


"Iya bang" senyum manis itu selalu terbayang kuat di hati Rival.


"Sudah nggak takut lagi khan sama Abang?" tanya Rival.


"Sudah lebih baik bang" jawab Shila menunduk.


Rival menarik tangan Shila agar duduk di pangkuannya.


"Dek.. Abang kepikiran yang semalam"


"Kenapa bang?" tanya Shila.


"Abang seperti merasakan malam pertama sama kamu. Abang ketagihan. Mau lagi ya sekarang" ajak Rival.


Rival mendekatkan bibirnya pada Shila. Benar saja, Rival sulit mengendalikan perasaannya hingga...


"Ijin Kapten..."


Rival begitu kaget ada sapaan Gandhi di depan pintu. Shila berdiri dari pangkuan Rival dan berjalan menuju tempat tidur, menata pakaiannya lagi.


"Siap salah Kapten.. Nanti saya kembali lagi" pamit Gandhi.


"Saya segera kesana!" jawab Rival mengusap wajahnya.


Antara rela dan tidak.. kamu sudah sama Kapten dek. Abang berusaha ikhlas. Kamu yang bahagia ya.


"Abang keluar dulu. Nanti kita lanjut lagi" Rival memainkan alisnya dengan genit. Shila menunduk malu melihat suaminya.

__ADS_1


-_-_-_-_-


"Ada apa?" tanya Rival pada Gandhi.


"Ijin Kapten.. Ada laporan yang harus di periksa!"


"Mana saya lihat" Rival mengambil laporan yang diserahkan Gandhi lalu membacanya dengan teliti.


"Uang minus delapan juta?? hilang kemana??" tanya Rival heran.


"Siap salah Kapten.. Kami tidak menuduh, tapi keuangan di bawa Praka Choirul"


"Nanti sore akan ada pemeriksaan laporan dari Markas"


"Astagfirullah.. pasti di buat main perempuan. Itu uang anggota" kesal Rival hingga kepalanya pening.


"Kemana dia sekarang??"


***


"Sikap tobat!!!!!!" perintah Rival setelah mencambuk Choirul.


Pria itu hanya memercing saja. Rival heran dengan kelakuan anak buahnya itu.


"Ijin Kapten, saya khilaf.. uangnya tersisa tiga juta lima ratus ribu rupiah" jawabnya.


"Kamu buat apa???"


"Siap salah"


"Di buat apa??? Mencari kehangatan pada perempuan lain????" Rival mencambuk punggung Choirul.


"Siap salah"


***


plaaakk.. plaaaaakk.. bugghh


"Begini anak buahnya..bagaimana dansatgas nya???" maki komandan markas pada Rival.


"Siap salah Komandan" hanya itu yang bisa Rival terima, menanggung kelakuan anak buahnya.


"Jangan-jangan kamu juga bersenang-senang dengan wanita di dusun itu juga?" cibir komandan.

__ADS_1


"Siap tidak"


"Saya dengar kamu menyimpan wanita dusun yang buta, saya dengar kamu memperkosanya hingga depresi"


"Siap tidak. Itu salah komandan. Dia itu istri saya" jelas Rival.


"Istrimu sudah meninggal lebih dari dua tahun yang lalu. Sudah.. lebih baik saya naikan kasus ini. Merusak rakyat jelata apalagi buta, itu tindak kriminal" tegas Komandan.


"Beri saya waktu untuk menjelaskannya Komandan" pinta Rival.


"Saya sudah dengar suara hati rakyat yang kamu aniaya. Atau mungkin wanita itu adalah wts juga???" kata Komandan.


"Lancang sekali mulutmu. Sebenarnya disini saya menangkap dengan jelas, bahwa kamu lah yang buta Rohmad. Kamu tidak ingin mendengar penjelasan orang lain. Apa menurutmu itu bijak???" kesal Rival.


"Apa-apaan kamu ini. Kita sedang memakai seragam dinas dan kamu tidak menghormati saya" tegur Komandan.


"Kamu boleh menghakimi saya, tapi tidak untuk Shila istri saya. Apapun cacian, makian, hinaan akan saya terima, tapi kalau sudah menyangkut istri saya, itu akan langsung berhadapan dengan saya. Turun kau dari jabatanmu. Kamu tidak pantas di contoh sebagai seorang pimpinan" kata Rival menggebrak meja Komandan, mengagetkan Rohmad.


"Kamu..( tunjuk Rival pada wajah Rohmad ), tidak tau seberapa berat yang istri saya alami. Saya hancur lebur menemukan istri saya di aniaya, di rusak kehormatannya oleh si tua bangka sialan itu. Saya telan semua hinaan itu demi kelangsungan hidup istri saya. Mudah sekali kamu katakan istri saya seperti itu?" sesak di dada Rival yang semula luntur kini muncul kembali.


"Maaf Val... bukan begitu maksud saya" kata Komandan mulai melunak dan was-was melihat kemarahan Rival. Rival melepas pangkat dari seragamnya.


"Buka telingamu Rohmad. Saat saya lepas pangkat ini.. saya kembali lagi pada diri saya. Saya seorang suami dan saya terluka mendengar perkataan mu itu" Rival melayangkan pukulan menghajar komandannya.


"Tolooonng" teriak Rohmad.


Para anggota masuk dan kaget melihat Rival sudah menghajar Rohmad.


"Abang!! Jangan bang!!" Oka memisahkan Rival dari Rohmad.


"Saya tidak pernah takut kehilangan jabatan saya. Saya lebih takut keluarga saya hancur karena saya salah mengambil keputusan" Rival melepaskan tangan Oka lalu pergi dari ruangan.


Komandan langsung duduk karena syok berhadapan dengan Rival.


"Tutup semua kasus Rival. Saya akan caritau lagi perihal isu tentang Rival" perintah Rohmad pada Oka.


"Siap laksanakan. Ijin Komandan..Saya mewakili Kapten Rivaldi untuk menjelaskan. Bu Shila memang istri Kapten Rivaldi, wanita yang dinikahi Kapten Rivaldi setelah kepergian Bu Yara. Bu Shila di culik oleh kelompok separatis yang membalas dendam karena kelompoknya berhasil di lumpuhkan Kapten Rivaldi. Saat Bu Shila di culik.. Bu Shila di buang ke laut, kepalanya terhantam batu karang hingga tidak bisa melihat. Bu Shila di temukan pemilik warung di desa sebelah, lalu merusak kehormatan Bu Shila. Kapten menemukannya dalam keadaan tidak layak. Kapten sangat terpukul dan terluka, dan sampai saat ini Kapten Rivaldi belum pulih dari semua cobaan yang menimpanya" jelas Oka.


"Ya Tuhan.. saya salah besar. Masalah Choirul malah membuka luka hati Kapten Rivaldi" sesal Rohmad.


.


.

__ADS_1


__ADS_2