Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
61. Batin seorang suami ( 1 )


__ADS_3

"Shilaaaaa"


"Kakak minggir kesana ya!" Rival lemas menekuk lututnya merangkak ke arah Shila. Istrinya menggenggam silet di tangannya. Mulutnya berbuih. Darah ada dimana-mana bahkan menetes di atas kertas yang ada di genggamannya. Rival mengambil kertas itu, menyimpannya di sakunya. Ia menekan pergelangan tangan Shila yang bersimbah darah lalu mencari kain di sekitar lemari untuk menghentikan laju darah yang mengalir deras.


"Kenapa seperti ini dek. Haduuhh.. Ya Allah Shilaaaaa" teriaknya panik. Air mata ikut mengalir di pipinya.


"Astaga...Shilaaaaa" pekik Arshen.


"Ada apa bang. Kau apakan adik ku bang" tegurnya marah pada Rival.


Rival tak sanggup menjawabnya lagi. Lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan kakak iparnya itu. Hanya cemas mengusik hati.


Arshen menoleh ke kiri kanan mencari kunci mobil. Setelah melihatnya tergantung di samping lemari, Arshen melempar kunci itu pada Gandhi agar ia membawa mobil Rival.


Mutia merinding melihat banyak darah di rumah Rival. Tak lama Zein datang membawa anak-anak lalu menelepon Naya dan Randy agar membawa anak-anak pergi dari asrama.


"Kita ke rumah sakit sayang. Abang tak akan meninggalkanmu" ucapnya pilu.


Rival mengangkat Shila menuju ke mobil. Wajahnya ikut memucat.


"Tak tau di untung, sudah di tolong Danki dari lembah hitam masih saja menyusahkan" gumam ibu Salim melihat Rival menggendong Shila keluar dari rumah dan hal itu mendapat lirikan tajam dari Arshen.


"Zein..kau urus Bu Salim. Panggil suaminya untuk menghadap saya nanti" tegas Arshen. Rival tak sedikitpun bicara. Ia seakan mau mati menghadapi hal ini, menguatkan dirinya agar tak ikut pingsan melihat kondisi Shila.


"Ma... Ya ampuunn ngomong apa sich" Pak Salim berlari tergopoh-gopoh kesal dengan ulah istrinya.


"Wanita seperti itu tidak bisa di biarkan. Dia bisa saja mengganggu suami-suami kita. Benar nggak ibu-ibu??" teriak Bu Salim meminta dukungan pada ibu-ibu yang lain tapi ternyata tidak ada yang mendukungnya sama sekali hingga ia sedikit salah tingkah.


"Cepat naik!!! Lebih penting nyawa istriku sekarang ini" ajak Rival pada Arshen, suara Rival sudah melemah hampir tanpa tenaga.


"Huuuuuuuu... sial sekali asrama kita! Masih bagus Bu Yara" teriak Bu Salim yang langsung mendapat tamparan peringatan dari suaminya karena sudah sangat keterlaluan.


Rival seketika bersandar lemas sambil mendekap tubuh Shila.

__ADS_1


"Bangun sayang.. Kenapa kamu gegabah Shila. Kenapa kamu nggak jujur sama Abang" lirihnya tak mengurangi rasa pilu. Sesalnya mengoyak naluri.


"Kenapa sulit sekali Abang bicara. Apa yang sebenarnya terjadi bang? Abang dengar tidak.. dia menghina adik ku, menghina istrimu" nada keras Arshen sudah tidak sabar.


"Yang perlu kamu tau, Aku menutup rapat semuanya agar tak ada yang tau apa yang pernah terjadi antara kami." ucap Rival.


"Omong kosong!!" bentak Arshen jengkel tak sanggup melihat penderitaan adiknya.


"Bang Arshen.. sudah bang. Sekarang yang penting selamatkan Shila dulu. Abang pun tau Bang Rival sudah menjelaskannya pada semua anggota, hanya Bu Salim dan Bu Wisnu saja yang membuat semua ini terjadi" ucapnya tak mengenal pangkat.


"Abang Rival coba tenang dulu. Shila sudah tidak kuat lagi bang. Hanya Abang tumpuan hidupnya sekarang" jelas Gandhi.


"Tolong beri saya waktu untuk menenangkan diri." ucapnya setenang mungkin dalam berat beban perasaannya, tapi dalam hatinya sangat resah dan ketakutan luar biasa.


***


Shila masuk ruang tindakan. Rival menatapnya sendu, sebab dokter melarang Rival masuk ruang tindakan. Dokter nampak berusaha keras menyelamatkan nyawa Shila.


"Apa kau bisa sedikit saja tidak menyakiti adik ku??" Arshen mencengkeram kuat kerah seragam Rival.


"Apaaaa????????? Abang jual adik ku saat dia buta???????" Amarah Arshen membabi buta langsung menghajar Rival yang tidak siap dengan keadaan itu. Gandhi kewalahan memisahkan amarah Arshen hingga Oka datang ikut memisahkan mereka.


"Kalian boleh marah dengan keadaan. Tapi jangan ikut jadi tidak waras" bentak Oka tegas.


"Suami Bu Shila" panggil dokter.


"Saya suaminya dok!" Kata Rival sambil membersihkan sisa darah dari sudut bibirnya.


"Bu Shila kritis. Nadinya hampir putus dan cairan serangga sudah kami kuras dari perutnya"


"Astagfirullah.." Rival dan Arshen sama-sama lemas, tapi Rival sampai ambruk tidak sanggup berdiri lagi bahkan bicara pun tak mampu.


***

__ADS_1


Rival dan Arshen duduk berhadapan di ruang rawat Shila. Arshen masih sangat marah pada Rival hingga Oka bicara.


"Ini ada dua rekaman suara dari Bu Ismoyo saat Bu Salim dan Bu Wisnu mempermalukan Shila"


"Mana!!" pinta Rival.


"Maaf bang, ini mungkin keterlaluan" kata Oka menyerahkan ponselnya pada Rival dan Arshen pun ikut mendengarkan.


"Eehh Bu Wisnu, untuk apa kita hormati istri Danki. Dia itu tadinya pengasuh anak-anak Bu Yara. Nggak mungkin banget khan pak Rival mau sama pengasuh kalau nggak di pelet" kata Bu Salim mempengaruhi.


"Iya ya Bu, betul itu. Siapa tau pendidikan dan asal usulnya nggak jelas"


"Eehh.. sudah di tolong kok nggak tau diri. Suami bertugas malah kabur, akhirnya kena tulah sampai buta" kata Bu Salim lagi.


"Tapi Bu, kemarin yang di jelaskan pak Rival ke suami kita khan saat Bu Danki di temukan memang buta, keadaannya sudah sangat mengenaskan" ucap Bu Wisnu yang sebetulnya benar.


"Aahh.. nggak mungkin. Pasti dia sudah macam-macam itu. Saya tetap suka Bu Yara yang santun dan baik asal usulnya"


Hari Rival sakit sekali di buatnya hingga pria sekuat Rival bisa terisak mendengar tuduhan tak bermoral itu. Rival mengatur nafasnya. Arshen merebut ponsel oka lalu menekan tombol play di rekaman kedua.


"Hey Bu Shila.. Bisa ya kembali lagi setelah di temukan seperti itu oleh Danki. Malang benar nasib Danki terima barang bekas" ucapnya mengejek Shila.


"Astagfirullah..Ya Allah dek" Rival mengusap wajahnya, wajahnya memerah menahan marah. Tak terbayang rasa malu yang Shila tanggung saat itu.


"Ibu-ibu kita jaga ya suami kita. Jangan sampai suami kita dimanfaatkan kecantikan wanita munafik ini" kata Bu Wisnu yang terpancing omongan Bu Salim.


"Sudah!!! Matikan Arshen.." Sungguh hampir pingsan Rival saat itu kalau Oka tidak menepuk bahunya berkali-kali.


"Akan ku asingkan Wisnu dan Salim sampai Timika" geram Rival sudah tidak tertahan lagi.


"Sialan kau Val.. kamu selalu membuat semua wanita di sekitarmu celaka" Arshen tiba-tiba melayangkan pukulan telak ke arah Rival hingga ia terpelanting.


.

__ADS_1


.


__ADS_2