
Wanita kalau sudah cemburu, sambaran petir pun tak di dengarnya..
"Masuk dan tidurlah dulu dek. Abang lupa ada pekerjaan yang belum Abang selesaikan"
Shila mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Ia mengganti pakaiannya. Mata Shila menatap dinding kamar rumah Rival dan Yara dulu. Ada tulisan tangan Rival disana.
Yara Sayang..
Terima kasih atas segalanya. Kamu memang bukan yang pertama dalam hatiku, tapi hanya kamu yang memenuhi dan memiliki seluruh isi hatiku. Waktu berjalan mengukir namamu di setiap hariku.
Kamulah bidadariku yang sudah bersedia mengandung dan melahirkan Arben. Dialah keinginanku.
Shila naik ke atas ranjang, menarik dan mendekap selimutnya lalu memejamkan matanya. Rival sedari tadi mengintip Shila. Ia ingin tau perasaan Shila.
Abang yang salah dalam membangun rumah tangga kita. Tidak seharusnya Abang menunjukan dua hati ini bersamaan. Seharusnya Abang simpan kenangan Yara dalam hati saja. Kalau Abang berbalik di posisimu dan tau pasangan Abang masih selalu ingat kenangan lamanya mungkin Abang juga akan merasakan hal yang sama sepertimu.
Rival berjalan ke arah kedua anaknya yang tidak terganggu keadaan apapun dalam tidurnya. Rival duduk di samping ranjang Arben dan Abrian, ia menyentuh pipi Abrian. Rival bangkit kembali. Ia mandi dan berniat melakukan sholat.
Di dalam kamar anak-anaknya Rival sholat, ia benar-benar tertunduk pasrah. Selesai sholat air mata pria ini meluncur deras.
"Ya Allah, perbaikilah hatiku.. Kuatkanlah hatiku, dari hari ke hari hanya bergelung dengan perasaanku. Ya Allah.. Engkau tau aku sangat mencintai Yara. Rasa yang nampak nyata hingga menyakiti Shila dan Engkau pun tau...aku sudah sangat mencintai Shila melebihi apapun saat ini. Ridhoi lah hati ini untuk mengimami dia karena dunia akhirat nya ada padaku"
Rival berdoa entah berapa lama hingga tertidur di kamar anak-anaknya.
-_-_-_-_-
Shila bangun di pagi hari, tidak melihat Rival tidur di sampingnya. Ia bangkit dari tidurnya dan segera mandi.
Shila melihat Rival tidur bersandar masih memakai sarung nya. Shila menyentuh tangan pria yang kini menjadi sandaran hidupnya. Ia menunduk mencium punggung tangan suaminya.
"Tidak akan Shila ulangi bang" lirih nya.
Rival membuka matanya, ia memang sudah bangun hanya matanya saja yang terasa berat untuk terbuka. Rival tersenyum dan mengusap rambut Shila yang sudah tertutup mukena.
"Abang sudah kehabisan kata untuk meyakinkan mu" tatapnya sendu.
"Shila sendiri tidak tahu bang, kenapa bisa menyusahkan Abang sampai seperti ini"
Shila bersandar di dada bidang Rival. Manjanya Shila ini begitu Rival rindukan.
"Gitu donk. Abang pusing nggak tau harus bagaimana kalau istri ngambek"
***
"Gandhi... apa dulu Shila memang pencemburu??" tanya Rival di sela kegiatan yang mulai landai.
"Nggak tuh Danki"
__ADS_1
"Saya rasa juga begitu, Kamu tau Melisa???"
"Tau Danki. Peterjun wanita itu khan?"
"Iya benar, Di rumah Shila hanya ngambek saja meskipun Melisa membuat ulah. Tapi Shila tidak bisa melupakan istri saya"
"Itu ngidam bang. Abang punya berapa anak sampai nggak tau istri ngidam" sela Zein yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ngidam tuh macam-macam bang. Mutia hamil kedua juga berulah bang" kata Zein.
"Tapi yang ini bikin Abang kelimpungan"
"Ya kalau Abang mau uji nyali, coba saja Abang bandingkan. Agar Abang bisa lebih paham bagaimana mengatasinya"
Rival diam sejenak mempertimbangkan usul Zein.
"Ok lah Zein, nanti Abang coba. Semoga nggak terjadi hal tak diinginkan"
***
Rival mencium kening kedua putranya dengan sayang.
"Besok sayangi adikmu ya" pesan Rival di telinga Arben dan Abrian.
Rival kembali ke dalam kamar, mencoba menghubungi Zein. Ia berkirim pesan singkat dengan mengganti nama di ponsel Rival.
Rival : Belum
Z+ : Kangen bang😘
Rival : Abang juga donk.
+++++++
"Kau mau membuat ku mati Zein" gumam Rival dalam hati saat melakukan adegan berbahaya ini.
"Siapa bang?" tanya Shila.
Saat ini Rival benar-benar gugup mendapat pertanyaan dari istrinya.
"Selingkuhan Abang???" tanya Shila melirik ponsel Rival.
"Nggak dek"
"Itu apa?" tanya Shila penuh interogasi.
"Bukan apa-apa dek" kilah Rival.
__ADS_1
"Tidur bang.. jangan urus terus selingkuhan Abang" ucapnya santai.
Apa benar ya yang di bilang Zein.
Rival pun meletakan ponselnya lalu menuju belakang rumah. Di gudang ia mencari lagi foto Yara.
Maaf sayang, mas harus melibatkan mu.
Rival tau saat dia tidak mendekap shila, pasti istrinya itu akan mencarinya. Rival mendengar Shila berjalan mendekat ke arahnya.
Rival memandangi foto Yara. Sejujurnya dalam hati memang Yara akan selalu cantik di matanya, tapi kenangan hanya tinggal kenangan.. ia tidak serapuh seperti saat yang lalu.
Shila perlahan mundur menjauhi Rival yang sedang merasakan kerinduan nya.
"Kenapa kamu menghindari Abang" tegur Rival.
"Ehmm.. Shila hanya ingin ke kamar mandi saja bang"
"Kamar mandinya disebelah kiri, Kalau kesini berarti kamu nyusul Abang"
Shila menunduk tak bisa berkelit.
"Sini duduk sama Abang!!" ajak Rival.
Rival membuka kakinya, ia meraih tangan Shila agar duduk di antara kedua pahanya.
"Kamu itu kenapa? Hanya kesal dengan perempuan lain tapi begitu keterlaluan cemburu dengan Yara" Rival mendekap Shila dan menyandarkan punggung Shila di dadanya.
"Nggak tau bang" Shila menunduk merasa bersalah.
Rival mengarahkan wajah Shila agar melihat ke arahnya.
"Itu nggak baik sayang. Abang nggak poligami lho ya! Abang hanya menyimpan rasa. Sama seperti hal nya kamu dan Abang, Batin kita akan terikat setelah halal. Itulah rasa Abang sama kamu sekarang. Jangan cemburu lagi ya sayang. Kini tubuh dan hati Abang.. kamu yang memiliki semuanya..Seutuhnya" bisik Rival lembut.
Shila tidak bisa membendung lagi air matanya, suaminya sangat sabar padanya.
( Anggap saja seperti ini ya kondisinya🤭🙏 )
"Maaf bang, maafin Shila"
"Iya sayang" lama Rival mengecup kening Shila sampai istrinya itu tenang.
.
.
__ADS_1