
"Shila...."
eeegghhh
Rival mengerang kesakitan. Rival ingin menyentuh wajah Shila, tapi pandangan nya gelap. Tangannya berat untuk di angkat. Rival tak sadarkan diri.
"Abang... Abang kenapa bang?????" panik Shila meraba tubuh Rival tak tau harus berbuat apa.
Suara teriakan Shila membuat Gandhi langsung berlari ke kamar Kapten Rival.
"Maaf Bu, saya Gandhi mau memeriksa kondisi Kapten"
"Tolong bang.. Tolong suami Shila" ucap Shila menyebut dengan jelas bahwa Rival masih sah suaminya.
"Siap Bu"
Tak lama ada dokter memeriksa kondisi Rival. Dokter itu melihat Shila dengan pandangan jijik dan tak suka.
-_-_-_-
"Tidak ada tenaga, beban pikiran membuat asam lambung tinggi" jelas dokter.
"Apa perlu di rawat dok?" tanya Oka.
Rival yang sudah sadar memberi kode agar ia tidak perlu mendapat perawatan di unit kesehatan. Rival sangat mencemaskan Shila. Dokter pun mengerti.
"Dok.. tolong periksa istri saya juga" pinta Rival.
"Ini istri pak Rival???" tanya dokter muda tersebut seolah mengejek.
"Iya" jawab Rival singkat.
"Tidak salah? Dia khan simpanan pemilik warung besar di desa sebelah?" kata dokter itu mencibir.
Para anggota disana sudah mulai resah kalau Rival akan marah sebab pandangan mata sang Kapten langsung berubah, apalagi Rival melihat mimik wajah Shila juga seketika muram. Oka mengangkat ponselnya lalu beranjak keluar kamar.
"Kalau kau tidak niat jadi dokter, silahkan angkat kaki dari sini Dokter Eliana. Tapi jangan sampai saya mendengar suara tentang istri saya" tegas Rival.
"Tapi itu benar Kapten" kata Eliana mencari pembenaran.
"Silahkan angkat kaki" perintah Rival pada Dokter Eliana.
Shila meraba memegang tangan Rival. Ia merasakan nada tinggi Rival.
"Iya.. itu saya" kata Shila menunduk.
Wajah Rival langsung merah padam menahan marah.
"Maaf dokter.. sebaiknya dokter keluar saja!!" ajak Gandhi terpaksa sedikit menarik lengan dokter Eliana sebelum Rival mengeluarkan amarah nya sebab perasaan Rival belum sepenuhnya dingin.
"Kapten.. saya tidak bohong.. dia simpanan pemilik warung itu" teriak dokter Eliana.
hhffttt.. ugghh..
"Astagfirullah..." Rival merasa dadanya sesak dan sakit, ia menggelinjang tidak kuat.
"Ijin Kapten.. apa yang bisa saya bantu untuk mengurangi nyeri nya?" tanya Sertu Dwi.
"Abang????" panggil Shila panik.
"Abang nggak apa-apa sayang" jawab Rival
__ADS_1
"Tolong ambilkan saya air hangat untuk mengompres" perintah Rival terbata.
"Ijin bang.. saya bawa Dokter Deril dari Batalyon sebelah" kata Oka yang baru saja tiba.
"Ya Allah bang! Masih kuat nggak bang" tanya Oka ikut panik terkejut melihat Rival.
Sertu Dwi langsung membantu dokter Deril memasang infus di tangan Rival. Setelah beberapa saat sakit Rival mulai mereda. Gandhi juga ikut membantu mengompres perut Rival.
"Bolehkah Shila merawat Abang?" pinta Shila pada Rival.
Gandhi menoleh pada Rival meminta persetujuan. Rival mengangguk.
Gandhi menyentuhkan handuk itu pada Shila. Shila pun meraihnya lalu meraba baskom, merendam handuk itu lalu memerasnya. Shila mengompres bagian perut Rival. Perhatian Shila membuatnya air mata Rival meleleh.
Anak buah Rival pun meninggalkan komandannya di dalam kamar, dan berjaga di luar. Mereka memberi ruang pada komandannya agar bisa berbagi kasih dengan istrinya.
"Sini tidur di samping Abang!!" Rival meraih tangan Shila.
Shila mulai mulai takut lagi, ingin ia berontak karena takut dengan semua sentuhan pria.
"Percayalah Abang tidak akan macam-macam" bujuk Rival menarik Shila pelan.
Shila tidur di lengan Rival. Hari masih terlalu pagi untuk mereka berduaan di dalam kamar.
***
"Dwi, apa kamu ada kenalan dokter mata?" tanya Rival di sore hari. Badannya sudah jauh lebih baik, infusnya pun sudah di lepas.
"Ijin Kapten, kalau spesialis disini tidak ada. Tapi kalau mau menyimpang, di pedalaman ada kakek tua yang bisa menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Apa Kapten mau coba?" tanya Dwi.
"Iya.. apapun akan saya coba demi istri saya" jawab Rival.
-_-_-_-
Tak lama Shila mendengarkan lagu yang hanya diiringi suara petikan gitar. Suara itu sungguh merdu dan ia jelas paham siapa pemiliknya. Shila memeluk selimutnya, menikmati rasa rindu yang berusaha ia sembunyikan.
🥀
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
Tak bisa kutahan laju angin
Untuk semua kenangan yang berlalu
Hembuskan sepi, merobek hati.....
Meski raga ini tak lagi milikmu
Namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup
Entah sampai kapan
Kutahankan rasa cinta ini
Jauh di lubuk hatiku
__ADS_1
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
Dan kuberharap semua ini
Bukanlah kekeliruan seperti yang kukira
Seumur hidupku akan menjadi doa untukmu
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
Andai saja waktu bisa terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku di sisimu
Namun kutahu itu takkan mungkin…
🥀
"Abang rindu kamu Shila" terdengar isakan tangis setelah lagu itu selesai.
Shila masih menata hatinya setelah mendengar suara Rival dalam rekaman itu.
"Abang.." serunya tak bisa mengira saat suaminya kehilangannya.
"Jangan tinggalkan Abang lagi" ucap Rival yang tiba tiba sudah ada di dalam kamar.
Shila menunduk tak bisa menjawab.
"Dalam hidup.. tak pernah Abang sesakit ini kehilanganmu. Abang ingin kamu menerima Abang lagi" ucapnya sendu.
"Abang selalu memenuhi hati Shila. Tapi Shila tidak ingin mengikat Abang dalam beban hidup Shila"
"Kamu bukan beban untuk Abang. Tapi kamu memang tanggung jawab Abang. Abang suamimu. Abang tempatmu bersandar"
"Sekarang tidak lagi bang"
"Sudahlah sayang.. Abang tidak mau berdebat!!" Rival duduk di samping Shila.
Melihat Shila memakai kaosnya yang kebesaran, juga celana pendek miliknya membuat sebersit rasa muncul begitu saja, desiran kasar sungguh membuatnya tak nyaman.14 bulan yang menyiksa ia tepis. Rival memalingkan wajah dan memilih berdiri.
"Mau sholat sama Abang?" tanya Rival.
Shila mengangguk mengiyakan.
Rival bersiap menggendong Shila.
"Shila jalan saja bang. Malu" pinta Shila datar.. tapi wajahnya cukup memerah. Rival pun tak ingin memandang wajah istrinya lagi. Ia tidak ingin kebablasan saat Shila tidak siap.
.
.
__ADS_1