Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
71. Kini kutahu rasanya.


__ADS_3

"Naura belum siap jawab bang" raut wajah Naura berubah seketika.


"Bukannya kamu bilang kalau Abang serius, Abang harus melamarmu ya?" tanya Oka dengan hati kecewa. Nampaknya perasaan Oka saat ini sama persis seperti saat Rival mendapat penolakan dari Shila dan itu sangatlah menyakitkan.


"Naura mau menenangkan hati dulu bang" Naura meninggalkan Oka yang masih berdiri tak jauh dari Gandhi dan Rafael.


-_-_-_-


"Kamu nggak apa-apa khan dek?" Rival begitu cemas dengan kondisi Shila.


"Nggak apa-apa bang. Ayo cepat kita ke ruangan dokter Farhan!" ajak Shila.


"Ayo.."


Rival masih menatap Oka yang nampak bersedih terpaku di tempatnya, sedangkan Naura pergi dari sana dengan wajah datarnya.


Kali ini kamu melewati batas mu Naura. Abang nggak bisa membiarkanmu kali ini


-_-_-_-


"Sehat kok. Sudah masuk sembilan minggu nih" jelas Farhan.


"Alhamdulillah.." Rival mengusap wajahnya. Shila pun bisa melihat wajah bahagia suaminya.


"Jangan banyak pikiran ya! Berat badanmu sama sekali belum bertambah malah turun tiga kilogram" tegur Farhan pada Shila.


"Harus bagaimana biar cepat bertambah berat badannya? Makan saja nggak mau" keluh Rival.


"Vitamin harus di habiskan, minum susu ibu hamil dengan teratur. Makan sedikit yang penting sering" saran Farhan.


"Iya dok"


***


Oka termenung duduk bersandar di dinding luar messnya. Ia menghisap rokoknya, pikirannya melayang membayangkan Naura. Seorang dokter barbar tapi ia memiliki rasa pada gadis itu.


"Kamu benar suka sama Naura?" tanya Rival pada Oka.


Oka menoleh melihat Rival sudah duduk di sampingnya. Rival menyulut rokok dan menghembuskan asapnya dengan kasar. Rival iseng menemui Oka di Mess setelah istrinya tidur pulas.


"Jangan banyak merokok lagi bang!!" kata Oka mengingatkan.

__ADS_1


"Abang juga lagi stress" ucapnya. Oka menggeleng menanggapi seniornya yang bandel itu.


"Saya sulit jatuh cinta bang, sekalinya suka malah ke wanita model begitu" gerutu Oka.


Rival tertawa melihat raut wajah Oka yang tidak bersahabat dengan keadaan.


"Ya itu namanya cinta, tak tau bagaimana datangnya. Kapan kita memupuknya. Eehh.. tiba-tiba kita nggak bisa mengendalikan rasa. Mikir dia terus, rindu bahkan terkadang sampai egois ingin memiliki"


"Apa rasa itu masih bertahan Abang rasakan" tanya Oka.


"Selalu.. Kini hati Abang sudah terkunci hanya untuk Shila.


"Saya sudah memantapkan hati bang. Besok hari Sabtu. Saya akan melamar Naura pada bapaknya"


"Tapi kamu juga harus menyadari dan kuat hati. Bahwa pilihanmu gadis semacam Naura" tegas Rival.


"Siap"


***


"Saya tidak masalah siapapun yang akan melamar putri saya. Tapi kamu juga harus paham. Putri saya ini ya beginilah adanya" kata Pak Suherman.


"Kalau saya minta kamu nikahi putri saya besok pagi.. kamu siap atau tidak?" tantang Pak Suherman menggoda.


"Lahir batin saya siap. Ijin.. apa bisa saya meminta waktu untuk mengurus berkas pengajuan nikah?"


"Le hati kecil saya berkata kalau kamu yang akan melamar putri saya. Saya yakin hanya kamu yang kuat mental mendidik putri saya. Saya sudah atur semuanya"


"Siap. Terima kasih" tak ada rasa ragu dalam hati Oka.


Naura diam di dalam kamar mendengarkan percakapan antara papanya dan Oka. Ada rasa haru dan bahagia dalam hatinya.


***


"Dek, nanti buat sambal mangga muda ya. Abang pengen makan sambal mangga" pinta Rival sambil meminum jeruk nipis hangat padahal hari masih sangat pagi.


"Belakangan Abang pilih makanan" kata Shila heran.


"Iya nih. Mualmu sudah berkurang, gantian Abang yang mabuk setiap hari"


"Maaf ya bang" sesal Shila.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Abang khan jadi tau apa yang kamu rasakan"


"Ya sudah Abang berangkat dulu. Sudah siang nih" pamit Rival.


-_-_-_-_-


"Bro..elu yang ambil apel ya" kata Rival pada Nathan.


"Kenapa lu? takut kulitmu jadi hitam??? Lagi nggak bisa nih gue. Lihat nih.. kaki gue nggak sengaja tertusuk paku kemarin" ucap Nathan.


"Yaelaahh.. Gue nggak enak badan dua hari ini. Oka sama Zein kemana lagi?? Masa lemes begini harus ambil apel" keluh Rival.


"Yaaa... sudah kayak anak gadis aja lu. Zein keluar kota. Kalau Oka ke Markas, ambil berkas terakhir pengajuan nikahnya" mendengar penjelasan Nathan semakin lemas saja rasanya.


-_-_-_-


Apel pagi di laksanakan sampai selesai. Rival menahan rasa mual yang mendera sekuatnya sampai wajahnya pun ikut pucat di buatnya. Keringat bercucuran.


Para anggota sudah bubar jalan. Rival berjongkok memegang perutnya yang terasa melilit teraduk-aduk. Wajahnya meringis merasakan sensasi luar biasa pada perutnya.


Ya Allah dek.. kamu merasakan mual setiap hari. Abang saja lima menit mau nyerah rasanya.


"Ijin Danki..Apa masih kuat?" tanya Gandhi.


"Masih.." jawabnya tidak meyakinkan.


Gandhi membantu Rival untuk berdiri, tapi Danki A itu kembali berjongkok di tempat.


"Tolong carikan saya manisan asam sekarang!!!" perintah Rival.


"Ijin Danki.. kalau tidak ada manisan asam apa ada alternatif lain???" tanya Gandhi khawatir salah.


"Cari dulu sedapatnya.. yang penting rasanya asam!!!!"


"Siap!!!"


.


.


__ADS_1


__ADS_2