Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
52. Tahan banting.


__ADS_3

"Tak beranilah mereka dengan Abang" kata Oka.


"Geram sekali Abang lihat tua bangka itu" kata Rival sambil menyulut rokok di bibirnya.


"Bang, apa Abang sudah lebih baik setelah menerima semua ujian ini? Maaf bang kalau Abang tersinggung, bukan maksud saya ikut campur dalam urusan rumah tangga Abang. Hanya dalam hati.. saya salut dengan kebesaran hati Abang. Kalau saya nggak akan kuat bang" tanya Oka. Rival tersenyum menanggapi pertanyaan Oka.


"Jujur belum baikan. Tidak ada khan suami yang rela istrinya di sentuh pria lain, sebenarnya Abang juga nggak kuat. Sakitnya luar biasa Ka, apalagi di tambah rasa cemburu, sesak sampai ulu hati Abang rasakan. Sampai sekarang masih terasa menyayat hati, nggak karuan Ka" jawab Rival yang berusaha tetap tegar.


"Lalu apa alasan Abang untuk tetap kuat? tanya Oka lagi.


"Ya karena Abang sayang istri Abang. Hati Abang sudah terpatri.. terkunci hanya untuk Shila. Lagipula dalam hal ini Shila tidak salah, istri Abang kena musibah. Apa lantas adil kalau Abang tinggalkan dia padahal istri Abang sedang di fase mental breakdown. Kecuali, dia selingkuh di belakang Abang.. itu akan lain cerita" jelas Rival.


"Hmm..bang, apa istri Abang masih terlalu takut Abang dekati? Maaf bang.. bukannya saya suka nguping. Suka kedengaran kalau istri Abang ngomong. Saya ngilu denger Abang bujuk istri"


"Itu yang sedang saya hadapi sekarang" ucapnya membuang puntung rokoknya.


"Padahal walaupun sedih, kadang Abang pengen juga. 15 bulan Ka.. puasa" senyumnya tapi itu cukup mengiris hati Oka.


"Abang nggak mau ke tempat kemarin itu bang, sekedar nyolek gitu" kata Oka terbawa frustasi.


"Halaahh Oka.. Abang nggak kepikiran. Shila sudah bikin Abang lupa daratan. Shila sudah buat Abang tergila-gila. Penasaran Abang cuma sama Shila" ucapnya sendu.


***


Di sore hari Rival mengajak Shila menghirup udara segar di ladang belakang barak. Para anggota sedang panen durian disana.


"Duduk disini ya, Abang takut kamu kejatuhan durian" kata Rival.


"Iya bang"


Para anggota tertawa riang melepas penat di tempat tugas.


Rival mengambil senapan angin membidik Rusa liar yang terkadang suka berkeliaran di sekitar barak. Di daerah sana sering ada sapi, kambing, atau rusa liar yang melintas.


Saat peluru tepat pada sasaran, mata Shila melihat ular melintas di sampingnya. Shila sangat terkejut dan berjingkat memeluk Rival yang berdiri hanya beberapa langkah dari tempatnya.


"Abaaangg.. ada ular bang" Shila yang sudah sangat ketakutan memeluk erat pinggang Rival, padahal disebelah kanan Rival ada Oka yang berdiri lebih dekat jaraknya daripada Shila.


"Mana ularnya?" tanya Rival sambil berbalik memeluk Shila.


"Itu bang" tunjuk Shila berjingkat-jingkat karena takut.


Rival tertegun sejenak, mencerna apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Ya Allah sayang.. Alhamdulillah.. kamu sudah bisa lihat Abang??" tanya Rival.


Shila mengangkat kepalanya menatap ke arah suaminya.


"Iya bang, Shila bisa lihat Abang" ucapnya tersenyum.


Ada desiran rasa di hati keduanya saat saling menatap. Wajah Shila memerah, ia salah tingkah. Rival juga seketika melepaskan pelukannya, ia juga ikut salah tingkah seperti bujangan pertama kali jatuh cinta. Aura gugup dari kedua suami istri ini begitu canggung membuat Oka tersenyum gemas.


"Ijin Kapten.. Rusanya langsung di eksekusi sekarang?" tanya Rafael.


"Iya, besok khan libur, lumayan buat kita menghemat uang makan" Kata Rival.


Shila malu sekali bertatap wajah dengan Rival. Sudah satu tahun lebih tidak berhadapan langsung dengan suaminya membuat dada Shila sedari tadi berdesir kencang. Suaminya semakin tampan saja. Antara rasa sedih dan bahagia, ia simpan sendiri dalam hati.


***


Malam ini acara makan bersama. Para anggota sedang memasak rusa hasil buruan Kapten Rival. Shila bisa melihat lagi di anggap berkah oleh semua anggota. Senyum Danki yang sudah lama hilang malam ini terlihat beberapa kali tersungging kembali.


Istri Kapten Rival lebih malu-malu duduk di dekat suaminya. Sesekali Rival menggoda Shila dan menyuapi istrinya itu.


"Sini makan satu piring sama Abang! Abang suapi" ajak Rival duduk di pojok, memisahkan diri dari para anggota. Shila mengikuti Rival.


Duduk di pojok itu hanya mereka berdua disana. Rival menyuapi Shila dengan telaten. Terlihat sekali Rival sangat sayang padanya.


"Nggak bang, Shila sudah kenyang" jawab Shila.


"Kenapa sekarang makanmu sedikit sekali. Bahkan terlalu sedikit" keluh Rival sedih.


"Belum pengen makan banyak saja bang" jawabnya.


***


Rival mengunci pintu kamarnya setelah mengantar Shila dari kamar mandi. Shila masih berdiri di sebelah ranjang dengan gugup.


"Apa mau tidur pakai jilbab begitu?" tanya Rival.


Shila menunduk takut.


"Hanya kamu dan Abang disini" Rival membuka jilbab Shila. Rival memeluk Shila, sungguh saat ini ia sangat rindu bahkan terlalu rindu.


Rival mendekatkan bibirnya pada bibir Shila. Ia mengecup bibir itu seperti saat ia di gubug kakek. Rival tau Shila sangat gemetar ketakutan tapi istrinya tidak menolak perlakuannya.


"Boleh Abang memintanya?" tanya Rival hati-hati.

__ADS_1


Shila memeluk Rival, menyandarkan keningnya di bahu suaminya. Tetesan air mata yang mengalir di pelupuk mata, teringat sentuhan kasar dan menyakitkan yang ingin dia tepis.


"Ini Abang, suamimu dek. Abang nggak akan kasar" ucapnya seakan tau isi hati Shila.


"Bolehkah Shila meminta waktu bang, Shila benar-benar sangat takut"


"Abang berusaha mengerti kamu sayang. Kapan kamu akan meluluskan permintaan Abang?" ucapnya sangat berat.


"Maafkan Shila bang"


Rival mengangkat dagu Shila.


"Jangan lama-lama sayang. Abang tersiksa sekali menunggumu" ucapnya memelas.


Rival terpaksa mengalah, ia tidak ingin istrinya berat hanya untuk memenuhi keinginannya saja. Rival ingin sama-sama merasa nyaman berdua dengan Shila, bukan hanya dirinya saja yang merasa terpuaskan.


***


Sudah satu bulan sejak Shila bisa melihat lagi. Belum terjadi apapun pada Rival dan Shila.


Rival nampak biasa saja hingga suatu ketika ada teguran dari atasan.


"Ini salah semua. Bagaimana caramu dalam bekerja???"


"Siap salah"


"Senapan tidak kamu kunci" tegur komandan saat menelitinya kesigapan anggota.


"Kamu ini pemimpin, membawa anggotamu Kapten. Kalau kamu salah.. kamu bisa membunuh anggotamu atau bahkan kamu sendiri yang terbunuh" bentak Komandan.


"Siap salah"


-_-_-_-_-


"Kenapa kamu bisa lalai? Kurang jatah kamu dari istri????" teguran Komandan sangat tepat menusuk di jantung.


"Siap tidak Komandan" tegas Rival.


"Ada-ada saja" Komandan menggeleng melihat banyaknya kesalahan yang Rival lakukan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2