
Arben memercing merasakan sakitnya bekas hukuman dari pelatih karena ketahuan berkelahi dengan seseorang di tempat hiburan pusat kota.
"Abang masih kuat??" tanya Hilman membantu Arben yang menggelinjang kesakitan.
"Kuat lah, cuma sakit segini mah kecil" jawab Arben.
Wanita sial!!!!!
Hilman pun menyingkir melanjutkan acara teleponnya.
***
"Biarkan saja. Dulu Abang juga begitu!" kata Rival menenangkan Shila yang sangat mencemaskan putranya.
"Biar di habiskan nakalnya sekarang, asal kalau sudah menikah dia tau dan paham akan tanggung jawabnya. Abang yakin setiap pria pasti punya alasan kenapa dia berlaku brutal"
"Begitu kah bang? Abang dulu senakal apa?" tanya Shila.
"Hahaha.. campuran antara semua anak laki Abang" jawab Rival.
"Papaaaaaa" Lilan melompat ke atas tubuh papanya. Tak peduli ia sekarang sudah SMA.
"Hwaduuhh..Ya Allah..anakmu ini maaa" Rival kelabakan menutupi tubuhnya yang tertindih putri satu-satunya.
"Jangan sembarangan Lilan!!! Banyak hardware bisa error!!!!" pekik Rival menghindari putrinya.
"Kamu jangan gitu, sudah besar kok manja begitu sama papa?" tegur Shila.
"Bang Arben nggak ada, Bang Abrian juga nggak ada. Lilan kesepian pa!" kata Lilan cemberut.
"Ya sabar. Kalau libur Abangmu pasti pulang"
"Kapan ma?"
"Lebaran nanti. Ini mau masuk bulan puasa. Jadi nggak lama lagi Abangmu pulang" Jawab Rival menyahut.
-_-_-_-_-
Lilan mengambil ponselnya lalu memberi pesan singkat pada kedua Abangnya.
📱✏️ Pembunuh bayaran
Lilan : Bang Arben, hari ini Lilan haid lho...
Arben : Terus Abang harus bagaimana? 😑
Lilan : Kasih selamat donk bang.
Arben : Selamat malam.
Lilan merasa kesal karena respon Bang Arben sangat datar untuknya.
📱✏️ Tembok China
Lilan : Bang Brian, hari ini Lilan haid lho...
Brian : Maaf nomer yang anda tuju sedang tidur.
Lilan : Iihh.. bang!!.. Kenapa nggak kasih selamat sih?
Brian : Abang nggak bisa jawab. Nggak ngerti.
Lilan meletakan ponselnya dengan jengkel. Abangnya sungguh tidak peka, bahkan memberi selamat pun tidak.
__ADS_1
***
Siang ini ada yang anggota yang mengantar dua paketan untuk Lilan. Gadis cantik itu menerima lalu membukanya. Ada nama Arben dan Abrian disana.
Lilan membuka paketan itu dengan semangat. Arben memberinya mukena dan kalung emas yang cantik sedangkan Abrian memberikan Al-Qur'an dan gelang.
"Kamu sudah dewasa sekarang!! Harus pintar jaga diri!!" pesan Arben tiba-tiba muncul di bingkai pintu kamarnya membuat Lilan terpaku sesaat.
Tak lama Abrian pun datang dan langsung membuang tas rangselnya sembarangan.
"Abaaangg!!!!" teriak Lilan yang langsung melompat untuk minta gendong pada kedua kakaknya. Arben dan Abrian langsung menangkapnya
"Astagfirullah.. kamu udah gede, masa masih minta gendong Abang. Sudah turun.. Abang puasa" tegur Arben.
"Memangnya kenapa? Lilan suka" kata Lilan.
"Untung adik. Hwuuuuu" kesal Brian sambil menurunkan Lilan.
Saat itu Shila pulang dari pasar dan melihat kedua putranya pulang masih dengan seragam pendidikan.
"Maa.." Arben dan Abrian langsung menghambur memeluk Shila.
"Anak mama. Arben.. Abrian" seketika air mata haru Shila menatap putranya. Mereka bertiga berpelukan cukup lama.
"Bagi tempat sedikit buat papa!" tegur Rival sambil memeluk mereka bertiga.
"Papa khan setiap saat peluk mama" celetuk Arben yang langsung mendapat jitakan keras di kepala Arben.
***
"Kamu sempat tertangkap pelatih karena apa Ben?" tanya Rival pura-pura tidak tau.
"Belain cewek yang nggak bisa di belain pa" jawab Arben santai.
"Siapa?"
"Kamu suka sama dia?" tanya Shila.
Arben hanya tersenyum getir.
"Abang pintar dalam segala hal kecuali perempuan" ledek Brian.
"Tau apa kamu?" ucap datar Arben. Bahkan Brian sendiri tidak ingin mencari perkara dengan Abangnya sebab ia paham bagaimana sifat Abangnya itu.
"Bang.. Lilan pacaran ya?" tanya Lilan.
"Nggak!!!!" jawab Arben dan Abrian kompak. "Sekolah dulu yang bener. Kamu nggak boleh pacaran tanpa sepengetahuan Abang" tegas Arben.
"Kenapa sich Bang??" Lilan mulai cemberut dengan mode polosnya.
"Abang ini laki, Abang sudah tau otak mesumnya laki-laki" kata Arben.
"Seperti Abang??" tanya Lilan.
"Uhuukk..uhuuuk...." Arben menepuk dadanya karena terkejut dengan pertanyaan Lilan.
"Ketauan mesumnya lu bang!!!" ledek Brian menyodorkan segelas air putih untuk Arben sambil tertawa terbahak.
"Bang Brian juga mesum khan?" tanya polos Lilan. Tawa Brian langsung hilang seketika.
"Sudah.. jangan banyak bicara di meja makan. Adik-adik saja diam" tegur Rival.
***
__ADS_1
Arben merokok di belakang rumah setelah sholat tarawih. Wajah itu sungguh tercetak serupa wajah Rival. Asap mengepul betebaran di belakang rumah.
"Kurangi rokokmu!!! Papa juga merokok tapi tidak keterlaluan sepertimu" tegur Rival.
"Iya pa" Arben mematikan rokoknya.
"Patah hati?" tanya Rival.
"Biasa saja pa, aku nggak serius pikir wanita..Sedatangnya saja. Masih muda juga pa" senyumnya.
"Apapun yang kamu lakukan, jangan pernah tergoda dengan wanita. Sekali kamu buat kesalahan, sampai kamu menikah nanti akan terbawa di kehidupan rumah tanggamu" nasihat Rival.
"Aku ngerti pa"
"Bagus!! pakai itu sebagai pedoman hidup"
"Papa dulu nakal nggak?" tanya Brian yang juga menyulut rokoknya disana. Rival menggeleng melihat kedua putranya itu.
"Yaaaa.. wajar saja. Asalkan tidak main wanita" jawab Rival penuh penekanan.
***
"Bang Arben.. Kapan Lilan boleh pacaran??" rengek Lilan menggoyang lengan Arben.
"Siapa sich yang ngajak kamu pacaran??? Sampai buat adik Abang kegenitan" kesal Arben.
"Ini.. Lilan kenalan lewat medsos" Lilan menyerahkan ponselnya pada Arben, Abrian pun yang sedang menonton TV ikut melongok melihat ponsel.
"HILMAN???????????" Arben dan Abrian melotot melihat adik tingkatnya yang menggoda Lilan.
"Waaa.. kasih pelajaran bang!!" kata Brian.
"Bisa-bisanya dia mau pacarin kamu" kesal Arben.
"Sini naik, foto sama Abang.. nanti kamu upload. Abang mau lihat reaksinya" perintah Brian.
Lilan berkedip tak paham maksud Brian. Kakaknya itu langsung menyambar ponsel Lilan.
"Sini peluk dan bersandar di dada Abang" Brian menarik adiknya. Lilan yang polos begitu natural tanpa di buat-buat.
Brian langsung meng-upload foto itu di sosmed Lilan.
Tepat saat itu Hilman yang melihatnya pertama kali. Ia memutuskan langsung menelepon Lilan.
#
"Kenapa kamu bisa berfoto sama Bang Brian??"
"Memangnya nggak boleh ya Bang?" tanya Lilan dengan polos dan tanpa rasa bersalah nya.
"Nggak boleh..!!! Kamu harus tunggu Abang sampai selesai sekolah. Walau hanya sekedar sosmed, Abang nggak main-main sama kamu! Hapus foto itu dek. Nggak pantas laki-laki dan perempuan tanpa ikatan sampai sedekat itu"
Arben menulis di secarik kertas agar Lilan bisa membacanya.
'KALAU ABANG KE ASRAMA TEMPAT LILAN TINGGAL, BERANI NGGAK???'
Hilman membacanya dan sangat tertantang.
"Besok pagi kamu bangun, Abang sudah ada di rumahmu. Kasih alamatmu sekarang juga!!!!" tegas Hilman.
Brian tersenyum licik sedangkan Arben menggeleng dan berwajah datar.
.
__ADS_1
.
.