Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
38. Karena cinta


__ADS_3

Shila sudah bisa tidur, sampai tengah malam ia terus merasa kesakitan.


"Eehhmm.." Arshen masuk membawa makanan untuk Rival. Suami Shila itu hanya melihatnya sekilas.


"Bagaimana adik ku bang?" tanya Arshen.


"Hampir tidak bisa tahan sakit" keluh Rival.


"Sejak kecil, luka pun tidak pernah" kata Arshen.


"Bagaimana kamu tau dia adikmu?"


"Waktu Abang bertugas, Abang menelepon Shila pakai ponselku. Dari sana aku tau kalau dia adik ku" penjelasan Arshen.


"Lalu bagaimana kalian terpisah" tanya Rival.


"Ada paman membawaku ke kota dan Shila tetap di desa, karena jarak kami tidak pernah bertemu.


"Sebenarnya apa hubungan kalian??" selidik Rival.


"Apa Abang tidak memahami nama kami. Arshen dan Arshila?? Aku dan Shila, satu ayah beda ibu. Ayahku menikahi ibunya Shila saat ibuku meninggal. Tapi ibunya Shila bunuh diri karena ayah Shila tidak bisa melupakan ibuku"


"Astagfirullah hal adzim" dada Rival terhantam keras, seketika itu juga ia sangat ketakutan Shila akan berbuat nekat seperti itu.


"Saat Abang belum sadar dia menceritakan padaku. Jangan pernah Abang lakukan lagi atau aku akan membawanya pergi!!!" ancam Arshen.


"Tolong jangan bawa istriku pergi! Aku yang salah"


"Di militer.. Abang memang senior saya, tapi di luar itu Abang adik ipar saya. Jangan macam-macam dengan Shila, saya pun mampu membunuh Abang jika Abang menyakiti nya" tegas Arshen.


"Sudah.. Abang makan dulu. Sampai tengah malam Abang belum makan khan? Makanan dari mama juga belum Abang sentuh" kata Arshen.


"Bagaimana bisa makan kalau istri seperti ini" Rival sungguh tidak berselera makan.


"Lemah juga kau bang" ledek Arshen.


"Lihat kau nanti kalau berhadapan dengan situasi seperti ini. Segagah apapun pria, tidak akan sanggup kalau istrinya dalam keadaan seperti ini"


"Apa itu benar bang?" tanya Shila yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.


"Benar lah, apa pria itu bukan manusia? Pria juga punya kelemahan dan menangis" kata Rival mengusap pipi Shila.


"Bang.. Abang demam??" tanya Shila merasakan tangan Rival lebih hangat.


"Abang nggak apa-apa" jawabnya.


Arshen menyentuh kening Rival. Memang Rival sedang demam. Arshen keluar berniat memanggil dokter.


"Halah kau ini, Abang bukan nona muda" kata Rival.


-_-_-_-

__ADS_1


Rival menyandarkan punggungnya pada kursi tunggu, ia tak sanggup menghabiskan makanannya. Cukup lama Rival memandangi Shila, tangannya terus menggenggam jemari istrinya. Tak lama Rival tertidur.....


🌹🌹🌹


Bangun dek!!!!! Mana janjimu selalu setia di sisi Abang????? Shila...jangan tinggalkan Abang. Shilaaaa" Rival histeris menggoyang tubuh Shila.


Rival bersandar lemas di samping Shila, tangannya tetap merangkul tubuh yang tidak bereaksi itu.


"Ya Allah, apa salahku sampai kau ingin mengambil semua yang aku sayangi. Cukup satu kali saja rasa sakitmu kehilangan Yara. Jangan kau ambil lagi Shila dariku. Aku tidak punya kekuatan lagi merasakan sakit nya Ya Allah" tangis Rival begitu pilu.


🌹🌹🌹


"Bang!!! Abang..bangun bang" Arshen menepuk pipi Rival dengan panik.


"Shila sayang.. Abang kapok.. bangun sayang" teriaknya meraung memekakan telinga hingga Farhan pun masuk ke ruang rawat Shila.


"Ada apa sih???" tegur Farhan.


"Bang Rival ngigau, tapi sulit di bangunkan. Badannya panas sekali" kata Arshen. Shila menatap suaminya tanpa bicara, sedih sekali rasanya melihat suaminya itu.


"Abang.." lirihnya.


"Val..." Farhan menampar pipi Rival hingga littingnya itu bangun dari tidurnya.


"Shila!!!!!" teriaknya berjingkat hingga ia jatuh dari kursinya.


"Amazing..." Farhan menepuk dahinya lalu menelepon dokter jaga UGD untuk membantu Rival.


-_-_-_-


Rival terbaring menutupi wajahnya dengan lengan. Irama jantungnya belum normal.


"Bingung saya.. siapa sekarang pasiennya?" gumam Farhan melihat Rival satu ranjang dengan Shila, perawat yang membawa ranjang ke kamar Shila pun ia tolak karena tidak ingin berpisah dengan istrinya.


"Shila tertindih bang" kata Arshen mengingatkan


Rival tidak menjawab, hanya sedikit memiringkan badan dan mengapit paha Shila.


"Abaaangg iihh" protes Shila yang masih punya rasa malu dengan kelakuan suaminya meskipun posisi nya saat itu setengah duduk.


"Kurang ajar!!!" umpat Arshen menepak pembatas ranjang dengan kesal.


"Kasihanilah kami senior, kami masih polos nih" pinta Oka dengan nada memelas.


***


Arben dan Abrian berebut ingin melihat adik mungilnya. Rival berjongkok dan memperlihatkan si kecil mungil itu.


"Ini adik siapa pa?" tanya Arben.


"Adiknya Arben dan Abrian donk"

__ADS_1


"Lucu ya pa! Namanya siapa?"


"Oohh..iya, papa belum kasih nama" kata Rival.


Rival menoleh ke arah Shila.


"Abang atau kamu yang kasih nama dek?" tanya Rival.


"Papanya saja yang kasih nama" jawab Shila.


Rival mencium putri kecilnya. Rival berpikir sejenak memandangi putrinya. Dipeluknya kebahagiaan baru dalam keluarganya.


"Namanya 'Ariela Milanshuri Tantrayana' "


Shila menarik nafasnya dalam-dalam mendengar nama pemberian Rival untuk putrinya.


"Suka?" tanya Rival.


"Iya bang.. siapa panggilan nya"


"Lila.. Kamu akan papa panggil Lila" Rival mencium gemas putrinya, tak terbayangkan hatinya berbunga bisa memiliki putri cantik dan imut.


-_-_-_-_-


Rival mencuci semua sisa kelahiran putrinya juga sama seperti kelahiran Arben dan Abrian dulu.


Shila berpegangan berjalan pelan menghampiri suaminya, ia merasa tidak enak karena suaminya mencuci semua noda yang ada disana. Shila sedikit membungkuk merebut pakaiannya.


"Biar Shila bang"


"Kenapa bangun?? Bekas jahitan nya masih nyeri khan?" Rival merebut lagi pakaian di tangan Shila.


"Maaf ya bang, Abang jadi susah"


Rival tertawa mendengar ocehan Shila.


"Tidak usah mendramatisir keadaan" kata Rival santai. Shila memegangi tangan Rival.


"Dalam darah ini mengalir darah Abang juga, dan disini ada perjuangan istri Abang. Ini sudah kewajiban Abang sebagai suamimu"


"Terima kasih ya bang"


Rival mencium bibir Shila.


"Hweeee..papa sama mama lagi sayang sayangan" teriak Arben. Rival menarik wajahnya lalu berjongkok melempar pakaian yang di bawanya tadi ke dalam ember. Shila duduk perlahan lalu minum untuk mengurangi gugupnya.


Arshen hanya tersenyum malu padalah bukan dia yang melakukannya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2