Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
93. Ibu dari anak-anakku.


__ADS_3

Rival menggendong dan menimang sayang jagoan nya.


"Hey bro.. Cepat guling botol!! bisa ya kamu buat papa kocar-kacir. Papa sudah mau mati saking cemasnya. Kalau besok kamu nakal sama mama.. kita tarung habis-habisan" ancam Rival.


"Papa.. kok gitu sama anaknya!"


"Biar ma!! Anak papa harus jadi pejantan tangguh, bukan sekedar laki ecek-ecek" Rival mencium gemas jagoan ketiganya.


Tak lama pintu kamar rawat Shila terbuka, ada Panglima masuk ke dalam.


Rival sedikit menegakan badannya sambil menggendong si kecil Agata.


"Selamat siang.. Kapten Rivaldi Alfario Ijin menghadap!!"


"Santai saja Kapten, saya kesini bukan untuk acara dinas. Saya kesini sebagai Abang yang melihat kabar adiknya" ucap Panglima langsung nyelonong mengusap pipi Shila dengan senyumnya.


Wajah Rival langsung berubah pada mode panas waspada siap perang.


"Siap!!" Rival sudah biasa bersikap tegas masih punya sedikit rasa canggung menyimpan rasa kesal.


"Biasa saja Val!! Saya memang Abangmu!!" kata panglima bernama Johan itu mengingatkan.


"Bagaimana kondisimu dan Shila?"


"Istri masih dalam masa pemulihan, sedangkan saya sudah sudah sehat bang" jawab Rival hampir kehilangan rasa hormat pada Bang Johan.


"Akhirnya saya benar-benar bisa bertemu kamu Val" Bang Johan sangat salut mendengar semua kisah Rival.


"Saya biasa saja bang" senyum Rival di paksakan. Bang Johan tersenyum geli melihat ekspresi Rival.


Disana Shila sudah berbincang ringan dengan istri bang Johan. Istri bang Johan juga sangat salut dengan Shila tadi belum sampai bicara saja, sudah menangis menatap mata Shila.


"Yunda sangat merindukan wajah ini" kata Bu Johan memeluk Shila. Istri Rival itu pun membalasnya dengan ringan tanpa beban.


Arshen membuka pintu, memberi hormat lalu masuk ke dalam ruangan Shila.


Bang Johan menampar pelan pipi Arshen.


"Heh, Bujang sisa!! Sombong sekali kamu nggak pernah hubungi" tegur Bang Johan.

__ADS_1


"Maaf, aku sama jaga Shila"


Rival masih terpaku berdiri tegak. Bang Johan tersenyum.


"Abang juga Rakamu"


Rival refleks menegakan badan lagi. Ia lumayan terkejut mendengar Shila adik seorang panglima. Gadis sederhana ini tidak sesederhana yang ia kira.


"Kamu cuti saja setelah Shila sembuh. Abang tau kamu jarang sekali mengambil cutimu. Kasihan anak-anak, biar mereka bersenang- senang selama liburan" perintah Bang Johan.


"Siap" ucap Rival lantang membuat Agata menangis dalam gendongannya.


"Huussttt.. maaf sayang.. papa lupa!!" ucapnya sambil dengan cepat menenangkan Agata.


Rival tersenyum menggeleng, ternyata masih banyak rahasia di antara keluarga mereka.


Bang Johan dan istri tersenyum melihat Rival yang kental dengan jiwa kebapakan.


"Nggak iri kamu lihat Rival gendong anak??" tanya mbak Arumi pada Arshen.


"Cckk.. iri juga mau buat sama siapa yunda??" kesal Arshen.


***


"Kamu bikin malu Abang aja dek" Rival menepuk keningnya.


"Kenapa bang??"


"Kalau Abang macam-macam, bisa di tembak mati sama dua Raka mu itu"


"Abang mau macam-macam apa????" Shila menepak bahu Rival.


"Nggak bebas ngelirik cewek donk dek" cerocos Rival sengaja membuat istrinya kesal.


"Raka... Abang Rival nih, mau kawin lagi" teriak Shila berteriak membalas Rival.


Rival terlonjak kaget. Tak lama Arshen membuka pintu mendengar teriakan Shila. Arshen dan Johan sedang berbincang di koridor rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Johan.

__ADS_1


"Hiiihh.. haduh.. mulutmu itu dek. Abang ngelirik, bukan mau kawin" Rival tersenyum dengan gaya cool lalu beralih memelototi Shila.


"Abang Rival bilang mau kawin lagi" Shila mulai mengadu.


Johan masuk dengan wajah datarnya menatap Rival, lalu ikut menepak bahu Danki A itu.


"Apa-apaan ini. Nggak boleh.. Raka duluan. Raka khan lebih senior" tak ayal Bu Johan mencak-mencak mencubit pinggang suaminya yang tak kalah usil seperti Rival.


***


Sudah dua hari ini Shila berada di rumah. Shila masih saja kesakitan belajar berjalan padahal Rival sudah memberikan obat terbaik untuk istrinya.


"Nanti Abang tanyakan sama Farhan ya! Abang cemas lihat kamu kesakitan terus dek"


"Nggak usah bang! Shila nggak apa kok. Mungkin ini prosesnya saja" tolak Shila.


Perasaan Rival tak tega melihat keringat Shila bercucuran, baru tiga langkah sudah kembali kesakitan, wajahnya pucat.


"Shila pusing bang" kata sambil bersandar di bahu Rival.


"Ya sudah ayo duduk dulu!! Jangan di paksa!!"


Rival membantu Shila duduk dengan sangat hati-hati, tapi tetap Shila merasakan sakit. Istrinya pun sampai menangis. Rival mengarahkan Shila agar sedikit merebahkan badan lalu mengangkat kaos Shila, di bukanya ikatan penyangga perut Shila.


"Eegghmm... rembes nih dek" Rival meringis ngeri melihat perban anti air Shila nampak banyak noda darah.


***


"Buat apa Abang melihat bekas lukamu? Mau ada bekas luka atau tidak, Abang tetap cinta. Abang nggak butuh liat bekas luka kalau lagi pengen, yang Abang butuhkan khan yang lain!! Kalau mau hilang bekas lukanya biar Farhan kasih resepnya, nanti Abang tebus" Rival terus mengajak Shila bicara karena Farhan sibuk menjahit ulang luka Shila. Farhan sesekali tersenyum geli mendengar ocehan littingnya yang kadang menyentuh hatinya juga.


Sebenarnya Rival tak habis pikir karena jahitan Shila selalu saja terbuka dan di jahit ulang. Tapi ingin marah pun juga percuma karena Shila sampai begitu juga demi mengurus ke empat anaknya.


"Abang iihh.. Nggak malu kah ada bang Farhan" tegur Shila.


"Urat malunya sudah putus, di gantung di pagar" jawab enteng Farhan.


"Yang ngomong aku, kok kalian yang bingung"


"Terserah lah bang" Shila memilih menyerah berdebat dengan Rival.

__ADS_1


.


.


__ADS_2