
"Tidak perlu tau, yang jelas keluarga mu harus membayar mahal dari setiap perbuatanmu"
Rival diam mencerna setiap ucapan. Sesaat kemudian ia menyadari maksud pria itu.
"Jangan sentuh istri dan anak ku" tegas Rival membidik tepat di depan dada pria itu.
"Tahan Kapten!!!!!" kata Komandan.
Tampak Rival melihat seorang pria menghantam pintu rumah Rival dengan kencang. Pria itu menyeret Shila yang masih memakai pakaian tidur satin terbungkus piyama yang masih belum terikat sempurna.
"Shilaa" sakit sekali perasaan Rival melihat istrinya dalam genggaman pria lain dengan keadaan 'terbuka' seperti itu. Rival berjalan maju.
"Istrimu yang cantik itu akan kami tahan Kapten!!" Pria di hadapan Rival menodongkan senjata tepat di dada Rival. Kapten Rivaldi mengangkat kedua tangan menghentikan langkahnya untuk menolong Shila.
"Kamu berurusan dengan saya, jangan libatkan istri saya" kata Rival, dalam hatinya benar-benar marah melihat perlakuan pria yang menahan Shila sedang memainkan dagu Shila. Shila menangis ketakutan disana.
"Jangan sentuh istri saya" bentak Rival sambil mengawasi Shila, berharap pria itu tidak memperlakukan Shila dengan buruk.
"Kelemahan seorang Kapten Rival???" tawanya begitu nyaring.
Deretan anak buah Rival sudah menyelesaikan kerusuhan di luar Batalyon dan itu hanya sebuah pancingan untuk membuat situasi genting.
Anak buah Rival mengacungkan senjata. Tapi pria yang menyeret Shila keluar membuka jaketnya dan memperlihatkan rompi yang tergantung sebuah bom di perutnya. Senyumnya semakin menambah sakit hati Rival.
"Berani kau tembak saya, istrimu yang cantik ini akan ikut mati bersamaku" katanya sambil tertawa terbahak, ia melepas ikatan rambut Shila hingga terurai indah, mata para anggota tetap waspada walau ada adegan dan pemandangan istri Danki yang menyilaukan di depan mata.
"B******n..." teriak Rival mengumpat kasar. Ia ingin bertindak menyelesaikan semua, tapi ia tidak mau gegabah karena di perut Shila ada anaknya juga.
Tiba-tiba seorang pria mengendap dari arah atap dan melompat menarik pria yang menyandera Shila, dia lah Arshen.
Arshen menarik pria itu, tapi Shila ikut tertarik jatuh di halaman rumahnya karena pria itu masih memegangi Shila. Arshen menghajar pria itu hingga pria itu melepas tangan nya dari Shila. Sedangkan Rival sesaat tadi bisa merebut pistol pria di hadapannya saat musuhnya itu sedikit lengah.
Rival yang sudah di kuasai emosi membanting pria tersebut hingga patah tulang tangan dan kaki.
Sebagian anak buah Rival menyelesaikan nya. Dan sebagian lagi mengurus pria yang sedang di tangani Arshen. Rival berlari ke arah Shila yang berteriak ketakutan memegangi perutnya.
"Jangan sentuh saya, tolong jangan sentuh saya" teriaknya mengibaskan tangan menghindari siapapun yang menyentuh nya.
"Dek.. ini Abang sayang. Lihat ini Abang!!!" Rival berusaha memegang dan menyadarkan Shila yang ketakutan. Hancur hatinya saat ini melihat keadaan Shila, tak ada yang lebih menyakitkan hati Rival dari pada melihat tangis pilu istrinya.
Dress Shila tersingkap tinggi memperlihatkan paha mulusnya, berkali-kali tangan Rival menutupinya tapi Shila tetap meronta meminta untuk di lepaskan. Rival tak tahan lagi, ia terpaksa mendekap Shila dan memeluknya untuk menutupi tubuh istrinya agar tidak terlihat anggota lain karena pakaian istrinya begitu tipis.
"Abang salah..Abang yang salah tidak bisa melindungi mu sayang" sesalnya menangisi keadaan Shila. Rival memeluk Shila dengan erat. Shila tak kunjung menyadari bahwa yang memeluknya adalah suaminya.
__ADS_1
"Shila...sayang!!" Rival menggoyang tubuh Shila dalam dekapannya.
"Ya Allah..." Rival mengangkat istrinya masuk ke dalam rumah. Begitu cemasnya Rival hingga ia ikut gemetar melihat kondisi Shila.
Rival menutup tubuh Shila, badannya dingin dan menggigil.
"Abang harus bagaimana sayang"
Secepatnya Rival mengapit Shila menghangatkan tubuhnya agar istrinya bisa tenang.
-_-_-_-_-_-
"Abang.. Shila malu.. lepaskan Shila bang" tangisnya pecah, Shila berontak merasakan Rival sedikit menindihnya. Rasa mual mendera hebat karena perasaan dan kondisi psikisnya sedang buruk.
"Malu kenapa sayang? Disini hanya ada kamu sama Abang" Rival tau istrinya merasa malu karena banyak mata yang melihatnya terbuka seperti tadi.
"Mata orang tidak akan jelas memandang saat malam gelap. Situasi tadi juga tidak akan mengarahkan mata untuk lurus ke arah mu. Tenanglah. Hanya Abang yang paham istri Abang" bujuknya.
tok..tok.. tok...
"Bang, Danyon memanggil!! Kata Oka.
"Katakan tidak ada yang lebih penting dari istri Abang" kata Rival.
"Abang tau, tolong beri Abang waktu menenangkan istri Abang" tegas Rival menolak Oka.
"Kalau Abang tidak temui Danyon, Abang akan ditindak"
"Terserah!! Lakukan apa saja asalkan jangan ganggu Abang malam ini"
Randy memberi kode agar Oka menurut perintah Rival, saat kejadian tadi Arben dan Abrian sudah Shila arahkan untuk pergi ke rumah Zein untuk berlindung hingga dirinya sendiri yang tertangkap.
"Sudahlah.. tidak ada gunanya bicara padanya sekarang. Kamu pasti tau bagaimana watak Rival"
"Siap!!"
-_-_-_-_-
"Jangan banyak pikiran, tidak akan terjadi apa-apa. Lihat kondisi mu sekarang jadi seperti ini!" Rival memijat badan Shila. Istrinya itu terus menggenggam kuat ujung seragam Rival. Setiap kali Rival pergi Shila akan merasa sangat ketakutan.
"Abang akan dapat tindakan besok??" tanya Shila cemas.
"Nggak, itu semua hanya gertakan" jawab Rival.
__ADS_1
"Sungguh kah bang?"
"Iya sayang" senyum Rival yang sulit di artikan Shila.
***
"Sikap tobat!!!!" perintah Komandan.
"Siap laksanakan"
Rival langsung menjungkirkan kepala, tangannya ia lipat di atas punggung.
"Tetap seperti itu sampai kamu lelah!!!"
"Kamu tau atau tidak kalau kejadian semalam bisa menghancurkan Batalyon ini!!! Apa kamu pacaran dengan anak ketua separatis itu???"
"Siap tidak" tegas Rival.
Lama Rival melaksanakan hukumannya, ia pun ambruk karena sudah tidak kuat lagi menyangga badannya di lapangan sisi barat ruang Komandan.
"Berdiri!!!!!" perintah Komandan. Rival menguatkan badannya untuk berdiri tegak.
"Dia mengincarmu. Saya tau pekerjaanmu memang rapi. Tapi membuat mereka datang kesini, itu sangat bahaya" tegur Komandan dengan marah.
"Saya bekerja demi negara ini. Siapa yang tau mereka akan membalas sakit hati mereka dengan cara seperti ini. Setiap pekerjaan itu mengandung resiko. Hadapi saja semuanya. Itu bagian dari pekerjaan kita" kata Rival.
"Tapi kamu bisa membahayakan saya. Jabatan saya taruhannya"
Mendengar itu rasanya emosi Rival meledak kencang. Kemarahan dalam hatinya tidak bisa ia tahan lagi.
"Kau masih memikirkan jabatanmu???? Apa matamu belum melihat dengan jelas istriku yang sedang hamil itu hampir mati karena dendam kelompok separatis????? Lebih baik kau turun dari jabatanmu itu sekarang bang. Dasar sampah"
Tatapan mata Komandan begitu tajam mengarah pada Rival. Sang King Cobra pun tak melepaskan tatapan tajamnya pada Danyon.
Keadaan yang memanas itu tertangkap mata Oka dan Arshen yang berjaga tidak jauh dari lapangan.
"Semakin panas bang. Kita kesana atau tidak?" tanya Oka.
"Jangan ikut campur dulu. Jika situasi tidak aman, baru kita turun tangan" ucap Arshen.
.
.
__ADS_1