Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
84. Kapten Rivaldi ( 2 )


__ADS_3


"Tidak kah kamu tau suamimu meminta apa padaku?" tanya Fitri sengaja memancing amarah Shila.


"Itu permintaannya di dunia maya. Tapi di dunia nyata suamiku hanya memintanya padaku" jawab Shila tenang.


"Tapi suamimu mengirimkan fotonya yang bertelanjang dada padaku" ucap Fitri.


"Ya itu bonus untukmu dan hanya foto" Rival dan yang lain menatap heran ke arah Shila.


"Karena setiap jengkal tubuh suamiku, bahkan bukan hanya di foto, hanya aku yang bisa menikmatinya dan itu membuatku sangat puas" ucap Shila dengan tegas meremehkan Fitri.


Rival mengulum senyum dan menunduk, menggeleng kepala tak menyangka Shila bisa mengatakan hal itu. Naluri lelakinya langsung meninggi, berdesir membuatnya gemas.


"Suamiku tidak akan tergoda dengan keong sawah macam kamu, karena suamiku levelnya sudah kerang mata tujuh" cibir Shila.


Rival terus menunduk menyembunyikan tawanya. Yang lain di sana pun ikut menyembunyikan tawa. Hanya Fitri saja yang merasa kesal karena di permalukan.


"Iya nggak sayang???" tanya Shila pada Rival.


"Yes Beib" Rival mengerlingkan matanya dengan nada nakalnya.


"Eehhmm.. Fitri.. Kamu bisa tinggalkan rumah saya sekarang juga!!!!!! Kamu, Ibumu dan keluarga mu sekalipun. Tidak saya terima di rumah saya" tegas Rival.


"Nggak..aku masih mau disini" tolak Fitri dengan tak tau malu.


"Kamu punya malu atau tidak??? Saya masih menghargai ibu kamu yang sudah banyak membantu keluarga saya. Tapi kelakuanmu ini tidak bisa saya maafkan. Kamu sangat mengganggu keluarga saya" Rival tak bisa bertoleransi.


"Tapi aku mau disini. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi lagi" rengek Fitri.


"Perintah saya mutlak. Arshen.. buang semua pakaiannya kalau dia tidak mau keluar dari rumah ini. Panggilkan provost agar menyeretnya keluar dari rumah saya!!!!"


"Nggak mas!!!" Fitri berlutut di kaki Rival.


"Mau kamu membuka pakaianmu sekalipun, saya tidak akan tergoda"


"SERET DIA!!!!!" Arshen dan Zein mengeluarkan Fitri dari rumah mereka. Provost jaga yang melihat ada kejadian itu dari pos, segera tanggap dan menyelesaikan apa yang di perintahkan Arshen untuk membuang pakaian Fitri sesuai perintah Rival.


Shila menatap tajam mata Rival. Suami Shila itu tau kalau istrinya sedang kesal dan marah perkara pesan gila itu.


Shila memukul Rival, menggigit, menendang, mencakar bahkan menjambak meluapkan kesalnya pada Rival dan Rival menerima kemarahan istrinya itu sama persis seperti marahnya Yara saat sedang cemburu.


"Sudah puas apa belum marahnya" tanya Rival saat Shila sudah lelah 'menganiaya'.

__ADS_1


Shila terus menatap suaminya tanpa menjawab.


"Abang sungguh nggak tau kalau itu bukan kamu. Abang minta maaf membuatmu marah"


"Apa Abang nggak mengenali tubuh Shila???" kesal Shila.


"Iya maaf.. Abang salah, Laki disodorin gambar begitu pasti melotot lah dek. Lama-lama Abang sadar kalau itu bukan kamu" jujur Rival.


"Darimana?????"


"Kamu istri Abang, jelas Abang paham kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa ada satu bagian pun yang Abang lupakan. Terus.. Kamu itu paling pandai menolak permintaan Abang kalau Abang lagi pengen minta foto panas kamu. Abang minta sedikit saja nggak boleh. Takut Abang kepikiran lah, takut Abang jadi pengen lah. Banyak kali alasanmu itu dek. Jadi Abang curiga.. kenapa kamu genit banget"


"Abang yang mulai ya. Lihat saja Abang. Nggak perlu nunggu sampai dedek keluar.. Shila buat Abang mati kutu" ancam Shila.


"Heleehh.. kamu mau godain Abang??? Mana berani???" ucap Rival sengaja.


"Lihat saja nanti bang!!!!!" Shila melirik tajam ke arah suaminya tak melanjutkan lagi perdebatan itu karena Raka nya sudah masuk ke ruang tamu.


"Saya ke Batalyon dulu. Sebentar lagi Danyon datang" pamit Arshen.


"Kalau si kutu kupret itu datang. Cepat hubungi Abang!!" perintah Rival.


"Siap!!"


Danyon beserta istri datang dengan gagahnya menyeret koper setelah pulang dari liburan. Ia melihat hasil kerja anggotanya yang belum tau akan jadi apa sebab konsep penyambutan tamu untuk besok hanya Shila saja yang tau.


"Aduuuhh pa, panggungnya belum selesai. Ini khan panggung khusus menyambut istri pengawas besok. Kemana Bu Rival? Tidak bertanggung jawab sekali! Ditaruh dimana muka mama kalau ini nggak selesai pa!" keluh ibu Danyon.


"Ini kenapa sampai sore belum jadi apa-apa. Kalian tau tidak.. kunjungan akan datang besok jam sepuluh pagi. Kemana Bu Rival???" tegur Danyon dengan geram melihat istrinya kebingungan.


"Ijin Danyon. Kapten Rival sendiri yang meminta istrinya pulang. Kalau Bu Danki masih melanjutkan juga, Kapten akan meledakan panggung ini" jelas Wadanyon.


"Dia sudah pulang??? Kapan???" tanya Danyon sedikit cemas.


"Ijin.. Tadi pagi Komandan" jawab Nathan.


"Haduuhh.. cepat sekali dia kembali. Bagaimana ini"


-_-_-_-_-


Shila berduaan di dalam kamar bersama Rival. Anak-anak memilih pergi bersama Arshen karena omnya itu menjanjikan mereka ice cream dan mainan.


"Masih marah kah sama Abang?" tanya Rival menyisipkan anak rambut Shila ke belakang telinga.

__ADS_1


Rival menyandarkan punggung Shila pada dadanya. Shila tidak menolak sedikitpun perlakuan suaminya. Rival membelai lembut perut Shila. Sudah enam bulan lebih usia kandungan istrinya. Ada tendangan kencang dari dalam sana seakan merespon papanya.


"Wuusss..anak papa ngajak main??" gumamnya.


"Sudah di USG dek?"


"Sudah bang. Abang maunya dapat laki apa perempuan?" tanya Shila.


"Apa saja Abang sayang. Semua anak Abang. Laki atau perempuan sama saja, yang penting lahir sehat tak ada kendala apapun sama mamanya juga"


"Hmm.. Tapi Abang penasaran.. Ini pancuran atau sendang" Rival menyandarkan kepalanya di pelipis Shila sambil mengusap perut istrinya lagi.


"Abang dapat jagoan seperti kata Abang" ucap Shila lirih.


"Alhamdulillah Ya Allah" Rival mengusap wajahnya penuh syukur.


"Tolong jaga anak Abang..anak Abang adalah nyawa Abang yang berharga"


"Bagaimana dengan Shila??"


"Kamu hidup dan mati Abang" Jawab Rival sambil mengecup sayang sisi bibir Shila.


Sentuhan itu memberi rasa dalam hati keduanya. Semakin lama berubah bergemuruh dalam dada. Rival mendorong istrinya perlahan. Ada rasa yang sangat ingin ia selesaikan.


"Masih sakit nggak?" tanya Rival memastikan, ia mengusap perut Shila.


"Nggak..." jawab Shila.


Mata mereka terpejam saling menyalurkan rasa.


ddrrttt.. drrttttt


"Hiiihh.. siapa sih ganggu aja" Rival jengkel saat ponselnya bergetar. Ada nama "Raja Singa" memanggil. Rival mengangkatnya dengan malas.


"Assalamu'alaikum.. ada apa Oka??"


"Wa'alaikumsalam.. Ijin bang, Danyon sudah hadir. Beliau menanyakan kenapa Bu Rival tidak menyelesaikan tugas" kata Oka.


"Bilang sama Danyonmu itu. Bu Rival sedang sibuk ngasah keris pusaka milik Danki A. Assalamu'alaikum" kesal Rival menutup panggilan telepon Oka.


.


.

__ADS_1


__ADS_2