
"Mas.." suara yang sangat jelas Rival kenal.
"Sayang..." Rival berlari memeluk sosok itu. Ia menangis tatkala melihat sejelas jelasnya Yara yang berada di hadapannya saat ini, ada dua anak kecil yang pernah Rival lihat. Entah dimana.
"Mas rindu kamu sayang"
"Aku tau mas, tapi lihatlah disana" Rival mengikuti arah pandang Yara. Rival melihat Shila duduk di atas perahu kecil di atas danau yang penuh ranting dan dedaunan kering.
"Shila tidak salah hingga harus dapat perlakuan tidak adil darimu. Dia juga istrimu, butuh kasih sayangmu mas"
"Mas sadar itu, tapi mas belum bisa membagi hati" kata Rival.
"Mas menikahinya sah, Itu sudah kewajibanmu mas. Aku ikhlas..sayangi Shila. Simpan aku di hatimu saja. Di bumi kita terpisah, di surganya kita akan bahagia. Jaga semua bidadari mu mas. Jangan pernah mas sakiti" Yara menghilang dalam pelukan Rival.
Tak lama Rival melihat shila menangis di atas perahu. Perahu itu goyang dan Shila sangat ketakutan. Shila jatuh dan tenggelam.
"Shilaaaa" teriak Rival, ia berenang menyusuri danau hingga akhirnya menepikan Shila. Rival menepuk pipi Shila. Hanya nama 'Rival' yang keluar dari bibirnya.
"Shilaaaa... Jangan tinggalkan Abang!!" Rival menangis kuat ada rasa takut dalam hatinya saat itu hingga tubuhnya tersentak.
"Astagfirullah hal adzim...." Rival membuka mata, syukur ini hanyalah mimpi.. Ia mengusap dadanya berkali kali. Rival langsung memeluk dan menciumi Shila.
"Maafkan Abang dek. Abang sudah tidak adil sama kamu. Abang sayang kamu dek" Rasa takut menyergapnya hingga ia sulit untuk memejamkan mata.
***
Shila bangun melihat tangan Rival melingkar erat di perutnya.
"Siapa yang Abang rindukan?" gumam Shila tersenyum getir menatap wajah suaminya. Shila menyingkirkan tangan Rival pelan, lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Kamu ragu perasaan Abang dek?" ucap Rival yang memang sudah bangun saat Shila memindahkan tangannya.
***
"Shila????" sapa seseorang.
"Bang Gandhi?????" gumam Shila pelan. Ia terkejut melihat orang yang dulu pernah ia sayang.
Gandhi melihat Shila mendorong sepeda roda tiga, ada anak berusia kurang lebih satu tahun disana.
"Nggak mungkin khan itu anakmu dek?" tanya Gandhi.
"Ini memang anak Shila bang"
Shila memperhatikan sekitar. Banyak para anggota selesai olahraga pagi. Ia khawatir suaminya akan salah paham melihatnya ngobrol dengan Sertu Gandhi.
"Selamat pagi Bu" sapa Dio.
"Selamat pagi om Dio" Gandhi mundur selangkah masih tidak bisa memahami situasi ini.
"Dek..!!!" panggil Rival.
"Selamat pagi Danki" Gandhi terkejut melihat Danki ada di belakang Shila.
"Selamat pagi.. Sertu Gandhi" jawab Rival ringan.
"Arben mana sayang?"
"Main dengan om-om disana bang. Begitu melihat Arben.. om-om disana langsung mengajaknya bermain" kata Shila.
Gandhi mematung baru menyadari bahwa Shila adalah Ibu Danki di kompinya.
"Abang lanjut kegiatan lagi ya!"
"Sertu Gandhi.. ayo korve dulu!" ajak Rival pada Gandhi.
"Siap!!" Gandhi mengikuti langkah Rival.
--------
Rival melihat kalender di meja kerjanya.
__ADS_1
Sudah dua bulan Abang nggak nyentuh kamu dek. Kamu kuat sekali ya. Abang terlalu sibuk sampai melupakan kebutuhan kita berdua. Entah disana kamu rindu Abang atau tidak.
***
"Nggak mau, Arben berlari menerjang Shila hingga piring yang di bawa Shila itu jatuh dan pecah"
"Arben mau makan apa nak? Nanti mama buatkan" bujuk Shila.
Rival melihat kelakuan putranya tidak bisa menahan rasa marah.
"Arben... nggak boleh begitu sama mama" tegur keras Rival.
"Kata Vero, mama Shila bukan mama Aben. Mama Aben sudah meninggal"
Sungguh sakit hati Rival mendengarnya, tapi pasti lebih sakit hati Shila yang mendengarnya. Rival menyabarkan hati, menunduk dan memegang bahu putranya.
"Mama Shila mamanya Arben dan selamanya akan tetap menjadi mama Arben" tegas Rival.
"Mama sayang Aben?" tanyanya.
"Mama sayang kakak Arben" jawab Shila sambil memeluk Arben.
"Maafkan kenakalan anak Abang!" ucap Rival lirih.
"Arben dan Abrian juga anak Shila" Shila tersenyum menjawabnya.
--------
Shila menyiapkan baju yang akan Rival pakai esok hari. Rival menarik Shila agar duduk di pangkuannya.
"Apa kamu nggak pernah rindu Abang?" tanya Rival.
"Tentu saja Shila rindu Abang. Mana ada istri yang tidak rindu" ucapnya jujur dengan malu-malu.
"Kenapa malu begitu? Kamu istri Abang" Rival menggigit lembut bibir Shila.
"Lagi free khan? Abang kebelet nih" tanya Rival yang sudah tidak tahan.
Rival membuat lampu kamarnya menjadi remang-remang. Rival membaringkan Shila perlahan. Jelas sekali Shila masih takut berhubungan badan dengannya.
"Jangan ragu dan takut sama Abang. Abang tidak akan menyakitimu. Abang sayang kamu dek!"
Perlahan dan penuh perasaan Rival menggauli Shila. Shila pun merasa sangat nyaman begitu pun dengan Rival yang sudah mulai beradaptasi. Naik dan turun hingga menjelang pagi membuat Shila menjadi candu untuk Rival.
"Abang harap nggak ada nama Sertu Gandhi lagi di hatimu dek, sebab Abang berusaha keras membahagiakan mu" ucapnya masih terengah.
"Nggak ada bang. Sejak menikah sama Abang. Nama bang Gandhi sudah Shila buang jauh" jawab Shila serius.
"Masa??? ( Shila tersenyum malu ) Yang benar???" ledek Rival.
"Benar bang"
"Buktikan sama Abang" tantang Rival.
"Abang mau bukti apa?" tanya Shila.
"Main sama Abang sekali lagi" ajak Rival.
"Iihh..itu sih Abang aja yang mau" kesal Shila yang sebenarnya sudah lelah melayani suaminya itu.
"Iya..Abang yang mau. Kamu bikin Abang ketagihan. Ayo aahh neng ngegeol sekali lagi"
"Aaww... Abaaangg" jerit kecil Shila membuat Rival semakin tidak tahan.
_____
_____
***
Hari masih belum subuh tapi Arben sudah bangun dari tidurnya karena ia semalam tidur setelah Isya. Rival mengeringkan rambutnya melihat Arben bersiap mendobrak pintu kamarnya. Rival berlari dan sigap menangkap si gendut Arben.
__ADS_1
"Hayooo.. mau kemana kamu???"
"Mau ke mama" kata Arben.
"Mama capek, masih tidur. Jangan ganggu mama!!!" Rival memelototi putranya.
Arben kesal lalu kembali ke kamarnya. Rival masuk ke dalam kamar, melihat wajah lelah Shila.
Gadisnya Abang. Kamu pasti lelah sekali.
Rival membelai rambut Shila hingga wanita yang baru menginjak usia 24 tahun itu menggeliat. Shila tersentak kaget melihat Rival menatap wajahnya dalam. Shila menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Kenapa bang?"
"Nggak ada apa-apa, bangun sholat dulu! Setelah itu kembali tidur"
***
Shila menyuapi Abrian sambil berjalan pagi hari. Rasanya masih lelah, tapi mengurus anak adalah kewajibannya.
"Ijin Ibu. Dengan Bu Rival ya?" sapa seorang ibu yang juga menyuapi anaknya.
"Iya Bu"
"Ooh..anak Bu Yara sudah besar ya? Dulu pak Danki sangat mencintai Bu Yara. Apapun pak Danki lakukan untuk kebahagiaan Bu Yara" ucap Bu Salim
Ibu itu terus bicara tanpa memikirkan perasaan Shila.
"Apa Pak Danki belum ingin menambah momongan lagi?" tanya Bu Salim.
"Biar Abrian besar dulu Bu" jawab Shila setenang mungkin.
"Oohh iya Bu, Semoga cepat dapat momongan biar pak Danki nggak ingat Bu Yara terus"
"Hhmm.. maaf Bu, Saya ajak anak saya jalan-jalan dulu"
"Iya ibu. Silahkan" jawab Bu Salim sambil membuka jalan.
Sepanjang jalan Shila sangat sedih. Yang di katakan ibu tadi memang benar. Suaminya sangat mencintai Yara, waktu baru datang saja Rival bisa begitu histeris mengingat Yara. Hingga ada lubang di jalan Shila pun tidak melihatnya.
"Aduuh..." Kaki Shila terkilir hingga berdiri pun tidak seimbang.
"Hati2 dek. Eehhmm.. maaf.. Bu Danki" Gandhi meralat ucapannya.
"Kenapa sayang?" Rival berlari melihat istrinya yang duduk di tengah jalan.
"Terkilir bang" Shila meringis kesakitan.
"Gandhi.. tolong dorong anak saya, nanti kamu bilang ke bagian pelayanan personil, saya minta jalan ke arah rumah saya di ratakan jalannya" perintah Rival.
"Siap Kapten"
"Mikir apa kamu dek, jalan saja sampai bisa terkilir" gerutu Rival sambil membopong Shila sampai ke rumah.
Kalau benar Abang dulu sangat menyayangi mbak Yara, apa aku saja yang terlalu percaya diri merasa kalau Abang juga menyayangi Shila.
"Lihat apa?" tanya Rival yang merasa Shila memperhatikan nya sejak tadi.
"Lihat suami Shila yang tampan" jawab nya.
"Itu saja????"
Shila mengangguk.
"Gagah nggak??" tanya Rival lagi membuat pipi Shila merah merona.
"Iiisshh Abang.. Malu lah bang"
Rival tertawa gemas melihat Shila, tapi tidak dengan Gandhi yang merasakan dadanya panas terbakar.
.
__ADS_1
.