Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
50. Lepas kendali


__ADS_3

"Abaaanngg" teriak Shila ketakutan. Rival melepas seragamnya dengan kasar.


"Abang nggak akan biarkan kamu kemana-mana. Kalau ini cara terakhir biar kamu tetap disisi Abang.. Lebih baik kamu hamil saja anak Abang" ucapnya frustasi.


Shila menendang ke segala arah, wajahnya pucat gelisah. kelakuan Shila sulit di kendalikan.


"Abang cari saja teman kencan untuk menghibur diri Abang, mencari kehangatan. Mungkin setiap bertugas Abang punya perempuan untuk Abang sandarin" teriaknya melepaskan diri dari Rival.


"Cukup Shila..cukup..!!! Abang bohong. Di perbatasan sini Abang kencan sama siapa????"


Shila terdiam, hanya nafasnya saja yang terdengar. Rival ambruk menindih Shila.


"Abang mohon hari ini jangan ajak Abang bertengkar. Pikiran dan tubuh Abang sudah lelah, Abang tidak ingin menyakitimu" pintanya lalu berbaring di samping Shila.


tok..tok..tok..


Rival bangkit dari ranjang menuju pintu. Lalu membukanya.


"Ijin Kapten, mohon maaf saya mengganggu" Gandhi melihat Rival bertelanjang dada.


"Iya..nggak apa-apa. Ada apa Gandhi?"


"Ijin Kapten.. Praka Choirul belum kembali dari kemarin pagi. Sekarang kami sudah dapat posisinya"


"Dimana dia?" tanya Rival


"Di tempat lokalisasi dekat gerbang perbatasan"


"Lokalisasi???? Kenapa kalian tidak bilang dari tadi?"


"Siap salah.. "


"Jangan gabungkan pekerjaan dengan masalah pribadi. Kalian tunggu sebentar. Saya mau ganti pakaian!!!" perintah Rival.


"Siap"


-_-_-_-_-


"Abang berangkat dulu sayang" pamitnya.


"Abang ke lokalisasi itu?" tanya Shila.


"Iya.. mengambil anak buah Abang"


Shila diam tapi wajahnya terlihat jelas tidak nyaman. Rival tau ada sebersit rasa cemburu disana.


"Makanya.. kamu jangan coba kabur dari Abang kalau nggak pengen Abang ngincip di luar" tegasnya.


Wajah Shila tambah muram mendengar Rival berbicara seperti itu tapi ia tidak berani menjawab apapun. Rival mencium bibir Shila.


"Abang nggak tergoda sama wanita di luar sana. Abang hanya tergoda dengan istri Abang. Hanya itu yang Abang rindukan" bisiknya sambil mengusap pipi Shila.


Rival menutup pintu kamarnya. Shila menunduk meringkuk dan menangis. Ia bingung harus berbuat apa. Ingin membalas cinta suaminya tapi ia merasa hina, tak membalasnya tapi ia terlalu rindu.


Tiba-tiba kepala Shila semakin terasa sakit. Ia memilih tidur.


***


Rival bersama rekannya masuk ke dalam perkampungan warga, nampak sepi. Tapi itulah lokalisasi terselubung. Sampai disana banyak gadis sengaja menawarkan diri.

__ADS_1


"Abang ganteng.. mau di pijat nggak?" tanya seorang wts pada Rival.


Manusiawi saat matanya memandang dan menimbulkan rasa. Rival mengalihkan perhatiannya.


"Saya sudah disana. Saya mau cari teman saya" jawab Rival.


Wanita itu cemberut dan kesal.


"Disana bang, rumah warna merah itu" tunjuk Gandhi.


"Ayo kesana" ajak Rival.


-_-_-_-_-


"Buka!!!" perintah Rival.


Pintu terbuka. Rival melihat dengan mata kepalanya sendiri Choirul sedang memadu cinta bersama dua orang wanita. Choirul begitu terkejut melihat kedatangan Kapten dan empat rekannya. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya, hanya dua wanita yang tidak tau malu tetap pada posisinya seakan sengaja menggoda.


"Saya perintahkan kamu kembali ke Mess sekarang juga!!!" tegas Rival. Ia memalingkan wajah lalu berjalan keluar dari rumah ber cat warna merah itu.


***


Plaaakk.. plaaaaakk...bugghhhh...


"Kamu itu sedang dalam penugasan. Kamu punya anak istri" tegur Rival pada Praka Choirul.


Shila bisa mendengar amukan suaminya di samping kamarnya. Sesaat tadi Shila seperti mendengar Rival memberi pelajaran pada anak buahnya.


"Siap salah"


"Kamu tidak bisa menahan perasaanmu???"


"Siap salah"


-_-_-_-_-


Rival masuk ke dalam kamar mengurut keningnya yang sekarang pening. Lelahnya semakin bertambah. Di lihatnya hari sudah jam sembilan malam. Shila sudah tidur disana.


"Apa kamu tadi sudah makan?" gumamnya.


Rival melihat mukena yang Shila letakan di samping tempat tidur.


"Kamu ke belakang sendiri dek?" gumamnya lagi sambil menarik nafas panjang.


"Maafin Abang ya hari ini terlalu emosi sama kamu. Sungguh Abang nggak ingin bertengkar sama kamu" ucapnya sambil mencium kening Shila.


Rival mengambil handuknya dan bergegas mandi. Di dalam kamar mandi ia mengguyur tubuhnya.


Lelah di hati, lelah di badan. Kapan semuanya akan berakhir?? Abang butuh kamu dek. Kamu yang seperti dulu.


-_-_-_-


"Bang.." panggil Shila.


"Iya sayang"


"Abang sudah baikan?" tanya Shila.


"Emangnya Abang kenapa? Abang nggak apa-apa kok" jawab Rival.

__ADS_1


"Dari semalam Abang marah. Apa Abang nggak capek?"


"Kalau Abang capek kamu mau apa?" senyum Rival mendapat sapaan lembut dari istrinya.


"Mau Shila pijat bang?" tanya Shila. Pertanyaan tadi langsung membuat jantungnya berdesir.


"Abang nggak capek sayang. Kita tidur yuk, besok pagi Abang ambil apel gabungan" ajak Rival.


Rival memilih tidur tertelungkup, dan fokus pada rasa lelahnya agar tidak mengingat sesuatu yang ia rindukan.


***


Pagi hari Rival sudah pergi, tersisa Oka, Gandhi dan empat orang lain di barak. Mereka piket. Menjelang jam 10 pagi ada seorang wanita setengah baya bertubuh subur. Memakai pakaian super mewah dengan perhiasan melingkar di tubuh.


"Saya Romlah. Mana wanita ****** itu????" teriak wanita tersebut membuat keributan di Mess. Beberapa warga juga ikut membuat keributan disana.


Shila mendengar suara yang menakutkan itu tidak berani untuk keluar dari dalam kamar.


"Siapa wanita yang ibu maksud?" tanya Oka.


"Wanita buta simpanan suami saya" jawab Romlah dengan tegas.


"Maaf Bu, disini ada salah paham. Ibu duduk dulu. Sebentar lagi Komandan kami datang. Kita bicarakan masalah ini bersama" kata Oka memberi jalan tengah.


"Aahh.. kelamaan kau. Bongkar setiap sudut tempat ini!!!!" perintah Romlah.


Beberapa lelaki berbadan besar mengacak tempat itu. Mereka sungguh berani karena mereka tau hanya tersisa enam orang saja di barak.


Tersisa satu kamar tempat Shila berada. Seorang lelaki yang mengaku adik kandung Romlah.


Lelaki itu mendobrak kamar dan melihat Shila dengan pakaian yang sedikit terbuka, posisinya saat ini adalah ia sedang akan memakai pakaiannya yang lebih tertutup, namun karena ia gugup.. sulit baginya mengenakan pakaian itu.


"Wanita jalaaanng" teriak Romlah menarik Shila dengan kasar dan menendangnya di halaman luar. Oka, Gandhi dan yang lainnya berusaha membantu Shila. Tapi pasukan Romlah menghadang mereka hingga Romlah bebas menganiaya Shila sesuka hati bahkan menarik bajunya. Tarikan kasar dari Romlah membuat kepala Shila terbentur batu hingga pelipisnya mengucur darah.


Truk Rival baru saja tiba. Betapa terkejutnya Rival melihat istrinya mendapatkan perlakuan sekeji itu. Shila tertelungkup menyembunyikan tubuhnya. Rival melompat dari truk diikuti anak buahnya yang lain. Rival berlari lalu mendekap erat Shila.


"Ya Allah sayang" tangan Rival menyambar sprei pada jemuran di dekatnya lalu menutup tubuh Shila. Rival sedikit menekan luka Shila hingga istrinya itu meringis kesakitan.


"Kurang ajar kalian membuat keributan disini" Suara Rival membuat nyali Romlah ciut seketika.


"Amankan!!!!!!" perintah Rival membuat para bawaan Romlah membisu seketika tanpa perlawanan.


Rival membawa Shila ke dalam kamar. Ibu Sumini pengantar catering yang ketakutan segera keluar dan mengikuti langkah Rival.


"Pak..dia istri bapak tua yang bapak bawa malam itu" kata ibu Sumini.


"Yang benar saja Bu? Kemana saja dia kemarin?" tanya Rival heran mendengar istri si tua bangka baru hadir sekarang.


"Dia baru pulang dari TKW di Arab pak" jawab Bu Sumini.


"Tolong bantu saya jaga Shila sebentar Bu! Saya mau selesaikan masalah ini" pinta Rival mengecup kening Shila dengan tidak tega melihat darah mengucur dari pelipisnya.


"Tapi pak, apa benar Bu Shila istri bapak?" tanya Bu Sumini ragu.


"Benar Bu. Shila ini istri sah saya" jawab Rival tegas dan jelas.


Bu Sumini tersenyum paham. Rival pergi keluar. Wajahnya sudah geram menahan sakit hati yang menumpuk berhari-hari. Hari ini puncaknya ia tak tahan lagi.


"Kalian harus membayar mahal atas perlakuan kalian terhadap istri saya"

__ADS_1


.


.


__ADS_2