
Oka sudah melaksanakan akad nikah. Oka sangat terkejut saat Naura keluar dari tirai yang tertutup di sisi kirinya. Naura menggunakan hijab cantik. Oka tak berkedip memandang wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Ia berjalan pelan menyiapkan lengannya dan menggandeng Naura melaksanakan upacara pedang pora. Tangan Naura begitu dingin, ia juga gugup.
"Tumben gadis barbar sepertimu bisa gugup juga" ledek Oka yang juga menutupi rasa gugupnya.
"Naura sedang tidak ingin bertengkar dengan Abang" ketus Naura.
"Tapi Abang pengen ajak kamu bertengkar" bisiknya.
"Kamu cantik" ucapnya dengan senyum malu.
Naura pun tersipu malu. Hari ini ia sangat tenang dan kalem. Jauh dari kesan garang seperti biasanya.
-_-_-_-_-
Rival, Shila, ketiga anaknya juga bibi hadir di pesta pernikahan Oka dan Naura. Sepasang pengantin itu terlihat bahagia sekali. Oka sesekali menggoda Naura dan mengundang gelak tawa tamu undangan. Pak Suherman hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan menantunya yang usil.
Hari semakin malam. Keluarga Shila pamit untuk pulang.
"Mama dulu sama papa duduk manis begitu nggak?" tanya polos Lilan membicarakan pernikahan Oka dan Naura.
"Iya donk" jawab Rival.
"Lilan kok nggak ada di foto yang di rumah pa. Kakak saja yang ada?" tanya Lilan lagi.
"Lilan masih belum papa buat" jawab Rival enteng.
Tak disangka Lilan menangis di dalam mobil dan menendang ke segala arah tidak terima dengan jawaban Rival.
"Ya ampun Lilan.. kamu ini. Amit-amit dah kalau papa buat kamu dulu" Rival menepuk dahinya tertawa kesal dengan tingkah Lilan.
"Lilan ada kok, di dalam perut mama setelah itu" bujuk Shila.
"Papa sayangnya cuma sama kakak. Papa gendong kakak, tapi Lilan nggak" celotehan pintar gadis kecil yang belum berusia tiga tahun itu.
Rival tak sanggup menjawabnya, di antara ketiga anaknya memang hanya Lilan yang tidak pernah ia timang semasa bayinya. Rasa bersalah Rival semakin terasa mendengar putrinya sudah mulai menanyakan banyak hal tentang dirinya. Tentang mengapa ada dua mama dalam hidupnya. Terlebih mengingat kehamilan Shila saat ini membuatnya sedikit terpukul. Kasih sayangnya untuk Lilan masih kurang, tapi Rival sudah akan memberi Lilan seorang adik lagi.
"Papa sangat sayang adik Lilan" ucapnya membuat tangis Lilan berhenti.
Shila mengusap dada suaminya. Ia paham apa yang di rasakan suaminya saat ini.
__ADS_1
"Kita akan memberi kasih sayang yang sama untuk mereka bang" gumamnya.
Arben yang sudah mengerti arti sebuah keluarga, mencium dan memeluk Shila dengan sayang.
"Arben senang punya mama. Arben sayang mama Yara, Arben juga sayang mama Shila" ucap Arben membuat air mata Shila berderai.
"Terima kasih banyak sayang. Mama juga sangat menyayangi kalian"
Rival mengusap lembut rambut anak dan istrinya sambil mengemudikan mobil. Setidaknya itulah hal ia inginkan, yang membuat hatinya tenang.
"Setelah papa kembali dari dinas, kita jalan-jalan sambil menjenguk makam mama Yara ya!" ajak Shila. Arben mengangguk dan mencium pipi Shila.
Detak jantung Rival berdebar kencang saat Shila mengajak anak-anak ke makam Yara. Shila kembali mengusap dada Rival saat melihat suaminya diam, tidak menerima atau menolak ucapanya barusan.
***
Oka menggandeng Naura masuk ke dalam kamar. Kemarin.. saat mereka hampir lepas kendali, tak ada rasa canggung sedikitpun. Tapi malam ini entah kenapa Naura salah tingkah di hadapan suaminya.
"Kemana dress mini mu?" tegur Oka.
"Naura buang bang"
"Abang bisa melihatnya sendiri setiap hari. Hanya Abang yang akan melihat Naura seperti itu. Naura tidak akan menggunakan pakaian seperti itu lagi"
"Alhamdulillah.. Abang senang dengarnya. Tapi lebih baik semua niat itu untuk menjaga dirimu sendiri dek. Bukan karena Abang" Oka melingkarkan tangannya di pinggang Naura.
"Sudah Naura niatkan bang" ucap Naura lebih kalem.
Oka mengecup bibir Naura. Tangannya meraba setiap celah di tubuh Naura. Oka merasa Naura begitu kaku membalas ciumannya. Sempat dalam hatinya terbersit rasa sedih karena Naura tak sungguh menerima pernikahan ini. Namun semua ia tepis mengingat dirinya sudah sulit mengendalikan diri.
"Abang bisa pelan-pelan?" tanya Naura.
Oka tersenyum mengangguk mengiyakan permintaan istrinya.
###
###
Oka mengusap air mata yang mengalir membasahi sekitar wajah Naura.
__ADS_1
"Maaf..sakit ya? Abang khan nggak tau" Oka merasa bersalah menciumi wajah Naura.
"Naura khan sudah minta pelan bang" protes Naura.
"Itu salahmu sendiri sayang. Pertama..kamu nggak jujur sama Abang kalau ternyata kamu masih perawan. Kedua..kamu sok pintar dengan menggoda Abang setiap hari. Kalau Abang kebablasan, kamu sendiri yang akan celaka"
"Begitulah cara Naura bertahan hidup di Amerika" jelas Naura.
"Terima kasih banyak kamu menjaganya untuk Abang. Sebenarnya Abang tidak peduli soal hal ini, tapi kalau Abang bisa mendapatkannya memang ada kebanggaan tersendiri buat Abang" senyumnya.
"Sama-sama bang"
"Mudah-mudahan cepat ada si kecil di tengah kita. Abang sudah pengen punya anak dek"
"Iya bang. Insya Allah"
***
Rival masih santai duduk melihat info di ponselnya. Besok pagi ia akan berangkat bersama enam rekannya.
Sebuah mobil datang membawa peralatan untuk 'mengubah' Rival seperti gayanya saat ia melakukan misi.
Oka dan yang lainnya sudah dengan tampilan yang berbeda.
"Istrimu nggak takut kamu berubah jadi anak punk begitu?" tanya Rival pada Oka.
"Nggak bang" jawab Oka santai.
"Masih parah Abang juga"
Shila hanya memandang suaminya dari ruang tengah. Ia memang takut melihat penampilan suaminya yang lebih mirip begal.
"Nggak mau peluk Abang nih?" goda Rival.
Shila menggeleng manyun tidak suka dengan penampilan suaminya.
"Nyesel lho kamu, keren begini kok nggak mau" tawa Rival membuat rekannya ikut tertawa.
.
__ADS_1
.