
Rival membawa Shila menginap di luar kota. Pikirannya menerawang jauh. Sungguh ada rasa bersalah terbersit dalam benak nya, selama pernikahannya dengan Yara baru satu kali ia mengajak istrinya berjalan-jalan dan itu pun hanya ke Bali dan di potong tugas yang menjadi prahara besar dalam rumah tangga nya.
"Huuuhh..." Rival membuang napas mengusir kepenatan batinnya.
"Kenapa bang?" tanya Shila menyapa Rival yang sejak tadi tidak bicara.
"Nggak apa-apa dek" senyumnya sambil mengusap kepala Shila.
Apa Abang setiap saat mengingat almarhumah mbak Yara seperti ini??
***
Rival melihat indahnya alam pegunungan setelah ia mandi, Rival meminta deret kamar yang begitu sepi.
"Abang mau di buatkan kopi?" tanya Shila.
"Iya dek, kopi hitam yang pahit. Ada khan?"
"Ada bang. Shila sudah siapkan dari rumah"
"Cepat mandi juga, ini sudah sore" perintahnya.
---------
Rival duduk di sofa memantau kegiatan kantor yang di share Oka lewat group kompi sambil meminum kopi hitam yang di buat Shila. Sofa Rival memang terpisah dengan sekat, tapi mata Rival masih bisa mencuri pandang Shila yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Saat ini batin Rival sedang berperang. Di satu sisi ia teramat sangat merindukan sosok istrinya tapi yang ada di hadapannya saat ini adalah Shila.
Ya Allah.. sulitnya aku mengendalikan rasa ini. Sadarkan aku Ya Allah.. di hadapanku ini Shila.. bukan Yara. Shila istriku, sudah kewajibanku memberikan hak nya.
Dorongan rasa yang kuat membuat Rival melengkahkan kaki mendekati Shila. Rival memeluk Shila.
Shila sangat kaget dengan perlakuan Rival, ia menutupi tubuhnya menggunakan handuk dengan rapat.
"Kamu siap nggak kalau Abang memintanya sekarang?" tanya Shila.
"Minta apa bang?" tanya Shila menatap dengan raut wajah penuh kepolosan. Sungguh hati Rival sangat sakit mengingat kepolosan ini juga ada pada diri Yara.
"Minta kamu jadi istri Abang seutuhnya"
"Oohh.. siap bang. Shila khan memang istri Abang" jawab Shila yakin. Sebenarnya dalam hati Rival ragu, apakah Shila benar tau atau tidak apa yang ia maksud, tapi karena hasratnya sudah mulai naik, ia mengabaikan semua itu dan hal itu tentu saja wajar bagi seorang pria.
Rival mengecup bibir Shila ( manis ). Rival sedikit menggigit bibir manis Shila ( dia tidak membalasnya ). Rival mulai tidak sabar, ia menarik tengkuk Shila dan menghisap bibirnya kuat, namun Shila tak kunjung membalasnya.
"Kenapa dek?" tatapan Rival mulai nanar.
"Shila nggak bisa caranya" tunduk Shila takut.
"Nurut sama Abang, balas dan ikuti apa yang Abang lakukan!" bisiknya.
Rival memulai lagi, kali ini Shila sudah mulai bisa mengimbanginya. Rival membuka handuk Shila tapi Shila semakin mengeratkan genggaman di handuknya. Tubuhnya gemetar hebat.
__ADS_1
"Shila takut bang! Abang tutup mata..jangan lihat Shila"
"Memangnya kenapa?? Ini Abang yang lihat, kalau Oka ya nggak boleh"
Rival mengangkat tubuh Shila ke atas ranjang. Rival membuka pakaiannya, Shila secepat kilat menyambar selimut, tapi Rival menyingkirkan nya.
"Biar Abang lihat semuanya!!"
"Abang.. kita pakai pakaian dulu" ucapnya ketakutan.
Rival sudah di ambang batas kesabaran dan jengkel sekali merasakan kelakuan Shila.
"Diam lah sayang.. Abang tidak akan menyakitimu" ucap Rival penuh perasaan.
Maaf Yara mas nggak kuat menahan rasa ini. Mas rindu kamu..sangat rindu.
Shila akhirnya menurut dan pasrah menerima semua perlakuan Rival. Pertahanan imannya jebol di hadapan Shila. Samar Rival mendengar suara Isak tangis dalam dekapannya. Mata terpejam seakan mengembalikannya pada ingatan masa lalunya. Wajah Yara berputar dalam pikirannya. Nafas Rival semakin menggebu, hasratnya tak terbendung dan sejenak melupakan bahwa yang ada dalam dekapannya adalah Shila.
Shila meronta merasakan sakit.
"Abang.. Shila nggak kuat bang.. sakit sekali. Sudah ya bang!"
"Tanggung sayang.. Abang kangen banget sama kamu Yara"
Shila menangis menutup wajahnya tapi ia diam tidak meronta atau melawan meskipun ia begitu kesakitan. Seketika itu juga Rival terkejut dengan ucapan nya yang salah. Ia mengatur nafasnya bingung mengendalikan situasi ini.
"Ini Shila bang! Bukan mbak Yara"
Shila mendorong kuat tubuh Rival agar menyingkir dari hadapannya. Sebelah tangannya masih menutup wajahnya. Tapi Rival tidak melepaskannya.
"Maaf..maaf dek.. Abang yang salah" sesal Rival, ia menciumi wajah Shila mengungkapkan rasa bersalahnya.
"Hina sekali rasanya Shila ini bang. Sampai kapanpun Shila tidak akan pernah Abang sayangi"
Shila mendorong Rival sekuatnya lalu mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi. Shila menangis meluapkan rasa sedihnya di sana.
Rival duduk menyesali dirinya sendiri, sesaat kemudian matanya melihat sisa tempur nya dengan Shila tadi.
"Ya Allah.. bodoh..bodoh.. bodoh!!!!!!!" sesalnya sambil memukul ranjang berkali-kali. ia meraup wajahnya kasar.
"Ini yang pertama buat Shila, tapi aku menghancurkan hati istriku itu. Yara.. kenapa kamu muncul di saat yang tidak tepat" kesalnya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Shila pasti kesakitan sekarang" batin Rival.
Rival berjalan lalu mengetuk pintu kamar mandi.
"Dek.. buka pintunya. Abang minta maaf dek" bujuk Rival.
Tak lama Shila membuka pintunya. Rival langsung memeluk istrinya.
"Abang menyesal. Abang belum biasa dengan kehadiranmu di hidup Abang"
__ADS_1
"Shila yang salah, sudah memaksakan diri hadir di hidup Abang" ucapnya menunduk.
"Inilah kamu dek, setiap tindak tandukmu membuat Abang penasaran. Jangan lelah mencoba mencintai Abang karena kamulah masa depan Abang"
"Tapi Shila sudah kalah bang"
Agaknya ingatan Rival tadi mengganggu perasaan Shila, mungkin kalau bisa Rival jabarkan.. ada sedikit rasa cemburu di hati Shila.
"Kamu Nyonya Rivaldi Abang sekarang. Abang hak milik kamu seutuhnya.. paham!!" bujuk Rival.
"Ya sudah lebih baik kita mandi dulu" ajak Rival.
***
Shila membersihkan sprei yang kotor. Rival sungguh tidak tega melihat Shila masih dengan wajah sedihnya. Rival tergerak untuk mendekap Shila.
"Terima kasih ya dek, kamu rela menyerahkannya untuk Abang"
"Shila ikhlas bang" ucap Shila datar. Rival menghadapkan Shila ke arahnya. Shila memalingkan wajah tidak ingin menatap Rival.
"Apa masih sakit?" tanya Rival. Shila mengangguk dengan wajah bersemu merah yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Maaf Abang tadi main kasar, lain kali Abang akan lebih lembut"
Shila langsung menoleh ke arah Rival dengan wajah polosnya.
"Emang ada lagi bang???" tanya Shila.
Rival menepuk dahinya kuat.
Ya ampun.. kenapa semua istriku harus di privat khusus begini?????
"Kamu hidup di jaman apa dek???"
"Shila khan cuma anak petani miskin bang. Akses Shila terbatas. Kehidupan Shila hanya bertani" jawabnya.
"Tapi kamu sarjana dek!"
Shila tersenyum
"Shila menghabiskan waktu untuk bekerja sebagai petani. Shila bekerja untuk menghidupi diri sendiri sambil kuliah hingga tidak sempat mengenal dunia luar"
Rival memeluk erat Shila.
"Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada Abang disini"
"Terima kasih bang. Terima kasih kalau Abang mau menerima Shila di hidup Abang"
Rival tak sanggup menjawabnya, hanya belaian lembut menenangkan hati Shila sekaligus menenangkan hatinya sendiri.
.
__ADS_1
.