
Sekelompok orang mengikat tangan Rival dan enam anak buahnya. Sesaat setelah terjadi letusan, beberapa pihak pemberontak menculik mereka dan menyekapnya jauh di dalam hutan.
Batalyon sudah mendengar kabar hilangnya Rival dan anak buahnya. Danyon mengatakan agar berita ini di redam dulu agar tidak terjadi salah paham karena berita masih simpang siur. Belum ada info ketujuh orang itu dalam keadaan hidup atau mati.
"Jika dalam tiga hari pencarian tidak ada kabar tentang Kapten Rivaldi dan anak buahnya. Kita umumkan bahwa ketujuh pasukan kita telah gugur" perintah Danyon.
Arshen terpaku di tempat duduknya, ia tidak sanggup membayangkan adiknya akan menjadi janda, apalagi memikirkan nasib ketiga keponakannya. Ia mendesah berat.
"Biar saya ikut dalam team" usul Arshen.
"Saya juga mau ikut" imbuh Zein.
"Siapa perwira yang akan berjaga di Batalyon kalau semua pergi?" kata Danyon mulai bingung.
"Ijin menghadap Komandan.. Saya siap berangkat"
***
Seorang pria memakai topeng baru saja menghajar Rival, membuat Danki mereka terkapar penuh luka, lebam merata ke seluruh tubuh. Di sana terlihat seorang perempuan mengaduk sesuatu dalam ember besar.
"Berdirikan dia" perintah wanita itu.
Beberapa orang mengangkat tubuh Rival yang sudah memercing menahan rasa sakit. Perempuan itu menyiram perlahan cairan itu ke tubuh Rival. Cairan air garam di atas luka.
Rival mengerang kesakitan. Yang ada di pikirannya kini hanya, ia harus selamat agar bisa cepat pulang, anak istri menunggu di rumah dan tak ingin pulang hanya tinggal nama, tak ingin meninggalkan kesedihan untuk Shila maupun keluarga nya.
"Kapten Rival, kamu harus membayar semua yang kamu lakukan pada keluargaku" bentak wanita itu.
Pahamlah Rival kalau kini ia berhadapan dengan separatis yang pernah ia selesaikan saat yang lalu.
"Kau akan mati perlahan Kapten. Jika kau ingin selamat.. turuti perintah kami!!!" kata wanita itu membuka penutup wajahnya.
Astagfirullah hal adzim.. Lyla. Kenapa aku juga bisa memanggil anakku dengan nama Lila juga.
"Kau kaget Kapten????" tanya Lyla.
"Sudah biasa menghadapi perusuh bangsa seperti mu" jawab Rival.
Plaaakk...
Tamparan keras mendarat di pipi Rival.
"Aku akan membebaskan semua rekanmu, juga anak istrimu, dengan syarat" kata Lyla.
"Kau apakan anak dan istriku, jangan sentuh mereka"
__ADS_1
"Kita Lihat apa yang bisa kau lakukan Kapten"
***
Shila menjemput Arben di sekolahnya, mengajak Abrian juga Lila kecil. Mata Shila dari tadi memperhatikan mobil hitam di luar sana melihat ke arahnya, dari sana juga terlihat gelagat mencurigakan saat salah seorang di dalamnya menunjuk Arben.
Shila beranjak dari duduknya, ia menulis pesan di secarik kertas. Lalu menyerahkannya pada sopir sekolah Arben.
"Pak saya mohon, tolong bawa anak-anak saya ke alamat ini.. tolong serahkan surat ini pada mereka. Mereka pasti sudah tau apa yang harus di lakukan" kata Shila.
"Ada apa Bu?" tanya sopir itu dengan heran.
"Tolong saya saja pak. Tidak ada waktu untuk saya menjelaskan"
Pelajaran di sekolah TK Arben sudah usai. Shila berjalan seorang diri hingga tak sadar seseorang membekapnya dan membawanya pergi.
***
Lyla memberi video penculikan Shila. Amarah Rival begitu memuncak.
"Jangan sentuh anak istriku!!!!" Rival meronta disana.
"Tentu semua ada syaratnya kang! Lagipula Akang bisa berbuat apa?" kata Lyla yang masih berada di atas angin.
"Apa syaratnya???" tegas Rival yang ingin segera menyelamatkan Shila.
Rival terdiam masih menimbang semua perkataan Lyla. Karena terlalu lama Lyla menunjukkan rekaman anak buah Lyla yang sedang berdiri di atas tebing dan berniat mendorong Shila.
"Shilaaaa..." jantung Rival berdegup kencang, rasa cemasnya bukan main melihat nyawa istrinya yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaannya harus ikut menjadi korban.
"Cepat kang!!! Setuju atau tidak???????" teriak Lyla.
"Iya..iya..saya terima syaratnya" jawab Rival tegas seolah tanpa pikir panjang, tapi bukan main-main untuk seorang Rival jika sudah memutuskan sesuatu.
"Oke.. lepaskan suami saya" perintah Lyla.
"Untuk yang disana 'selesaikan' "
Rival merasa ada yang janggal dari perintah Lyla.
Di tempat Shila berada. Anak buah Lyla menjalankan perintah Lyla. Mendorong Shila ke dasar Lautan lepas.
***
Randy membaca surat dari Shila.
__ADS_1
Papa..mama.. Shila titip anak-anak Shila. Sesaat tadi ada yang janggal, Shila melihat plat nomor mobil ******** ada di depan sekolah. Jika Shila tidak kembali dalam waktu dua jam, tolong papa lapor di Batalyon untuk perlindungan anak-anak Shila. Tolong cari tau tentang Abang. Shila yakin Abang sedang ada masalah dalam tugas. Maaf Shila merepotkan papa dan mama.
***
Dua jam sudah berlalu, tidak ada tanda Shila datang. Randy menghubungi Reno, yang sebentar lagi juga akan pensiun. Ia mengabarkan berita tentang hilangnya Shila dan kasus hilangnya Rival.
Di Batalyon sudah ada rapat khusus untuk pencarian semua korban. Team gagak hitam kali ini di pimpin oleh Zein untuk mencari shila. Sedangkan black puma yang biasanya dipimpin oleh Rival kali ini dipimpin oleh Arshen. Setelah rapat sudah matang. Mereka berangkat.
***
Rival menurut keinginan Lyla untuk mengulur waktu, bahkan saat Lyla menginginkan untuk bermanja dengan nya pun ia turuti, asal Shila dan anak-anaknya tidak ada dalam masalah besar. Rival mengira anak dan istrinya sudah selamat.
Anak buah Rival sudah di bebaskan sesuai perjanjian mereka.
"Katakan pada Batalyon bahwa saya mati, saya di kubur dengan nama dan darah. Saya tidur beralas rotan!" katanya penuh dengan sandi.
"Heh.. apa yang Akang katakan" tegur Lyla.
"Nggak ada. Dia tetap anak buah saya. Tidak mungkin berkhianat. Benar khan?" Rival menegaskan.
"Siap!!!!" jawab mereka.
***
Keenam anak buah Rival telah kembali di batalyon. Gagak hitam pun telah kembali. Ibu Danki tidak di temukan, bahkan di dasar laut sekalipun.
"Kita berangkat di misi utama!" tegas Arshen.
***
Letak Rival berada sudah di temukan di tempat semula, hanya sedikit berpindah arah.
Arshen melihat Rival berada di dalam sebuah rumah kayu yang jendelanya terbuka. Ia melihat Rival di peluk seorang gadis dengan manja. Ia ingin marah, tapi ia pun tau bagaimana semua ini bisa terjadi.
Arshen mengendap, menikam semua musuh tanpa suara. Hingga ia bisa masuk di dalam kamar Rival dan Lyla.
"Apa nyaman sekali berduaan dengan seorang wanita???" tegur Arshen yang masuk lewat jendela. Ia melempar pistol ke tangan Rival.
Lyla kaget, berteriak minta tolong tapi anak buahnya tidak ada yang muncul.
"Tidak senyaman Shilaku" jawabnya.
Arshen tersenyum pahit. Ia belum sanggup memberi kabar buruk ini, bahwa Shila.. tidak ditemukan.
.
__ADS_1
.