
Shila berjalan kaki menuju rumah ibu Danyon. Perutnya belumlah besar tapi rasa letihnya mulai terasa. Shila menggandeng tangan Abrian dan Lilan yang mulai aktif.
"Kalau di rumah Ibu Danyon tidak boleh nakal ya! Duduk manis. Anak mama sama papa pintar khan!" pesan Shila.
"Iya ma" jawab Abrian dan Lilan bersamaan.
Samar dari jauh Rival bisa melihat Abrian dan Lilan berjalan tenang bersama Shila. Ada rasa nyaman yang tak terlukiskan. Shila ikhlas menerima semua kejadian dalam rumah tangga mereka dengan ikhlas.
eegghh...sshh..
Rival meremas dadanya yang mulai pagi tadi terasa sakit.
"Ada apa bang?" tanya Oka.
"Nggak apa-apa" senyum Rival menutupi rasa sakitnya.
"Abang satu bulan ini tidak check up kesehatan khan? Sepertinya Abang juga belum cerita apapun ke mbak Shila"
"Huussttt.. diam Oka!!!" tegur Rival.
"Kalau Shila sudah melahirkan baru Abang cerita. Sekarang Abang nggak tega. Bagaimana kalau dia jadi kepikiran dan kandungannya bermasalah"
"Ya sudah kalau itu keputusan Abang. Saya hanya khawatir kalau mbak Shila dengar dari orang lain" kata Oka.
"Asal tidak ada yang bocor, pasti aman lah"
"Ini ngomong-ngomong lusa kamu mau nikah tapi kenapa belum ambil cuti?" tanya Rival.
"Nggak apa-apa bang, biar agak panjang aja liburnya" jawab Oka.
-_-_-_-_-
Shila menghela nafas panjang. Bu Danyon menolak permintaan ijin dari Shila karena istri dari Kapten Rivaldi itu lumayan berbakat.
"Harus bilang sama Abang apa ya? Abang pasti kecewa" gumam Shila.
-_-_-_-
"Bagaimana hasilnya ma?" tanya Rival sambil menyuapi ketiga anaknya.
"Bu Danyon minta mama tetap aktif dan wajib membantu sebisanya asal tidak off dari organisasi" jawab Shila.
"Yang minta off dari organisasi itu siapa??? Papa hanya bilang mama ijin sementara waktu. Papa yang paling memahami kondisi mama. Amit-amit ya ma, kalau terjadi sesuatu sama mama, sama dedek dalam perut, siapa mau tanggung jawab???? Papa juga yang setengah mati kelimpungan" kesal Rival.
"Biar papa saja nanti yang bilang langsung ke Danyon" tegas Rival.
__ADS_1
"Ngaku sama papa!!!! Tiap ada kegiatan, hanya mama khan yang kerja, istri Danyon itu hanya main perintah tanpa mau tau keadaan anak buah????" Shila menunduk pasrah. Kalau sudah begini, Shila tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
Rival keluar dari ruangan Danyon dengan kesal. Sudah bisa di pastikan Danyon yang egois itu menolak permintaan Rival.
flashback on
"Kenapa Abang begitu egois? Istri saya sangat kesulitan di kehamilan keduanya. Istri saya sering pingsan, tidak tahan lelah. Saya saja suaminya tidak memberinya tugas yang berat, kenapa Abang malah ingin memforsir tenaganya siang dan malam" rasa kesalnya tak terbendung lagi.
"Val.. ada dua pilihan.. Dinas paling lama tiga bulan dalam misi khusus atau kamu berangkat dinas BKO lagi dan tidak menemani istrimu melahirkan. Kamu berangkat dinas, istrimu free di rumah"
Rival terdiam harus menentukan pilihan yang sulit dalam hidupnya.
"Terus terang istrimu pandai dalam segala hal. Kami butuh tenaga istrimu" Kata Danyon menunggu jawaban Rival.
Sebagai seorang suami sudah pasti ia tidak akan tega membiarkan istrinya yang dalam kondisi hamil harus bekerja di organisasi tanpa suami yang menemani. Sebenarnya BKO tidak terlalu berat, tapi jika harus mengorbankan waktunya untuk menemani Shila melahirkan, ia bukan pilihan seorang Rival.
"Saya pilih misi khusus" jawab Rival mantap.
"Itu melelahkan. Kamu tidak memikirkan jantungmu??" tanya Danyon.
"Asalkan bisa menemani istri saya melahirkan, saya tidak peduli lagi bagaimana jantung saya akan berdetak" Rival keluar tanpa memberi penghormatan pada Danyon. Danyon pun hanya santai saja menanggapi Rival.
flashback off
***
"Jangan. kamu khan nanti baru menikah" tolak Rival.
"Saya bisa menghabiskan Naura di lain waktu" kata Oka.
"Ini taruhannya nyawa" cegah Rival.
"Berhubung saya sudah jatuh cinta sama Abang, saya akan ikut kemana Abang pergi" ucap Oka sok imut mencairkan suasana yang ada.
"Ijin Danki, saya juga bersedia mendampingi Danki" Gandhi pun ikut serta.
"Kamu juga jatuh cinta sama saya????"
"Siap!!! Selain jatuh cinta, saya juga ingin memiliki Danki" wajah Gandhi di buat segenit mungkin bahkan bisa bermain mata dengan Dankinya.
"Astaga....gila kau ya!!! Saya masih doyan istri, nggak mau main sangkur sama kamu" Gerutu Rival membuat gelak tawa Oka dan Gandhi.
***
__ADS_1
Rival tidak bisa memejamkan mata, ia bingung dan penuh beban pikiran. Haruskah ia katakan pada Shila sekarang juga sedangkan Shila masih bermanja-manja menempel padanya sejak tadi.
Aku harus bagaimana Ya Allah.. Shila sangat membutuhkanku. Saat kelahiran Lilan.. aku meninggalkannya di hari kelima setelah persalinan. Apakah kali ini Shilaku harus merasakan kesakitannya sendirian lagi.
"Sayang.. Apa kamu siap kalau Abang pergi dinas khusus?" tanya Rival hati-hati.
"Kapan bang?" Shila nampak tegar tapi jelas terdengar suaranya yang berat.
"Minggu depan sayang"
"Berapa lama bang?" tanya Shila lagi.
"Paling lama tiga bulan" suara Rival terdengar sedih.
"Shila nggak apa-apa bang. Berangkatlah!!! Shila dan anak-anak akan baik-baik saja disini. Abang fokuslah kerja biar bisa cepat pulang"
"Maafin Abang ya, Abang tidak bisa sepenuhnya menemanimu" sesalnya menahan air mata yang sudah membendung ingin tumpah.
"Berapapun lamanya Abang pergi.. Shila akan setia menunggu Abang. asalkan Abang kembali untuk Shila dan anak-anak, utuh..tanpa halangan apapun"
"Insya Allah sayang"
-_-_-_-_-
"Apa bang??? Abang ikut misi khusus bersama bang Rival????" tanya Naura.
"Iya sayang, kamu harus terbiasa dengan pekerjaan Abang" bujuk Oka.
"Tapi Abang pergi dua hari setelah malam pertama kita" protes Naura.
"Abang Rival malah pergi satu tahun ke Kongo setelah akad nikah. Nggak pakai malam pertama dulu"
"Kenapa Abang Rival nggak mencuri waktu???"
"Kita laki masih waras yank. Masa iya mau tarung sama palang merah!!!"
Naura diam tidak bisa menjawab apapun lagi.
***
Hari ini adalah hari pernikahan Oka, ia benar-benar gugup. Ayah ibunya sudah sangat tua duduk ditemani om dan tantenya. Mereka hanya bisa menemani Oka beberapa hari saja. Minimal Oka berangkat dinas, mereka akan kembali lagi ke Jawa.
"Tidak perlu gugup begitu.. Setelah sah, hidupmu aman sebagai pria" kata Rival.
"Siap bang!!" Terlihat kegugupan Oka tidak dapat ia sembunyikan.
__ADS_1
.
.