Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
102. Kini aku mengerti


__ADS_3

"Abaang.."


Arben menutup laptopnya mendengar Lilan berteriak dari kamarnya. Arben langsung mendatangi adiknya itu. Begitu pun dengan Brian yang sedang makan langsung terhenti karena teriakan Lilan.


"Ada apa?"


"Ada yang chating Lilan" kata Lilan dengan girang.


"Siapa itu?" tanya Brian.


"Ini lho kak. Anak SMA sebelah" jawab Lilan.


"Nggak usah macam-macam. Genit.. kamu masih SMP" kata Arben.


"Lagi pula siapa yang mau sama anak cerewet, bodohnya nggak ketolong seperti kamu" gerutu Brian sambil berlalu ke meja makannya lagi.


"Adikmu kenapa?" tanya Shila lembut.


Brian tidak menjawab pertanyaan mamanya sampai Arben yang harus menyahut.


"Biasa ma, ke ge_er karena ada yang chating. Wajar.. ABG" jawab Arben. Arben melirik Brian yang semakin hari, semakin kehilangan rasa hormat pada Shila.


#


"Kamu kenapa setiap hari bersikap dingin sama mama?" tanya Arben saat mamanya pergi ke pasar.


"Mama tiri nggak bisa menggantikan ibu kandung bang" jawab Brian.


"Itu benar. Tapi kasih sayang mama untuk kita melebihi rasa sayang ibu kandung. Lihat pengorbanan mama untuk kita, waktu kamu sakit" kata Arben.


"Itu hanya menarik perhatian papa saja" ucap Brian begitu dingin.


"Jaga bicaramu Brian!!!!" Rival menegur putra keduanya.


"Brian sekarang sudah gede pa, sudah tau siapa mama Shila. Brian juga tau masa lalu mama" tegas Rival.


"Tau apa? Bicara yang benar!!!"


"Mama kabur meninggalkan Abang, Brian juga Lilan saat papa bertugas di perbatasan. Papa mau bohong?? Apa mama Shila juga penyebab meninggalnya mama Yara" tanya Brian.


"Astagfirullah..!! Briaaaaann!!!!" Rival sudah emosi tepat saat Shila datang.


"Sudah pa, nggak usah di perpanjang!" Shila memeluk sambil mengajak Rival yang baru pulang kerja untuk beristirahat.


#


"Maafkan Abang yang nggak bisa ngatur anak-anak sampai Brian bisa kehilangan rasa hormat sama kamu dek" kata Rival.


"Brian belum dewasa bang. Nanti dia akan tau dengan sendirinya"


"Abang nggak bisa terima kalau dia menghinamu seperti itu. Sebegitu kuat kah kamu sedangkan Abang sendiri rasanya nggak kuat mengingat masa lalu kita"


Shila mendekap erat suaminya. "Jangan di ingat lagi bang. Itu terasa sangat pahit dan menyakitkan untuk Shila. Hanya karena Abang saja, Shila bisa kuat" tak terasa hati Shila merasa sedih kembali mengingat masa lalunya beberapa tahun yang lalu.


Arben yang mendengar itu segera menemui Brian

__ADS_1


-_-_-_-


"Abang kecewa sama kamu. Tanpa kamu tau kejadian yang sebenarnya, kamu bisa menghakimi mama, menyakiti hati mama" tegur Arben di kebun belakang Batalyon.


"Dia bukan mama kita bang"


"Kita memang tidak terlahir dari rahim mama Shila, tapi mama Shila mempertaruhkan nyawa dan darahnya demi kita. Siapa yang lebih banyak mengajarimu akhlak, sholat dan mengaji? Siapa yang menyuapi mu? Siapa yang memasak makanan setiap hari untuk kita? Siapa yang bingung saat kamu sakit? Apa bedanya rasa itu seperti ibu kandung? Apa kamu pernah tidak disayang? Apa kamu pernah di pukul? pikir lah Bri.. Mama tidak pernah membuat mama Yara meninggal. Papa bertemu mama saat kamu berusia lima bulan" kata Arben menjelaskan.


"Sok tau kau bang, Shila itu wanita nakal"


plaaaaakk...


"Jaga bicaramu. Kali ini Abang tidak terima ucapanmu. Kamu nggak pernah tau apa yang mama dan papa alami. Abang harap kamu merenungi kesalahanmu. Mungkin jika mama kita bukan mama Shila. Hidup kita tidak akan pernah sebahagia ini" Arben meninggalkan Brian yang masih mengusap pipinya.


"Tanyakan pada Om Zein. Biar hatimu terbuka"


Arben berjalan menghapus air mata di sudut bingkai nya.


Keterlaluan kamu Brian. Abang akan menghajarmu kalau kamu sampai menyakiti mama.


***


Shila pulang dari sekolah Brian karena putranya sudah membuat ulah dengan memecahkan jendela kelas.


Shila sengaja tidak menceritakan semua ini pada Rival karena tau suaminya pasti akan sangat marah besar pada Brian.


Tak lama banyak para siswa berlarian dan saling serang. Ada tawuran di sekitar sekolah. Shila sempat melihat Brian disana. Brian terjebak dalam pertikaian antar sekolah. Beberapa dari siswa tersebut menghajarnya. Shila yang melihat putranya di serang tentu saja tidak tinggal diam.


Shila menerjang para siswa yang brutal lalu memeluk Brian, melindungi tubuh putranya dari amukan para siswa yang sedang terlibat tawuran.


"Jangan pukul putraku, Dia putraku" ucap Shila sambil terus mendekap Brian.


Brian bangkit dan melawan para siswa itu. "Jangan sentuh mamaku" teriaknya sambil menghajar siswa disana satu persatu.


-_-_-_-


Rival sesak dan lemas hingga tubuhnya harus di sangga Om Oka dan Om Rama saat melihat Shila harus koma dan kritis akibat terserang tawuran.


"Kalau sampai ada apa-apa sama mama. Papa nggak akan maafkan kamu Brian" ucapnya penuh dengan rasa marah.


"Maaf pa, Brian nggak sengaja" ucapnya dengan suara parau.


Lilan, Agata dan Imung sudah menangisi mamanya di dalam ruang perawatan Shila. Arben yang baru saja pulang test perwira segera berlari menghampiri mamanya.


"Mama mana pa??" tanya Arben dengan cemas. Rival tak sanggup menjawab pertanyaan putranya.


Mata Arben menatap Brian yang menunduk lemas tanpa bicara.


Arben mencengkeram kerah seragam sekolah Brian."Abang sudah bilang sama kamu Brian. Tak ada ikatan darah bukan berarti tak ada ikatan batin. Ibu tetaplah ibu Brian. Apa kurang jelas ucapan Abang??" bentak Arben.


"Brian nggak tawuran bang... Sungguh!!" kata Brian.


"Laki-laki itu yang di pegang ucapannya. Ingat itu" tegas Arben menghempas tubuh Brian hingga tersungkur.


"Jangan cemas pa, mama akan baik-baik saja" kata Arben menenangkan Rival.

__ADS_1


#


"Abang.. mama belum sadar juga" Isak tangis Lilan di dada Abang Arben.


"Berdoa!! Bukan malah menangis" kata Arben mengusap air mata Lilan.


"Abang.. Imung nggak mau mama mati"


"Eeiittss.. jagoan nggak boleh ngomong gitu. Mama istirahat aja. Capek karena kamu minta mainan terus" goda Arben mengalihkan suasana.


"Imung nggak minta mainan lagi. Mama mau mama bangun aja" kata Imung.


"Arben menggendong adiknya yang paling bungsu.


"Berdoa sama Abang, nggak boleh cengeng" kata Arben.


"Sini gendong sama Bang Brian" ajak Brian pertama kalinya. Sampai seusia itu baru kali ini Brian menggendong adiknya.


"Imung sayang Bang Brian" kata Imung.


"Abang juga sayang" kata Brian.


#


Brian memegang tangan Shila dan mencium tangan itu.


"Ma.. maafin Brian. Kasih Brian satu kesempatan lagi untuk membuktikan sayangnya Brian sama mama. Brian sayang sama mama. Brian mau mama sembuh. Maafin Brian ya ma" Brian menelungkup menangis sesenggukan. Tubuhnya bergetar pilu, menginginkan mama Shila sadar.


"Brian sayang mama" ucapnya berkali-kali.


"Mamaa"


Rival bersandar di dinding luar rumah sakit. Rasanya hatinya begitu takut.


Apa harus seperti ini jalan hidup kita sayang? Jangan pernah tinggalkan Abang ya. Abang sangat membutuhkanmu. Abang sudah pernah kesakitan kehilangan Yara. Jangan sampai kamu pun ikut pergi. Jangan sayang!! Abang nggak sanggup. Cepat sadar sayang!! Jika Abang boleh memohon.. Abang hanya ingin kamu selalu disisi Abang.


Sudah lebih dari dua belas tahun pernikahan Rival dan Shila, sudah tentu ikatan batin mereka sangat terasa kuat.


***


Rival melipat sajadahnya seusai sholat di kamar Rawat Shila. Sudah satu bulan. Istrinya belum sadar juga. Detak jantung Shila mulai melemah.


"Pak ini sudah satu bulan" kata seorang dokter.


"Terus bagaimana dok?" tanya Rival.


"Benturan di kepala memang sangat keras dan fatal. Semoga masih ada harapan ya pak" kata dokter.


#


Rival membelai rambut Shila yang sudah pada umurnya tidak ada uban disana. Bahkan wajahnya pun belum nampak keriput.


"Sayang.. ingatkah kamu saat pertemuan kita dulu??" tanya Rival menahan tangisnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2